Cerita cinta antara Mikhal dan Daud di tengah permainan politik dan kekuasaan.
I Samuel 18:20, Mikhal, anak perempuan Saul jatuh cinta kepada Daud.
Pada waktu orang Israel berperang melawan bangsa Filistin, tampillah Goliat sebagai gladiator perang dari barisan Filistin.
Tingginya enam hasta sejengkal (2,7 m), ketopong tembaga ada di kepalanya dan ia memakai baju Zirah yang bersisik, berat baju zirahnya lima ribu syikal tembaga (57 kg).
Dia memakai penutup kaki dari tembaga, dibahunya ia memanggul lembing tembaga. Gagang tombak nya seperti pesa tukang tenun, dan mata tombak nya enam ratus syikal besi beratnya (6 kg).
Baca juga: 5 Kisah Cinta Pada Pandangan Pertama di Alkitab
Melihat Goliat yang gagah perkasa itu, maka orang Israel sangat ketakukan (1 Samuel 17:24).
Dengan tujuan untuk menimbulkan semangat dalam diri mereka, terciptalah pembicaraan sesama mereka, katanya, siapa yang dapat membunuh Goliat akan diberi hadiah oleh Raja.
Kekayaan yang banyak, anak perempuanya, dan tidak perlu bayar pajak di Israel (1 Samuel 17:25).
Ingat, ini hanya angan angan para prajurit di lapangan, karena fakta nya Saul tidak pernah menjanjikan hal ini.
Baca juga: Alasan Para Murid Yesus Berani Martir (bag 1)
Sekali lagi, ini hanya angan angan tentara Israel. Mereka bukan perang malah berkhayal.
Singkatnya, Daud berhadapan dengan Goliat dan Tuhan menyerahkan Goliat ke tangan Daud (1 Samuel 17:46), Daud menang.
Akhirnya Saul akan memberikan anaknya kepada Daud, namun bukan karena Daud berhasil mengalahkan Goliat. Lalu karena apa? Kita akan tiba pada jawaban atas pertanyaan itu.
Baca juga: Cinta Pada Pandangan Pertama
Dua kali Alkitab menunjukkan bahwa Saul mengasihi Daud, pertama di dalam 1 Samuel 16:21 sehingga Daud diangkat menjadi pembawa pedang Saul.
Kedua di dalam I Samuel 18:5 oleh karena setiap kali Saul menyuruh Daud berperang ia selalu menang maka Daud diangkat menjadi kepala prajurit.
Baca juga: Alasan Para Murid Yesus Berani Martir (bag 2)
Akan tetapi apa yang terjadi selanjutnya adalah, Saul menjadi membenci Daud karena perempuan-perempuan dari segala kota Israel memuji muji Daud yang berhasil mengalahkan musuh berlaksa laksa, sementara Saul hanya beribu-ribu (1 Samuel 18:8).
Sejak saat ini Saul mendengki Daud dan berulangkali berusaha hendak membunuhnya.
Namun ada hal yang menarik dalam kisah ini, Saul menjadi takut kepada Daud karena Tuhan menyertai Daud (1 Samuel 18:12) dan pada saat yang sama Tuhan undur dari Saul.
Baca juga: 4 Penghalang Sehingga Doa Tidak Dijawab
Apa yang dilakukan Saul kemudian adalah, ia berusaha menjauhkan Daud dari kehidupannya.
Bagaimana caranya? Melalui kekuasaan yang dimilikinya, Saul menunjuk Daud menjadi kepala pasukan seribu agar ia selalu berada di barisan terdepan setiap kali berperang dan peluang agar Daud terbunuh semakin besar. Akan tetapi Daud selalu berhasil karena Tuhan.
Semakin Daud diberkati Tuhan, semakin takut pula Saul terhadapnya dan berusaha menyingkirkannya.
Ada dua pelajaran penting di sini, pertama, Tuhan selalu menjadi alasan mengapa Daud selalu berhasil dalam hidupnya. Kedua, orang yang diberkati Tuhan sering kali dibenci dan berusaha disingkirkan.
Apa yang dilakukan Saul adalah murni karena kekuasaan, Saul tidak rela jika nantinya Daud akan lebih berkuasa dari pada dia di seluruh Israel.
Baca juga: 6 Alasan Mengapa Berdoa Dalam Nama Yesus.
Pernahkah Anda mendengar pepatah yang mengatakan, jika kamu tidak dapat mengalahkan musuhmu, bertemanlah dengan mereka.
Tampaknya Saul ingin menggunakan strategi ini terhadap Daud. Saul selalu mencari akal bagaimana caranya untuk mencelakakan Daud.
Di dalam I Samuel 18:17 Saul menawarkan anak perempuannya menjadi istri Daud, ia boleh menikahi putrinya asalkan Daud bersedia untuk selalu berperang bagi Saul.
Baca juga: 15 Pengalaman Ishak Menunjuk Kepada Yesus
Daud sebenarnya merasa tidak layak menjadi menantu raja namun Daud bersedia. Akan tetapi ketika perkawinan hampir terjadi, Saul memberikan anak perempuanya yaitu Merab kepada orang lain yaitu Adriel.
Tujuan Saul tampaknya adalah agar Daud menjadi galau karena tidak jadi menikah dengan Merab dan kalau ia berperang dalam keadaan patah hati, kemungkinan besar ia tidak akan hati hati dan ia akan terbunuh. Akan tetapi rencana itupun tidak berhasil.
Baca juga: SORGA DAN PEREMPUAN
Di tengah permainan politik ini, cerita berkembang ke arah yg tidak di harapkan. Di dalam I Samuel 18:20 Mikhal anak perempuan Saul jatuh cinta kepada Daud.
Setelah sebelumnya Daud akan dinikahkan dengan Merab, akan tetapi antara Daud dengan Merab tidak ada cinta, ini hanya permainan politik Saul.
Dalam situasi ini tiba tiba Mikhal berani jatuh cinta kepada Daud.
Setelah Saul melihat putri bungsunya jatuh cinta kepada Daud, Saul gembira, namun sekali lagi Saul gembira bukan karena ingin melihat putrinya bahagia tapi ia berharap agar anaknya menjadi jerat bagi Daud (1 Samuel 18:21).
Rencana Saul kemudian adalah, Daud boleh menikah dengan Mikhal dan tidak perlu mas kawin berupa uang atau harta.
Baca juga: 666
Saul meminta seratus kulit khatan orang Filistin sebagai mas kawin untuk putrinya. Ingat, rencana Saul adalah bagaimana agar Daud terbunuh oleh orang Filistin.
Karena begitu semangatnya, akhirnya Daud membunuh dua ratus orang Filistin. Yang diminta seratus ia bunuh dua ratus (1 Samuel 18:27).
Setelah dibunuh, lalu Daud menyerahkan kulit khitannya kepada Saul dan akhirnya Saul tidak punya pilihan lain, ia serahkan Mikhal.
Sesuatu yang tadinya hanya angan angan diantara para prajurit di medan perang, sekarang menjadi kenyataan, bahwa pembunuh Goliat menikah dengan anak raja.
Ketika Mikhal menikah dengan Daud, mereka hidup bahagia.
Baca juga: 20 Ayat Alkitab, Kapan Harus Menutup Mulut (Diam).
Saul melihat dan mengerti bahwa Tuhan menyertai Daud, dan anaknya mencintai Daud. Tetapi Saul tetap membenci Daud walau sudah menjadi menantunya, ini karena politik dan kekuasaan.
Saul tetap menjadi musuh Daud seumur hidupnya (1 Samuel 18:29).
Di dalam 1 Samuel 19:9 Daud sedang bermain musik untuk menghibur mertua nya, tiba tiba, Saul melemparkan tombak ke arah Daud, ia mengelak sehingga tombak itu tidak mengenai nya.
Saul tetap tidak menyerah, kebencian nya yang mendalam membuat nya berambisi untuk mencelakakan orang lain, kita tidak boleh terjebak dalam situasi ini.
Saul mengirim orang untuk mematamatai Daud supaya bisa membunuh nya.
Baca juga: Ini Dosa Pertama dan Terakhir Disebut di Alkitab
Di dalam I Samuel 19:11 sementara Saul mengutus orang untuk mengawasi dan membunuh Daud, esok paginya, ditengah permainan politik ini Mikhal berkata, kalau kamu tidak lari malam ini besok kamu akan dibunuh.
Terjadi pergeseran, sejauh ini Mikhal selalu diperkenalkan sebagai anak perempuan Saul, tapi tiba tiba di titik seperti ini, Mikhal diperkenalkan sebagai istri Daud (1 Samuel 19:11), dan ia memihak Daud bukan memihak Saul.
Baca juga: 5 Pengalaman Abraham Menunjuk Kepada Yesus
Ini menunjukkan kekuatan cinta yang luar biasa, ia berbeda pendapat dengan ayahnya demi suami yang ia cintai. Mikhal menurunkan Daud dari jendela sehingga Daud bisa melarikan diri.
Lalu Mikhal menaruh patung (1 Samuel 19:13) di tempat tidur Daud dan menyelimuti nya, dan ketika akan ditangkap, Mikhal katakan ia sedang sakit dan tidur.
Lalu akhirnya ketahuanlah bahwa Daud sudah melarikan diri. Di dalam 1 Samuel 19:17 terjadi dialog antara bapak dan anak perempuannya, “mengapa engkau membiarkan musuhku pergi?”
Baca juga: Apakah Bait Suci Yahudi Masih Ada?
Jawaban Mikhal, saya diancam kalau tidak saya akan di dibunuh. Fakta nya, tidak ada ancaman dari Daud, justru Mikhal yang menyuruhnya pergi.
Sejak itu hidup mereka terpisah, lagi lagi karena Saul. Karena ambisi dan permainan politiknya.
Cerita berlanjut, di dalam 1 Samuel 25:42 Daud menikahi Abigail dan Ahinoam. Sadarkah kita, mengapa berulang kali kita melihat Daud menikahi perempuan perempuan.
Sesungguhnya hal ini terjadi karena Daud frustasi terhadap apa yang ia alami dalam kehidupannya.
Baca juga: Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit.
Ada situasi yang memaksanya melakukan itu, namun bukan itu pesan yang ingin disampaikan lewat kisah hidup Daud.
Di tempat yang berbeda Saul memberikan anaknya menikah dengan orang lain juga, yakni dengan Paltiel anak Gais, jadi Daud dan Mikhal hidup masing masing.
Sepertinya hubungan kedua pasangan yang saling mencintai ini akan berakhir dengan perpisahan dan kesedihan. Akan tetapi ceritanya belum berakhir.
Baca juga: Sorga
Di dalam II Samuel 3, Saul mati dibunuh di medan perang oleh orang Filistin, bangsa yang selama ingin ia gunakan untuk membunuh Daud yang ia benci.
Dengan matinya Saul akhirnya Daud menjadi raja orang Yehuda namun Israel menjadi kerajaan sendiri.
Di ayat 12-14, Abner panglima Israel ingin berdamai dengan Daud, dan Abner siap menyerahkan seluruh Israel ke tangan Daud.
Jawab Daud “hanya satu hal kuminta darimu, bawa Mikhal kepadaku”. Lalu Mikhal diambil dari suaminya dan diserahkan kepada Daud. Demikianlah Daud bertemu kembali dengan Mikhal istrinya.
Baca juga: 3 Cara Mengatasi Rindu Menurut Alkitab.
Selalu ada jalan untuk mempertemukan dua insan yang saling mencintai, tampaknya karena begitu kuatnya cinta mereka sehingga hal itu dapat terjadi.
Karena fakta nya memang ketika mereka berpisah, mereka terpisah dalam keadaan saling cinta.
Akan tetapi bukan itu puncak dari perjalanan cinta kedua sejoli ini. Mereka akan berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar yang akan menguji cinta mereka.
Baca juga: 5 Pengalaman Abraham Menunjuk Kepada Yesus
Sekarang, di 2 Samuel 6 mereka tinggal satu rumah, fisik mereka bersatu tapi sesungguhnya mereka terpisah.
Di dalam 2 Samuel 6:16 Daud dengan segenap Israel berseru memuji Tuhan sementara tabut masuk ke dalam kota.
Mikhal melihat dari jendela, melihat Daud melompat lompat dan menari nari, Mikhal memandang rendah Daud.
Baca juga: 5 Cara agar Anda Mampu Mengatasi Patah Hati
Tadinya Mikhal jatuh cinta kepada Daud, tapi sekarang ia memandang rendah suaminya. Dalam cerita ini ada masalah Teologi yang dalam.
Yang ada dalam pikiran Mikhal adalah 2 Samuel 6:20:
“Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!”
Mikhal menyindir Daud dengan sinis, Mikhal sangat marah. Daud, dalam pikirannya ia menari nari di hadapan Tuhan 2 Samuel 6:21
“Di hadapan TUHAN, yang telah memilih aku dengan menyisihkan ayahmu dan segenap keluarganya untuk menunjuk aku menjadi raja atas umat TUHAN, yakni atas Israel, — di hadapan TUHAN aku menari-nari,”
Tetapi bagi Mikhal, yang ia tahu Daud menari nari di hadapan para budak dan hamba hamba nya.
Baca juga: 4 Cara menyikapi penolakan
Sebagai anak raja Saul yang hebat, ia melihat wanita Israel tidak lebih dari sekedar budak budak perempuan dan para laki laki Israel sebagai hamba. Itu sebabnya ia tidak suka melihat Daud menari nari di depan budak dan hamba.
Ini penting, Perbedaan pandangan atau konsep tentang Tuhan antara Daud dan Mikhal membuat mereka menjadi renggang.
Betapa sering ini terjadi di antara kita, di antara pasangan muda, di antara suami dan istri.
Daud merasa ia menari di hadapan Tuhan, bagi Mikhal ini hanya suasana sosial biasa, hanya ada laki laki dan perempuan, tidak ada Tuhan.
Baca juga: TUHAN TERINGAT
Daud merasa orang disekitar nya adalah hamba Tuhan, bagi Mikhal mereka hanya budak laki laki dan perempuan.
Daud dan Mikhal bersatu secara fisik, tapi konsep mereka tentang Tuhan memisahkan mereka.
2 Samuel 6:23 menulis Mikhal anak Saul, tidak pernah punya anak sampai hari kematiannya.
Kelihatannya ini hanya laporan, tapi ini sangat penting dalam Teologi Alkitab. Pasangan ini (Daud & Mikhal) berpotensi menjadi pasangan luar biasa dalam Alkitab.
Baca juga: Aku Melihat Yesus
Karena dalam sejarah Israel, dua raja pertama mereka adalah raja yang diurapi oleh Tuhan melalui Samuel (Saul dan Daud), dan keduanya terhubung lewat pernikahan Daud dengan putri Saul.
Kalau saja mereka memiliki anak, anak ini akan mempersatukan keluarga Saul dan Daud.
Dan seharusnya, secara potensial raja Israel selanjutnya bukan Salomo (anak Daud dari Batsyeba), tetapi anak Daud dari Mikhal.
Baca juga: 2 Cara Tuhan Memberi Tanda
Yang mana jika anak itu ada, di dalam darahnya, darah dua raja besar dipersatukan.
Tetapi Daud dan Mikhal terpisah, kisah cinta yang luar biasa namun menyedihkan, cinta mereka bisa bertahan di dalam permainan politik, bertahan dalam permainan kekuasaan Saul.
Akan tetapi akhirnya mereka terpisah karena masalah kerohanian, tulisan ini tidak sedang menyuruh anda berpisah dengan pasangan karena tidak sama dalam hal kerohanian.
Baca juga: 6 Pengalaman Yunus Sama dengan Yesus
Yang perlu kita ingat adalah, ujian dari cinta yg sejati adalah masalah kerohanian.
Secinta cintanya pasangan kekasih, kalau dua orang ini tidak punya pandangan rohani yg sama maka hanya menimbulkan keributan.
Semua pasangan memiliki potensi menjadi pasangan yang luar biasa, tapi akhirnya pertanyaannya, bagaimana kerohanian kita di hadapan Tuhan? apakah gereja/ kerohanian menjadi bagian penting dari rumah tangga Anda?
Baca juga: 5 Ayat Alkitab Ketika Berjuang.
Kalaupun ke gereja, gereja itu kita buat untuk apa? Apakah hanya menjadi tempat permainan politik dan kehebatan, seperti yang dilakukan oleh Saul? Atau tempat untuk menghadap Tuhan?
Aplikasi dari cerita ini, setiap kita, baik yang sudah berumah tangga atau pun belum, kita semua diajak untuk melihat kerohanian masing masing.
Wahai orang muda, akan tiba saatnya Anda bertemu dengan orang yang sangat mencintaimu dan membuatmu jatuh cinta luar biasa, lalu menjadi cinta buta.
Akan tetapi jangan lupa, sebesar apapun cinta Anda, kalau kerohanian tidak sejalan atau kalau konsep Anda berdua tentang Tuhan berbeda, maka Anda butuh pengorbanan yang lebih besar agar hubungan itu tetap berjalan.
Jangan paksakan dirimu menerima seseorang yang memiliki konsep berbeda mengenai Tuhan (kebenaran) denganmu.
Ingat Daud dan Mikhal.
2 tahun lalu
[…] Baca juga: Cerita Cinta di Tengah Permainan Politik dan Kekuasaan […]
2 tahun lalu
[…] Cerita Cinta di Tengah Permainan Politik dan Kekuasaan […]
2 tahun lalu
[…] Cerita Cinta di Tengah Permainan Politik dan Kekuasaan […]