x

Dosa Pertama dan Terakhir yang Disebut di Alkitab

waktu baca 7 menit
Rabu, 22 Feb 2023 21:31 1618 Jandri Tumangger

Jika seluruh isi Alkitab di rangkum menjadi satu kalimat,

maka seluruh nya adalah cerita mengenai “Kisah Kasih Allah Yang Maha Besar, Terhadap Dunia yang Maha Besar Dosanya”.

Kekristenan meyakini bahwa untuk pertama kali dosa terjadi di dunia ini adalah di Taman Eden.

Ketika manusia pertama itu tidak menaati Tuhan untuk tidak memakan buah pohon terlarang (pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat) maka sejak saat itu manusia hidup berdampingan dengan akibat dosa yang semakin merajalela.

Baca juga: 6 Alasan Kita Harus Mempercayai Tuhan.

Dosa yang Pertama Kali Disebutkan di Alkitab

Akan tetapi sadarkah kita bahwa tindakan Adam dan Hawa dalam memakan buah pohon larangan bukanlah dosa yang pertama kali di sebutkan di dalam Alkitab. Itu adalah yang kedua disebutkan.

Dosa yang pertama kali disebutkan adalah ketika iblis “berbohong /dusta” (Kejadian 3:4) kepada Hawa dengan mengatakan, kamu tidak akan mati jika kamu makan buah itu.

Baca juga: TUHAN MENYESAL

Mungkin Anda akan berkata, apa kebohongan yang setan (melalui ular) lakukan di Taman Eden? Jika yang Anda maksud adalah Kejadian 3:4 “Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,”

Bukankah apa yang disampaikan nya adalah sama dengan rencana awal Tuhan kepada manusia, yakni agar manusia itu hidup kekal atau “tidak akan mati”?

Nyatanya juga bahwa Adam dan Hawa tidak mati seketika mereka memakan buah itu.

Baca juga: Cerita Cinta di Tengah Permainan Politik dan Kekuasaan…

Jadi begini, jika Alkitab dibaca dengan seksama maka kita akan menemukan bahwa apa yang setan tawarkan kepada Hawa memang sama dengan rencana Awal Tuhan.

Mari kita perhatikan perkataan iblis kepada Hawa dalam Kejadian 3:4,5

“Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, (5) tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

Baca juga: Aku Melihat Yesus

Setan katakan kamu tidak akan mati, rencana awal Tuhan memang agar manusia itu berketurunan dan hidup selama lamanya, tidak ada kematian dalam rencana itu (Kejadian 1:28).

Setan katakan kamu akan menjadi seperti Allah, rencana awal Tuhan memang manusia itu diciptakan segambar dengan rupa Allah (Kejadian 1:26).

Kita perlu memahami dua hal berikut ini:

Pertama, walau Adam dan Hawa tidak mati pada saat itu, namun begitu mereka makan buah dari pohon itu, proses kematian mereka dimulai.

Lagi pula ketika Tuhan mengatakan bahwa engkau akan mati, kematian yang Tuhan maksudkan bukanlah kematian karena usia yang sudah tua, penyakit atau kecelakaan.

Kematian yang Tuhan maksud adalah kematian di dalam Roma 6:23 yaitu upah dosa (Kematian Kekal).

Jika mereka tidak bertobat maka penggenapannya nanti ketika selesai masa seribu tahun bukan seketika itu di Taman Eden saat firman itu disampaikan.

Kedua, walaupun apa yang ditawarkan setan sama dengan rencana awal Tuhan, namun dengan menerima tawaran setan pada saat yang sama mereka sedang menentang Tuhan, dengan kata lain justru mereka tidak sedang menjadi seperti Allah.

Baca juga: Alasan Para Murid Yesus Berani Martir (bag 1)

Dosa yang Terakhir Kali Disebutkan di Alkitab

Kitab Wahyu adalah buku terakhir dalam Alkitab, jika diperhatikan buku ini juga berbicara mengenai akhir dari dunia ini.

Wahyu 22: 14 menulis tentang kedatangan Tuhan yang akan membawa upah kehidupan bagi mereka yang membasuh jubahnya dalam darah Anak Domba (7:14).

Pada saat yang sama kedatangan Tuhan itu juga membawa upah bagi orang orang yang berdosa. Dan dosa terakhir yang disebutkan di ayat 15 adalah “Dusta / Kebohongan”.

Baca juga: Sang Bait Suci

Wahyu 22:15 “Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar.

Tampaknya dusta atau kebohongan secara konsisten dan serius diamarkan di dalam Alkitab.

Tiga alasan mengapa berbohong perlu mendapat amaran yang konsisten dan serius.

Baca juga: SORGA DAN PEREMPUAN

1. Berbohong dan Pembohong Dibenci Tuhan dan Akan Dihukum.

Amsal 6:16-17 “Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah,

“Orang yang dusta bibir adalah kekejian bagi Tuhan” (Amsal 12:22).

“Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, dan orang yang menyemburkan kebohongan tidak akan luput” (Ams. 19:5, bdk. 19:9).

Baca juga: Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit.

Bahkan di akhir Alkitab pembohong dijamin akan mendapat hukuman kekal.

“Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.” ( Wahyu 21:8).

Bila ada yang pernah berfikir bahwa berbohong bukanlah dosa yang serius, mereka hanya perlu membaca ayat ayat di atas ini untuk melihat betapa seriusnya Tuhan memberi amaran untuk dosa ini.

Baca juga: 5 Cara agar Anda Mampu Mengatasi Patah Hati

Orang lain mungkin dapat Anda tipu dengan kebohongan Anda, tapi Anda tidak mungkin menipu Tuhan yang melihat semua yang Anda lakukan.

2. Berbohong Merusak Kepercayaan dan Merusak Hubungan.

Ketika Anda berbohong, Anda merusak hubungan dengan orang yang Anda bohongi.

Sekalipun orang tersebut tidak sadar, Anda sekarang tahu ada sesuatu yang rusak di antara Anda berdua.

Jika kebohongan sudah menjadi kebiasaan Anda, lalu kemudian pada akhirnya itu akan terdeteksi, itu akan menempatkan Anda pada posisi yang tidak menguntungkan karena orang lain tidak akan mempercayai Anda lagi.

Baca juga: 2 Cara Tuhan Memberi Tanda

Semua yang Anda katakan sekarang perlu diperiksa dan diperiksa ulang keakuratannya.

Ini bukan karena mereka kasar terhadap Anda atau sadis, melainkan karena mereka sekarang membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata Anda untuk meyakinkan mereka tentang apa yang benar.

Reputasi Anda telah rusak, bahkan hancur. Mungkin dari waktu ke waktu kepercayaan dapat dibangun kembali melalui pertobatan dan pola baru kejujuran yang dapat dibuktikan.

Tetapi proses ini dapat menyakitkan dan seringkali tidak pernah sepenuhnya memulihkan kepercayaan terhadap Anda.

Baca juga: 666

Coba pikirkan hal ini dalam konteks hubungan orang tua dengan anak, suami dengan istri, bos dengan karyawan, atau hubungan lainnya.

Banyak bos/majikan akan bersabar terhadap suatu kesalahan ketika seorang karyawan lambat dalam belajar, melakukan kesalahan, atau menunjukkan kelemahan lainnya.

Tetapi sebagian besar pemberi kerja tidak memiliki toleransi untuk seseorang yang suka berbohong.

Baca juga: 5 Pengalaman Abraham Menunjuk Kepada Yesus

3. Berbohong Mengeraskan Hati Anda dan Membuat Anda Lebih Rentan untuk Berbuat Dosa Lain.

Begitu kita mengetahui bahwa kita dapat menyembunyikan dosa dari orang lain dengan berbohong, maka kita sedang menghilangkan ukuran keamanan moral yang penting dalam hati nurani kita.

Kemudian, begitu kita berani melewati ambang batas hati nurani untuk berbohong demi menutupi dosa-dosa kita, kita membuat diri kita jauh lebih rentan terhadap segala macam dosa yang lain.

Baca juga: 15 Pengalaman Ishak Menunjuk Kepada Yesus

Kita berfikir, selama tidak ada yang melihat kita berbuat dosa, tidak ada bukti yang tertinggal untuk mengungkap dosa kita, kebohongan akan menyempurnakannya, dan kita akan merasa “aman” untuk mengulangi nya.

Ketika kita mulai berpikir seperti ini, kita lupa bahwa Tuhan mengetahui dan melihat semua yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan.

Baca juga: 4 Pengalaman Daud Menunjuk Kepada Yesus.

Apa yang kita bayangkan sebagai tindakan dosa yang “aman”, dan ditutupi oleh kebohongan kita, sebenarnya hanyalah seperti semen yang di beri air, dan lama kelamaan akan mengeraskan hati kita,

Roma 2:5 ”Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan.

Yesus tahu apa yang dia bicarakan ketika dia menyebut iblis “pendusta dan bapa segala dusta” (Yohanes 8:44).

Jika Anda menemukan bahwa Anda terjebak dalam jaring penipuan iblis ini, ada harapan bagi Anda

Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa untuk bertobat” (Lukas 5:32).

Jadi, bertobatlah! Katakan yang sebenarnya, tidak hanya kepada Tuhan, tetapi kepada siapa saja.

Kita mungkin tidak akan pernah benar-benar bebas dari kegagalan dalam hidup ini, tetapi satu hal yang dapat kita bebaskan dari diri kita adalah kebiasaan berbohong.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikuti Saya

Vlog

LAINNYA
x