Terimakasih untuk semua orang yang selalu berupaya hadir di setiap rumah yang mengalami duka.
Anda sementara bersedia meninggalkan kesenangan dan urusan yang lain dan memilih untuk datang ke tempat duka untuk memenuhi panggilan firman Tuhan yang mengatakan lebih baik berada di rumah duka daripada di rumah pesta (Pengkhotbah 7:2).
Kita harus sangat jeli dan berhati hati ketika membaca firman Tuhan di dalam Pengkhotbah 7:2 ”Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah duka lah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.
Baca juga: Aku Melihat Yesus
Pertanyaannya, Apa yang harus diperhatikan dan mengapa harus diperhatikan? Banyak orang salah dalam memperhatikan sesuatu ketika pergi ke rumah duka.
Biasanya yang diperhatikan adalah apakah yang datang ramai atau tidak, apakah peti yang digunakan yang mahal atau tidak, apakah si A datang atau tidak.
Hal hal yang seharusnya tidak diperhatikan menjadi diperhatikan.
Baca juga: Hal Baik dari Kematian?
Jika demikian, apa yang seharusnya diperhatikan?
Mari kita baca ayat ini dalam terjemahan lain “Lebih baik pergi ke rumah duka daripada ke tempat pesta. Sebab kita harus selalu mengenang bahwa maut menunggu setiap orang.” (BIS)
“Layat ing panggonané wong mati kuwi luwih becik ketimbang nekani pésta, sebab wong urip rak selawasé ngélingaké awaké dhéwé yèn mbésuk bakal mati.” (Jawa)
Baca juga: 2 Jenis Penyesalan di Alkitab
Menurut ayat ini, apakah yang harus diperhatikan? Kemalangannya, mengapa harus diperhatikan? Karena kita pun mungkin akan mengalaminya. Maut sedang menunggu.
Oleh karena kita pun akan mengalaminya maka kita harus menyadari bahwa selagi waktu masih ada, selama masih dapat menikmati nafas kehidupan mari kita melakukan yang terbaik.
Baca juga: TUHAN MENYESAL
Dalam hidup yang Tuhan percayakan ini saya sudah menyaksikan banyak sekali kematian, hingga Tahun 2007 saya sendiri merasakan kedukaan karena kematian ayah saya.
Bisa saja suatu waktu kelak saya sendiri yang akan mengalami kematian, untuk itu saya pun harus menjadi orang yang “memperhatikan” ketika terjadi kematian.
Kita semua yakin bahwa mereka yang mendahului kita beristirahat sudah berupaya melakukan yang terbaik bagi semua orang.
Bagi suami jika yang meninggal itu adalah istri dan sebaliknya, bagi anak, cucu, menantu, bagi dirinya sendiri, dan terutama sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk Tuhan yang dipercayainya.
Lalu bagaimana janji Tuhan kepada orang orang yang beristirahat atau mengalami tidur panjang?
Baca juga: Apakah Bait Suci Yahudi Masih Ada?
Suatu kali Yesus harus berhadapan dengan suasana dukacita karena sahabatnya meninggal yaitu Lazarus (Yohanes 11), ada realita yang terjadi waktu itu dan sampai sekarang juga masih terjadi dalam suasana kedukaan, yaitu:
Ada peratap yang berada di jalan jalan (Pengkhotbah 12:5), ada peratap yang memilih menyendiri.
Para pelayat yang datang untuk ber empati menjadi penghiburan bagi keluarga yang mengalami kedukaan.
Jadi kita tidak perlu datang dengan pemberian yang mewah mewah untuk menghibur, kehadiran kita saja pun sudah menjadi penghiburan.
Kondisi seperti inilah yang Yesus dapati ketika Ia datang ke Betania.
Baca juga: 666
Dari peristiwa ini, kehadiran Yesus di Betania menunjukkan seperti apa kepribadian seseorang itu sebenarnya.
Ketika Yesus tiba, Marta pergi meninggalkan segalanya dan mendapatkan Yesus (Ayat 20) yang selama ini dia tunggu tunggu.
Respon Marta, yaitu yang pertama kali datang mendapatkan Yesus membuatnya menjadi orang yang beruntung. Apa keuntungannya? kepada Martalah pertama kali diberitakan langsung kabar mengenai kebangkitan Lazarus.
Lalu bagaimana dengan Maria? Tidak ada yang salah dengan Maria walaupun ia tidak langsung menemui Yesus, Maria tetap melakukan yang terbaik dan tidak kalah spektakulernya dengan yang Marta lakukan.
Baca juga: Pengangkatan Rahasia
Apa yang dilakukan oleh Maria? (ayat 32) Maria tersungkur yang akhirnya membuat Yesus semakin terharu lalu bertanya di mana kalian kuburkan dia.
Mari kita membaca perkataan Yesus kepada Marta dalam Yohanes 11:25 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
Dalam terjemahan lain disebutkan, “Akulah yang memberi hidup dan membangkitkan orang mati,” kata Yesus kepada Marta. “Orang yang percaya kepada-Ku akan hidup, walaupun ia sudah mati. (BIS)
Baca juga: Pakaian Pengantin Surga: Perempuan Ilahi yang Dihiasi
“In Christ is life, original, unborrowed, underived.” He that hath the Son hath life, 1 jhon 5:12. The divinity of Christ is the believer’s assurance of eternal life. Desire Of Ages. P. 530.
Akan tetapi Marta seolah masih berfikir bahwa Lazarus tidak mungkin bangkit saat ini, ia akan bangkit kelak ketika pada akhir zaman (ayat 24).
Coba perhatikan, sementara manusia (dalam hal ini Marta) meragukan apa yang Yesus katakan maka Yesus kembali menegaskan hal yang sama dengan penekanan yang lebih dalam “Akulah yang memberi hidup”
Seorang profesor yang ahli dalam bidang kimia dan matematika pernah menghitung nilai (harga) tubuh seorang manusia, dan ia katakan jika dihitung maka nilai semua organ dan bagian yang ada dalam diri seseorang adalah senilai 85 Milliar USD (sekitar 100 triliun Lebih) namun ada sesuatu yang tidak ternilai harganya yaitu Nyawa.
Mari kita renungkan bersama, yang tidak ternilai bagi manusia Tuhan dapat berikan yaitu Hidup/Nyawa.
Yesus katakan, Akulah yang memberi Hidup. Mengapa bisa? Karena Yesus telah mengalahkan kematian dengan cara bangkit dari kematian, sehingga Maut tidak berkuasa lagi atas-Nya.
I Korintus 15:20,54, 58 “Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis “Maut telah ditelan dalam kemenangan.”
Baca juga: Pelajaran penting dari garam menjadi Tawar.
Ayat 58 :Karena itu, Saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
Kematian tentu akan mengakibatkan kesedihan yang mendalam, akan tetapi kematian hendaknya tidak membuat kita lupa tentang pengharapan kebangkitan yang Tuhan sudah janjikan bagi orang percaya.
Setiap kita yang masih hidup harus mengingat bahwa maut menunggu, akan tetapi pengharapan tentang kebangkitan menjadi penghiburan bagi yang berduka.
Tidak ada komentar