x

5 Perpisahan Paling Menyedihkan dalam Kitab Perjanjian Lama

waktu baca 12 menit
Rabu, 8 Mar 2023 00:33 1486 Jandri Tumangger

Apa kesan yang pertama kali akan muncul dalam pikiran Anda ketika mendengar tentang perpisahan?

Sebagian orang, pikiran mereka akan dibawa mengingat pengalaman di waktu yang lalu ketika mengalami perpisahan.

Sesuatu yang sulit diterima ketika hal itu terjadi karena mengakibatkan luka bahkan trauma.

Namun kini sudah menjadi terbiasa dengan perpisahan itu karena ternyata waktu dapat menyembuhkan luka.

Sebagian perpisahan mungkin disengaja namun tetap saja, baik perpisahan yang disengaja atau tidak akan selalu menyebabkan kesedihan.

Baca juga: TUHAN TERINGAT

Anda sadari atau tidak, dalam hidup ini kita seolah dituntut untuk dapat mengucapkan selamat tinggal dengan tegar karena perpisahan dapat terjadi kapan saja dan kepada siapa saja.

Dunia kerja seringkali mempertemukan Anda dengan orang orang baru, namun pada saat yang sama dunia kerja juga yang akan memisahkan Anda dari mereka.

Anda mungkin pernah mengenal seseorang, Anda merasa bahwa dia orang yang tepat yang akan bersama Anda selamanya, namun ternyata harus berpisah. Dia yang dulunya nyaman di hati kini menyayat hati.

Baca juga: Love Is A Verb

Kita lupa bahwa sebagian orang datang untuk menggores luka, dan yang datang kemudian akan menyembuhkannya.

Orang tua tentu menyadari bahwa tidak selamanya mereka akan bersama dengan anak anak mereka, ada saat mereka harus merelakan nya pergi demi pendidikannya, bahkan demi hatinya kelak.

Dapatkah Anda membayangkan perpisahan seperti apa lagi yang akan terjadi hari esok?

Kita tidak tahu apakah ucapan selamat tinggal hari ini akan menjadi yang terakhir atau tidak.

Baca juga: Begini Cara Ilmuwan Membangkitkan Orang Mati

Berapa banyak orang yang mengucapkan selamat tinggal di pagi hari dan berharap akan kembali bertemu pada malam hari, tetapi ternyata pertemuan di pagi hari itu adalah yang terakhir.

Berikut ini 5 kisah perpisahan di dalam Alkitab yang mungkin saja tanpa kita sadari membawa pesan yang baik bagi kita hari ini.

1. Perpisahan Adam dan Hawa dengan Tuhan

Sejak diciptakan Adam dan Hawa diberi tempat terbaik di taman Eden, Mereka mendapat tugas untuk merawat taman itu “mengusahakan dan memeliharanya” (Kejadian 2:15).

Baca juga: Ini Dosa Pertama dan Terakhir Disebut di Alkitab

Di sana mereka dapat bertemu dan melihat Tuhan yang menciptakan mereka, hingga akhirnya pilihan mereka membawa dampak dan penyesalan terbesar dalam sejarah manusia.

Mereka melanggar perintah Tuhan, mereka memakan buah pohon yang sudah jelas dilarang untuk di makan. Akibatnya mereka harus rela berpisah dari Tuhan.

Berpisah dengan wajah yang penuh cahaya kemuliaan bagi orang yang benar, namun cahaya yang akan membinasakan orang jahat (1 Pet 3:12).

Baca juga: Aku Melihat Yesus

Mereka tidak lagi dapat mendengar suara yang lemah lembut bagi orang benar, namun suara yang akan membinasakan bagi orang berdosa (Ul 5;25).

Kejadian 3:23,24 “Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nya lah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.”

Sejak saat itu mereka tidak lagi dapat melihat dan bertemu dengan Tuhan yang maha Kudus itu.

Yang dapat mereka lakukan setelahnya adalah, mengenang kebersamaan itu dan saya yakin mereka pasti menceritakan pengalaman selama di taman Eden kepada anak anak mereka yang lahir.

Baca juga: Alasan Para Murid Yesus Berani Martir (bag 1)

Setiap kali mereka bercerita pasti wajahnya terlihat sangat antusias menceritakan betapa indahnya pengalaman hidup bersama dengan Tuhan.

Salah satu yang terinspirasi dari cerita mereka adalah Henokh, sampai ia memutuskan untuk hidup bergaul bersama dengan Tuhan dalam hidupnya (Kej 5:22).

2. Perpisahan Keluarga Nuh dengan Semua Orang

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana suasana ketika Nuh dan keluarganya masuk ke dalam bahtera yang sudah selesai dibangun diatas keheranan tersebut.

Baca juga: Alasan Para Murid Yesus Berani Martir (bag 2)

Ketika sekian banyak hewan yang juga masuk dengan teratur ke dalam perahu kayu itu.

Sementara setiap orang yang menyaksikan berbaris dan melihat dengan keheranan, apakah ada diantara mereka yang saling berbisik membicarakan apa yang mereka lihat.

Adakah yang melambaikan tangan sambil berteriak kepada Nuh dan berkata “Nuh selamat jalan” sambil tertawa?

Baca juga: Dengan Segenap Hati.

Mungkin ada juga yang berperan seperti seorang kondektur di terminal yang menawarkan penumpang untuk naik ke dalam alat transportasi itu namun dilakukan agar semua orang tertawa.

Atau mungkin ada juga yang tetap sibuk dengan pekerjaannya tanpa memperdulikan Nuh dan keluarganya yang sedang bergegas masuk ke dalam bahtera.

Tidak ada yang menyadari bahwa saat itu adalah kebersamaan terakhir mereka. Nuh sendiri hanya berjalan dengan iman.

Semua orang belum pernah mengetahui dan menyaksikan bagaimana hujan itu, bagaimana mungkin akan ada banjir.

Baca juga: 4 Penghalang Sehingga Doa Tidak Dijawab

Selama satu minggu setelah Nuh dan keluarganya berada di dalam bahtera hujan belum turun, mungkin masih ada yang datang ke sekitar perahu itu dan berteriak untuk mengejek dan menyuruh mereka turun saja.

Sampai akhirnya apa yang Tuhan firmankan itu terjadi.

Kejadian 7:10-12 “Setelah tujuh hari datanglah air bah meliputi bumi. Pada waktu umur Nuh enam ratus tahun, pada bulan yang kedua, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya”

3. Perpisahan Yakub dengan Ibunya

Kejadian 25;23 memberitahu situasi yang akan terjadi di waktu mendatang dalam kehidupan Esau dan yakub (anak Ishak dan ribka).

Baca juga: 7 Pengalaman Yakub Menunjuk Kepada Yesus

Dua anak ada dalam kandungan Ribka, mereka bertolak tolakan di dalam rahimnya.

Tentang hal itu Tuhan berfirman:

“Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.”

Waktu terus berjalan, kita mengetahui kisah ini dengan baik. Ketika Ishak sudah lanjut umurnya, matanya tidak lagi dapat melihat dengan jelas.

Baca juga: 6 Alasan Kita Harus Mempercayai Tuhan.

Ia merasa bahwa hari hari nya tidak lama lagi, ia memutuskan untuk memberkati anak anaknya.

Ia memanggil Esau dan menyuruh nya membuat masakan yang enak dan kemudian akan memberkatinya.

Singkatnya Ribka, sang ibu, yang lebih menginginkan agar berkat itu diberikan kepada Yakub mengatur rencana dan bekerjasama untuk menipu Ishak.

Hari itu, dengan mengira bahwa yang datang membawa masakan itu adalah Esau, Ishak memberkati Yakub.

Baca juga: Maut Menunggu

Mengetahui hal itu, Esau marah ia berusaha mencari cara untuk melampiaskan kemarahannya.

Belum sempat ia melampiaskan kemarahan nya kepada Yakub, Ribka menyuruh Yakub lari ke rumah pamannya Laban (saudara Ribka).

Ribka berpesan kepada Yakub agar untuk sementara ia menyingkir ke rumah pamannya itu, tinggal di sana beberapa waktu lamanya, jika amarah Esau sudah reda ia akan menyuruh orang menjemputnya dari sana.

Tidak ada pesan lain, alasan agar Yakub mencari istri dan tidak menikah dengan orang Kanaan adalah cara Ribka berbicara kepada Ishak agar ia dibiarkan pergi tanpa harus memberitahu bahwa Esau berencana membunuh Yakub.

Baca juga: TUHAN MENYESAL

Namun yang pasti, sejak saat itu Yakub tidak lagi bertemu dengan Ribka ibu nya.

Tentang kematian Ishak Alkitab menuliskan bahwa Esau dan Yakub menguburkan dia (Kej 35:29), namun tentang Ribka tidak disebutkan hal yang sama.

Tentu sangat menyedihkan, berpisah dengan ibu yang dikasihi, meninggal ketika berada di tempat yang jauh dan tidak dapat hadir untuk menghantarkannya ketempat pembaringan nya yang sementara.

Lebih dari dua puluh tahun kemudian ketika ia kembali ke rumah itu, ia tidak lagi dapat melihat ibunya.

Baca juga: SORGA DAN PEREMPUAN

Ia hanya dapat melihat setiap sudut rumah yang dipenuhi dengan kenangan yang masih melekat di pikiran.

Ibunya telah tiada. Sungguh suatu perpisahan yang mengakibatkan duka yang dalam.

4. Perpisahan Yusuf dengan Ayahnya

Hari itu Yakub menyuruh anak kesayangannya Yusuf untuk melihat keadaan saudara-saudaranya.

Pesannya hanya satu, “Pergilah engkau melihat apakah baik keadaan saudara-saudaramu dan keadaan kambing domba; dan bawalah kabar tentang itu kepadaku.”

Baca juga: 20 Ayat Alkitab, Kapan Harus Menutup Mulut (Diam).

Tidak ada pesan khusus yang lain, karena Yakub tentu tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketika kedatangan Yusuf diketahui oleh saudara saudara nya, mereka langsung menyusun rencana untuk membunuhnya (Kej 37:18).

Mereka menaruh dengdam terhadap Yusuf, karena ayah mereka lebih mengasihi nya dan cenderung memperlakukan dia lebih istimewa dibanding yang lain.

Ditambah mimpi yang selama ini ia ceritakan yang dianggap merendahkan kakak kakaknya bahkan orang tuanya.

Baca juga: Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit.

Mereka berencana membunuhnya namun karena niat baik Ruben yang ingin menyelamatkan nya dia hanya dilemparkan ke dalam sumur.

Namun kemudian Yehuda mengusulkan agar ia dijual saja kepada kepada orang Ismael yang melintas ketika itu.

Dengan jalan itu, dalam keadaan tangan terikat ia diserahkan kepada para saudagar yang kemudian membawanya ke Mesir.

Kemungkinan ia berjalan dibelakang rombongan itu, menerima keadaannya. Apakah ia mencoba melawan atau tidak saya tidak tau.

Baca juga: Cinta Pada Pandangan Pertama

Sesekali tentu ia menoleh ke belakang, melihat ke arah tempat kediaman nya yang semakin lama semakin hilang dari pandangan nya.

Dengan sedih ia tentu merasa bahwa kehadiran nya tidak diinginkan di tengah tengah keluarga nya.

Situasi paling menyedihkan dalam hidup adalah ketika keberadaan Anda tidak diinginkan. Itu dialami oleh Yusuf.

Saya tidak dapat membayangkan mengapa mereka tega menjual saudara sendiri, sebesar apakah kemarahan mereka kepada Yusuf sampai berencana untuk membunuh nya.

Baca juga: 5 Kisah Cinta Pada Pandangan Pertama di Alkitab

Ketika akhirnya Yakub tidak melihat anak kesayangannya pulang bersama kakak kakaknya, apakah yang terjadi dengannya?

Yang ia tahu bahwa anaknya diterkam binatang buas, betapa sedih hatinya karena merasa kematian anaknya tidak wajar.

Ia tidak pernah tahu dan mungkin tidak berharap akan bertemu anak kesayangannya lagi.

Mungkin saja ia menyesal ketika menyuruh Yusuf pergi melihat saudara saudaranya.

Baca juga: 6 Alasan Mengapa Berdoa Dalam Nama Yesus.

Ia ingin memperoleh kabar tentang anaknya, namun ia justru kehilangan kabar tentang anak yang dikasihinya.

Baginya perpisahan itu mengerikan, ia berpisah dengan seorang yang sangat ia sayangi tanpa direncanakan.

5. Perpisahan Daud dengan Mikhal

Mikhal adalah istri pertama Daud, ia anak raja Saul.

Sejoli ini menikah karena cinta, namun permainan politik dan kekuasaan Saul yang adalah raja Israel pertama ketika itu membuat mereka berpisah.

Baca juga: Cerita Cinta di Tengah Permainan Politik dan Kekuasaan…

Saul mengijinkan putrinya untuk dinikahi oleh Daud bukan karena alasan yang baik.

Akan tetapi Saul ingin agar Mikhal menjadi jerat bagi Daud, agar Saul dapat membunuhnya.

Berulang kali Saul mencoba membunuh Daud namun selalu gagal.

Rencana itu bahkan diketahui oleh putrinya Mikhal, bahwa ayahnya sendiri berencana untuk membunuh suaminya.

Suatu malam ketika Mikhal mengetahui bahwa ayahnya akan mengutus orang untuk membunuh Daud, ia menyuruh Daud untuk melarikan diri.

Baca juga: 5 Praktek suap di dalam Alkitab dan 3 cara ampuh menghindarinya.

Karena cintanya ia tidak ingin Daud terbunuh. Malam itu menjadi pertemuan terakhir bagi mereka.

Daud melarikan diri, menjauh dari Mikhal. Demi keselamatan, dan tanpa janji atau rencana untuk bertemu lagi ia meninggalkan istrinya.

Yang terjadi kemudian adalah, Mikhal dinikahkan dengan Paltiel anak Gais, dan Daud menikah dengan Abigail dan Ahinoam.

Kita tentu tidak dapat membayangkan situasi itu, kita mungkin bertanya apakah tidak ada cara lain untuk dapat lolos dari penyergapan malam itu tanpa Daud harus lari dan berpisah dengan Istrinya?

Baca juga: 3 Cara Mengatasi Rindu Menurut Alkitab.

Atau mengapa mereka tidak membuat janji untuk bertemu di suatu tempat yang hanya mereka berdua yang mengetahuinya?

Informasi yang kita miliki terbatas mengenai hal itu, namun demi keselamatan bersama jalan itu harus mereka tempuh.

Daud berpisah dengan istri yang berani menikah dengan nya setelah kegagalannya menikahi kakaknya Merab, dan Mikhal berpisah dengan suami yang berani dicintai nya di tengah permainan politik dan kekuasaan ayahnya.

Baca juga: 6 Fakta Tentang Harun yang Harus Diketahui

Ketika membaca beberapa adegan perpisahan dalam Alkitab, kita menemukan beberapa adegan sangat emosional.

Beberapa diantara mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah perpisahan terakhir mereka dan sebagaimana umumnya, perpisahan itu sangat sedih dan tragis.

Alasan Mengapa Perpisahan Mengakibatkan Kesedihan

Tahukah Anda mengapa perpisahan (terutama karena kematian) selalu menimbulkan kesedihan?

Baca juga: 2 Jenis Penyesalan di Alkitab

Kitab Pengkhotbah memberi jawaban atas situasi ini:

Pengkhotbah 3:11 “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”

Rencana awal Tuhan adalah agar manusia ini menikmati kehidupan kekal, tidak ada perpisahan.

Akan tetapi sesuatu terjadi tanpa direncanakan, dosa hadir dan mengubah rencana yang indah itu.

Baca juga: 2 Cara Tuhan Memberi Tanda

Kematian hadir sebagai akibat dari dosa, perpisahan pun terjadi.

Hati yang tadinya dirancang untuk menikmati kekekalan kini dihadapkan dengan perpisahan, maka kesedihan hadir sebagai respon atas situasi itu .

Cara Agar Siap Menghadapi Perpisahan

1. Akui Bahwa Perpisahan Itu Menyakitkan

Apa pun alasan perpisahan itu, kesedihan turut hadir bersamanya.

Tuhan menciptakan kita untuk bersama, dan ketika perpisahan merusak kebersamaan kita, kita bersedih.

Kita rindu kebersamaan. Namun kita harus bisa menerima perpisahan.

Baca juga: 2 Perayaan Ulang Tahun Berujung Malapetaka. Bagaimana Merayakan Ulang Tahun?

Sebagai orang percaya, kita berdiri dalam barisan panjang orang beriman yang akan bersedih karena perpisahan.

Namun, kita bersedih dengan harapan dan pengetahuan bahwa kelak jika kita setia Tuhan akan mengaruniakan kebersamaan kekal itu bagi kita.

2. Selalu Tinggalkan Kesan yang Baik

Segala kemungkinan dapat terjadi. Suatu waktu Anda ditinggalkan, di lain kesempatan mungkin Anda yang meninggalkan.

Baca juga: 5 Cara agar Anda Mampu Mengatasi Patah Hati

Apapun itu, buatlah kesan yang baik kepada setiap orang yang Anda temui.

Ketika Anda sudah melakukan yang terbaik, maka Anda sudah siap kapanpun perpisahan itu akan terjadi.

3. Akhiri Pertemuan dengan Doa

Perpisahan terbaik ditandai dengan doa. Saat-saat berdoa seperti itu membantu kita memfokuskan pandangan kita dengan mata yang berkaca-kaca pada Kristus, yang berjalan di depan kita.

Dua ribu tahun yang lalu di pantai Siria, sekelompok murid menghormati perpisahan dengan berdoa (Kis. 21:5–6).

Baca juga: 4 Cara menyikapi penolakan

Setelah tujuh hari persekutuan yang manis, Paulus harus mengucapkan selamat tinggal lagi saat dia melanjutkan perjalanan misionarisnya yang ketiga.

Dia tidak segera meninggalkan mereka dengan memberikan lambaian tangan, dengan Berlutut di pantai, mereka berdoa lalu kemudian mengucapkan selamat tinggal (Kisah 21:5).

4. Menyadari dan Menerima Realita Hidup

Pengkhotbah 3 memberikan gambaran mengenai realita hidup di dunia ini.

Baca juga: Pelajaran penting dari garam menjadi Tawar.

Pengkhotbah 3:1 “Untuk segala sesuatu sudah terjadi, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada yang lahir, ada yang meninggal, ada yang untuk menanam, ada yang mencabut yang ditanam;”

Jika memang realita hidup menghadapkan kita dengan perpisahan, terimalah itu sebagai awal baru dari kisah yang akan hadir selanjutnya.

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Anjuee
    2 tahun  lalu

    Terima kasih Pak Pendeta 🙏🏻

    Balas

Ikuti Saya

Vlog

LAINNYA
x