x

Aku Melihat Yesus

waktu baca 8 menit
Senin, 20 Feb 2023 08:46 878 Jandri Tumangger

Kisah nyata yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini berjudul “Aku Melihat Yesus”.

Adalah pengalaman pribadi seorang Ibu (saya panggil Oma) yang saya temui tahun 2016 silam di kota Purwokerto.

Oma tinggal di sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas, dipenuhi dengan berbagai tanaman (pohon) yang tumbuh dengan liar.

Saya pernah bertanya mengapa ia membiarkan semua tanaman itu tumbuh dengan liar sehingga pekarangan nya tampak seperti hutan mini di tengah kota?

Jawabannya mengejutkan saya, ia katakan “ di usia saya saat ini, saya tidak bisa berbuat banyak untuk menolong orang lain, paling tidak melalui semua tanaman ini saya bisa menyumbang oksigen untuk dinikmati semua orang”.

Baca juga: 20 Ayat Alkitab, Kapan Harus Menutup Mulut (Diam).

Sedikit mengenai latar belakang beliau yang saya ketahui setelah beberapa kali kami bertemu dan berbincang.

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mengetahui bahwa oma adalah orang dengan intelektual yang tinggi.

Dia pernah menjadi dosen, fasih berbahasa Inggris, Belanda, Indonesia sudah tentu dan kalau saya tidak salah oma juga bisa sedikit berbahasa Jerman dan beberapa bahasa daerah walau tidak fasih.

Ketika Oma mengetahui bahwa saya adalah orang batak, maka tidak jarang Oma menggunakan istilah dalam bahasa batak ketika kami berbincang di selingi dengan senyum dan tawa bergantian ketika beliau mengucapkan istilah itu.

Baca juga: 6 Alasan Mengapa Berdoa Dalam Nama Yesus.

Hal lain yang membuat saya kagum dengan oma adalah, setiap kali berbincang dengannya ia tidak akan sedikitpun menyela ketika saya berbicara, ia dengan serius mendengar dengan rasa ingin tahu yang besar.

Saya yakin dia pernah membaca mengenai perkataan Dalai Lama:

“When you talk, you are only repeating what you already know. But if you listen, you may learn something new.”

Di usia nya yang ketika itu sudah di atas 75 tahun (saya lupa tepatnya), Oma tidak pernah mendominasi perbincangan. Kita tahu biasanya orang tua di usia seperti itu senang untuk berbicara.

Baca juga: 4 Penghalang Sehingga Doa Tidak Dijawab

Menceritakan semua pengalaman di masa lalu dengan orang yang mereka temui, tanpa mereka sadari sebenarnya lebih sering mereka hanya mengulang cerita yang sama.

Oma bicara dengan perlahan kata katanya teratur, hampir tidak pernah ia meralat perkataannya, seolah semua kata yang terucap memang sudah melalui saringan di pikiran yang tenang, dipilih dengan bijaksana.

Sering kali seseorang terlalu cepat mengucapkan kata kata lalu kemudian meralat atau berusaha menjelaskan nya kembali karena kata kata itu menyinggung orang lain.

Baca juga: Cerita Cinta di Tengah Permainan Politik dan Kekuasaan…

Ketika oma bercerita ia menyampaikannya dengan sistematis sehingga siapa pun lawan bicaranya saya yakin akan tertarik untuk mendengarnya.

Saya menulis kembali cerita ini tanggal 12 Januari 2016, sekitar satu minggu setelah oma bercerita kepada saya.

Mungkin saya terlalu terlambat menceritakan kembali kisah ini karena sudah berselang 7 tahun sejak saya mendengarnya.

Namun semoga menjadi inspirasi bagi kita yang membacanya.

Baca juga: Alasan Para Murid Yesus Berani Martir (bag 1)

Satu setengah tahun setelah menceritakan kesaksiannya ini oma meninggal. Oma berpesan kepada saya:

Jika ada kesempatan, tolong untuk memuat cerita ini di majalah lokal gereja, mungkin dapat menjadi kesaksian yang akan menguatkan.”

Untuk memenuhi permintaan tersebut saya hanya bisa menuliskan melalui sarana yang saya miliki ini. Semoga menjadi berkat.

Aku/Ku menunjuk kepada “Oma” sebagai sumber cerita.

Salah satu dari sekian pesan ibu kepadaku adalah supaya aku selalu memberi nasi kepada setiap pengemis yang datang ke rumah.

Ibuku yang sudah tua itu tampaknya tidak mengetahui perkembangan jaman. Sekarang ini mana ada pengemis yang mau diberi nasi mereka memilih uang.

Baca juga: Alasan Para Murid Yesus Berani Martir (bag 2)

Mungkin pikiran ibu masih terpasang pada jaman susah, di mana banyak orang menderita kelaparan dan nasi merupakan makanan mewah bagi mereka.

Pada bulan November 1945 terjadi pertempuran besar di surabaya. Suara bom, meriam dan sebagainya memekakkan telinga dan terdengar setiap hari. Membuat hati ini terasa miris.

Untuk menjaga keselamatan kami, Bapak memutuskan untuk mengungsi. Maka kami sekeluarga pergi hanya membawa badan dan sedikit pakaian untuk ganti.

Kemana kami hendak pergi kami tidak tau, kami hanya berjalan mengikuti orang banyak yang membentuk barisan sangat panjang seperti barisan semut. Yang jelas kami menuju ke luar kota.

Baca juga: 2 Cara Tuhan Memberi Tanda

Ibuku yang masih muda itu, kira-kira berusia 32 tahun membawa lima orang anak yang semuanya belum dewasa.

Adikku yang masih kecil baru bisa merangkak jadi ibu menggendongnya sepanjang perjalanan.

Tengah hari kami berhenti berjalan, beristirahat, capainya bukan main, lapar! kemudian kami didatangi tentara yang membagi-bagikan nasi bungkus buatan dapur umum.

Mungkin pemberian nasi bungkus ini sangat berkenan mendalam di hati ibu, sehingga pesan untuk memberi nasi kepada setiap pengemis yang datang ke rumah sering ibu ulangi setiap kali kalau aku pulang mengunjungi ibu.

Baca juga: 4 Cara menyikapi penolakan

Kira-kira 12 tahun lalu (cerita di 2016), kesehatan ibuku menurun dratis, setelah jatuh karena kakinya terantuk kaki kursi.

Aku sempatkan pulang ke rumahnya, menunggui ibu selama satu bulan. Pesan itu diulangi lagi:

”kalau ada pengemis datang kerumahmu, berikan nasi. Kalau nasimu tinggal sepiring, berikan separonya.”

Aneh! sepulang aku dari surabaya, setiap hari aku selalu didatangi Pur, nama lengkapnya aku tidak tahu.

Mungkin Purnomo, Purwanto, Purwito atau Pur saja (pemuda gila yang selalu meminta nasi).

Sebelumnya Pur memang sering datang minta nasi, tetapi tidak setiap hari, hanya kadang-kadang.

Baca juga: Cinta Pada Pandangan Pertama

Kali ini setiap hari sampai sebulan penuh dan aku selalu memberinya. Selain karena menjalankan pesan ibu, memang seharusnya aku memberi makan kepada Pur.

Dia sakit ingatan jadi mana mungkin dapat bekerja mencari nafkah, nasi yang aku berikan selalu dihabiskan kandas, tuntas, tak bersisa.

Biasanya Pur di depan pintu gerbang atau di halaman depan. Setelah nasi kuberikan, biasanya Pur kutinggalkan.

Suatu hari aku menunggui Pur makan, aku amati tubuh nya tinggi langsing.

Baca juga: 5 Cara agar Anda Mampu Mengatasi Patah Hati

Bajunya koyak-kayak di sana sini, sekujur tubuhnya kotor. Rambut panjang sampai ke bahu, kusut.

Wajahnya tampan meskipun tidak terurus. Mendadak aku tersentak dalam penglihatanku, wajah Pur berubah menjadi wajah Yesus.

Anganku, kalau kukenakan jubah panjang ke badannya, dia persis seperti Yesus.

Yesus yang sering aku lihat dalam lukisan atau film, walau itu hanyalah hasil imajinasi para seniman akan tetapi pesan bahwa itu Yesus sudah melekat dalam pikiran kita.

Kalau ada pementasan panggung tentang Yesus, dia merupakan tokoh yang pas untuk memerankan nya. Tentu saja kalau dia tidak gila.

Baca juga: 6 Alasan Kita Harus Mempercayai Tuhan.

Setelah puas mengamati, Pur kutinggalkan dan aku masuk ke dalam rumah.

Di dapur, terlintas dalam ingatanku tentang bunda Theresa (biarawati Yugoslavia yang mengabdi di India) melayani orang-orang miskin.

Bunda Theresa senang melayani orang-orang miskin karena ia melihat Yesus diantara mereka.

Seketika aku malu kepada diriku sendiri mengapa aku tanpa sadar “menyontek” bunda Theresa? aku telah melihat Yesus di wajah Pur.

Baca juga: Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit.

Setelah sebulan penuh Pur setiap hari datang meminta nasi, dia tidak pernah datang lagi.

Aku pun tidak pernah lagi bertemu dengan Pur di jalan. Aku tanyakan kepada tetangga, tetapi juga tidak tau.

Pur tidak kulupakan begitu saja. Sekali-sekali aku masih teringat kepadanya.

Matius 7:7

Tadi pagi, setelah 12 tahun Pur menghilang, waktu aku membuka mata dari tidur ku yang lelap, tiba-tiba melintas dalam ingatanku, ucapan-ucapan ibuku dulu tentang sabda Yesus.

Baca juga: Seberapa Besar Tuhan?

Kami bukan dari keluarga Nasrani, tetapi semasa duduk di bangku SD, ibu mendapat pelajaran agama Kristen, karena ibu bersekolah di sekolah Belanda: Konengin Emma School ……. (saya lupa lanjutannya).

Ibu ku selalu mengingat sabda-sabda Yesus. Diantaranya yang pernah dikatakan kepadaku adalah:

  1. Mintalah, maka akan diberikan kepadamu,
  2. Carilah, maka kamu akan mendapatkan,
  3. Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Sabda pertama artinya jelas, kita diwajibkan untuk selalu memohon dengan jalan berdoa.

Sabda kedua juga jelas artinya, kita wajib berusaha, tidak hanya minta melulu.

Sabda ketiga yang aku tidak paham. Di manakah pintu itu supaya dapat ku ketuk?

Baca juga: Sorga

Kalau pintu sudah dibuka, apa yang ada di balik pintu? Baru kemarin sore aku tau dari …….. (oma menyebut nama tetapi saya lupa).

Ternyata pintu itu ada di mana-mana, di antara orang-orang yang menderita, anak-anak yatim piatu, orang-orang yang terkena musibah, para fakir miskin dan sebagainya.

Pikiran ku meloncat ke peristiwa 12 tahun lalu, semasa Pur datang setiap hari selama sebulan penuh untuk minta nasi.

Baca juga: SORGA DAN PEREMPUAN

Aku telah memberi makan kepada seseorang yang sedang kelaparan dan aku melihat Yesus di wajah pur.

Sekarang aku sadar, aku bukan ”menyontek” bunda Theresa dan aku tidak perlu malu kepada diriku sendiri aku merasa bersyukur telah mendapat pengalaman seperti yang pernah dialami oleh bunda Theresa secara tidak sengaja.

Aku telah mengetuk pintu-Nya meskipun sebenarnya aku tidak bermaksud mengetuk pintu karena aku tidak tahu dimana letak pintu itu.

Aku hanya berniat memberi makan kepada sesama yang sedang kelaparan tetapi ternyata itu adalah sebuah ketukan dan pintu itu telah dibukakan untuk ku.

Dan setelah pintu itu dibukakan ternyata ada Yesus di sana. Aku melihat Yesus di wajah Pur.

Baca juga: 666

Matius 25:34-40

“Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?

Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Hkotra D Simanjuntak
    2 tahun  lalu

    Terimakasih Pak Pendeta, luar biasa

    Balas
    Rini Wijayanti /Dieter K
    2 tahun  lalu

    Pingin nangis aja bacanya.
    👍👍👍❤
    Seandainya ada kesempatan Ke temanggung ketemu si mbah. 💖

    Balas
    Rini Wijayanti
    2 tahun  lalu

    Pingin nangis aja bacanya.
    👍👍👍❤
    Seandainya ada kesempatan Ke temanggung ketemu si mbah. 💖

    Balas
    Rini Wijayanti
    2 tahun  lalu

    Pingin nangis aja bacanya.
    👍👍👍❤
    Seandainya ada kesempatan Ke temanggung ketemu si mbah. 💖

    Balas

Ikuti Saya

Vlog

LAINNYA
x