x

LOVE IS A VERB

waktu baca 6 menit
Jumat, 24 Feb 2023 17:55 644 Jandri Tumangger

Kalimat “Love is a verb” lebih di kenal lewat judul lagu John Mayer yang di rilis tahun 2012.

Lirik lagu ini menceritakan bahwa kasih adalah sesuatu yang harus dilakukan bukan sekedar dikatakan.

Itu bukanlah sekedar kata kata yang diteriakkan, itu bukan sekedar benda yang hanya untuk dimiliki.

Itu bukan apa yang digambarkan oleh TV tetapi apa yang Alkitab bicarakan, yang Tuhan tunjukkan kepada kita terutama dalam tindakan-Nya.

Baca juga: Buah Roh ialah Kasih.

Kasih sering dibicarakan di sekitar kita, di lingkungan kerja maupun lingkungan gereja.

Tetapi apakah kita benar-benar memahami betapa berbedanya gagasan kasih yang alkitabiah dengan gagasan dunia di sekitar kita?

Seringkali perbedaan suku, agama dan ras menjadi alasan yang mempersulit kita untuk memahami bagaimana kita mengasihi dengan cara yang alkitabiah.

Baca juga: Alasan Para Murid Yesus Berani Martir (bag 2)

Rasul Paulus berbicara dengan sangat jelas mengenai kasih di dalam 1 Korintus 13.

Ada tiga bagian utama yang ditekankan dalam 1Korintus 13:

Pertama adalah tentang perlunya kasih (ayat 1-3), kedua adalah definisi kasih (ayat 4-7), dan ketiga adalah tentang keabadian dan keunggulan kasih atas hal-hal rohani lainnya (ayat 8-13).

Paulus mendefinisikan kasih sebagai perilaku pengorbanan diri.

Baca juga: Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit.

Sadarkah kita bahwa dari apa yang disampaikan ini kasih sama sekali tidak berbicara sekedar mengenai perasaan melainkan tindakan.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (ayat 4-7).

Kasih Allah bagi kita tidak dimotivasi oleh keindahan atau kehebatan kita.

Itu memang adalah sifat-Nya. Itu muncul dari keberadaan-Nya, berasal dari diri-Nya sendiri.

Baca juga: Aku Melihat Yesus

Di dunia ini, kita cenderung mencintai seseorang karena alasan.

Karena orang tersebut memiliki sesuatu yang kita rasa dapat kita cintai.

Sesuatu yang kita rasa akan menguntungkan, menyenangkan dan membanggakan kita.

Tuhan memanggil kita untuk melakukan jenis cinta yang Ia miliki, cinta yang tidak bergantung pada siapa yang kita cintai.

Baca juga: SORGA DAN PEREMPUAN

Dunia saat itu, didominasi oleh pola pikir Romawi/Yunani, cinta pengorbanan diri seperti itu tidak dianggap rasional dan tidak dihargai sama sekali.

Semua perbuatan baik dan pengorbanan dapat dipraktekkan oleh orang-orang kafir, tetapi sifat ilahi dari kasih yang dijelaskan Paulus adalah sesuatu yang orang Kristen hanya dapat miliki oleh Roh Kudus yang memampukan kita untuk memiliki nya.

Itulah yang membuat kasih adalah satu-satunya karakteristik pembeda bagi orang Kristen.

Baca juga: 5 Pengalaman Abraham Menunjuk Kepada Yesus

Alkitab menyajikan kasih sebagai tindakan yang tidak bergantung pada perasaan.

Seluruh pola pikir Alkitabiah menunjukkan bahwa perasaan bukanlah hal yang penting dalam segala hal yang kita lakukan.

Alkitab, lebih jauh mengatakan bahwa beberapa perasaan harus diatasi agar tidak mengganggu dan tidak mempengaruhi tindakan kita (cth, Mat 5:21-22, 6:31-32).

Baca juga: 3 Cara Mengatasi Rindu Menurut Alkitab.

Untuk benar-benar memahami apa yang Alkitab katakan tentang kasih kita harus membacanya sebagaimana yang Alkitab maksudkan, bahwa ‘kasih’ adalah kata kerja bukan sekedar perasaan.

Bagaimana kita menghadapi kenyataan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita biasanya menggunakan kata ‘kasih’ untuk menggambarkan suatu perasaan, padahal kita membaca kata ‘kasih’ dalam Alkitab yang hanya merujuk pada tindakan?

Sama seperti iman yang ditunjukkan dalam tindakan, demikian pula kasih ditunjukkan dalam tindakan; tindakan-tindakan yang menunjukkan buah-buah Roh, karakter Yesus.

Baca juga: 5 Cara agar Anda Mampu Mengatasi Patah Hati

Contoh Nyata Love Is A Verb

Alkitab tentu menceritakan kisah Nyata mengenai kasih yang dilakukan bukan sekedar dipikirkan atau dirasakan.

Yohanes 3:16 menjadi dasar bagi kita mengakui bahwa kasih Allah itu adalah sebuah Tindakan.

Namun adakah contoh kasih sebagai sebuah tindakan nyata dalam dunia kita yang sekarang ini?

Sekitar sembilan tahun yang lalu berita pembunuhan seorang gadis Bernama Ade Sara (19) menggemparkan masyarakat Indonesia.

Baca juga: 4 Cara menyikapi penolakan

Ia dihabisi oleh mantan kekasihnya (19) dengan alasan karena sakit hati. Jasadnya kemudian dibuang di pinggir jalan tol Bintara, Bekasi, Jawa Barat, dan ditemukan pada 5 Maret 2014.

Peristiwa ini tentu sangat menyakitkan bagi orang tua Ade Sara (Suroto dan Elisabeth), mereka harus rela kehilangan putri semata wayang mereka.

Tanpa harus bertanya kepada orang tua korban kita yakin bahwa mereka pasti sangat marah terhadap pelaku.

Baca juga: 15 Pengalaman Ishak Menunjuk Kepada Yesus

Apalagi mereka mengetahui bahwa yang melakukan nya adalah orang yang pernah sangat dekat dengan putri mereka yakni mantan kekasihnya Ahmad Imam Al Hafitd, bersama sang pacar barunya, Assyifa Ramadhani.

Namun tampaknya Suroto menyadari bahwa satu satunya yang harus dia lakukan adalah memaafkan mereka.

Dalam liputan yang dilakukan, Suroto (ayah korban) mengatakan:

“Di ajaran agama kami, berdamai itu harus memberi pengampunan kepada mereka (Hafitd dan Assyifa), Dengan seperti itu, kami seperti melepaskan rasa benci kami kepada mereka. Dengan melepaskan, memang penderitaan dan kedukaan itu masih ada, tapi cara pandang kami menghadapi kedukaan itu menjadi berbeda. Serasa lebih ringan.”

Akhirnya tersangka dijatuhi hukuman kurungan seumur hidup.

Baca juga: Alasan Para Murid Yesus Berani Martir (bag 1)

Sebagai wujud nyata pemberian maaf itu, orang tua Ade Sara pun sampai menemui pembunuh anak mereka di penjara.

Beberapa kali Suroto dan Elisabeth berusaha untuk menemui pelaku namun mereka selalu menolak untuk bertemu dengan alasan tidak sanggup untuk menemui mereka.

Hingga suatu kali di tahun 2016, Suroto dan Elisabeth kembali ke rutan Salemba untuk menemui mereka.

Baca juga: 4 Pengalaman Daud Menunjuk Kepada Yesus.

Elisabeth meminta petugas untuk meyakinkan agar mereka mau keluar.

Setelah menunggu 4 jam lamanya akhirnya pelaku bersedia menemui kedua orang tua yang malang ini.

Setelah pertemuan pertama itu, orang tua korban masih juga sering mengunjungi pelaku di penjara.

Bahkan Suroto dan Elisabeth juga sampai saat ini masih menjalin hubungan baik dengan keluarga pelaku.

Baca juga: TUHAN MENYESAL

Satu hal yang sangat penting disampaikan oleh Suroto dalam sebuah liputan yang menjadi pesan kepada setiap orang yang mengikuti perkembangan berita ini adalah:

“Mungkin orang lain melihatnya aneh, keluarga korban dan pelaku saling bertemu. Tetapi, ajaran kami mengajarkan bahwa kasih bukan kata sifat, tetapi kata kerja. Harus dikerjakan agar ada artinya.”

Jika mengasihi harus dengan alasan, maka Suroto dan Elisabeth tidak memiliki alasan untuk mengasihi pembunuh anak mereka.

Baca juga: Sorga

Jika mengasihi tergantung kepada siapa orang yang kita kasihi, maka Hafitd dan Assyifa Ramadhani bukanlah orang yang layak menerima kasih dari Suroto dan Elisabeth.

Suroto dan Eisabeth memahami betul, mereka harus melawan perasaan mereka agar kasih itu dapat menguasai diri mereka, lalu kasih akan menjadi tindakan. Dan itu terjadi.

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yohanes 15:9-14).

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikuti Saya

Vlog

LAINNYA
x