Orang lain dengan mudah melupakan seribu kebaikan Anda hanya karena satu kesalahan kecil. Tuhan mengangkat dosa dan membuangnya, manusia mengungkit.
Para pecinta sepak bola tentu masih mengingat beberapa peristiwa yang terjadi pada perhelatan piala dunia 2006 di Jerman.
Diantaranya adalah, peristiwa ketika sang kapten tim Prancis Zinedine Zidane menanduk dada bek prancis Marco Materazzi di babak perpanjangan sehingga mengakibatkan ia diganjar kartu merah.
Namun bukan hanya itu, ada hal menarik lain yang terjadi kepada Zinedine Zidane, terjadi pada babak penyisihan grup dan hingga saat ini diabadikan di stadion Leipzig (kini bernama Red Bull Arena).
Ketika itu Prancis bertemu dengan Korea Selatan dan mereka ditahan imbang 1:1 hingga menit ke 90. Pada menit pertama waktu tambahan Zinedine Zidane di tarik oleh sang pelatih ketika itu Raymond Domenech.
Baca juga: 5 Pengalaman Abraham Menunjuk Kepada Yesus
Karena tidak terima ketika ditarik keluar maka ia meluapkan emosinya dengan menendang pintu kamar ganti dan meninggalkan jejak sepatu pada pintu itu, dan kisah ini menjadi menarik.
Jakob Junghoefer, staf Leipzig bagian tur stadion, menceritakan bahwa Federasi Sepak Bola Perancis (FFF) pernah meminta pengelola stadion menghapus jejak kaki Zidane agar tidak menimbulkan masalah dan mengiming-imingi 25.000 euro (sekitar Rp 409 juta dengan kurs saat ini).
Akan tetapi, permintaan itu tak dituruti oleh manajemen stadion. Mereka tetap mempertahankan guratan sepatu sang maestro itu di sana. ” Ein Andenken von Z (Sebuah souvenir dari Z),” demikian mereka menambahkan tulisan dengan tinta emas pada bekas sepatu itu.
“Mereka tahu bahwa jejak sepatu itu bersejarah dan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi stadion ini,” kata Jakob.
Benar saja, “Suvenir” dari Zidane itu menjadi magnet utama turis yang berkunjung ke Leipzig, khususnya ke Zentralstadion.
Sekalipun stadion itu direnovasi dan berganti nama menjadi Red Bull Arena, namun jejak sepatu Zidane masih dipertahankan. (Kompas.com).
Baca juga: 13 Wanita Paling Cantik di Alkitab. Ini yang Mereka Alami
Demikianlah mereka mengabadikan luapan emosi sang maestro itu di sana dan mendapat keuntungan darinya.
Alkitab menyuguhkan kepada kita sebuah kisah mengenai seorang perempuan yang dituduh berzinah, kisah itu ditulis di dalam Yohanes 11:1-13.
Para ahli taurat dan orang farisi membawa perempuan tertuduh itu kepada Yesus menempatkannya di tengah tengah mereka semua, dan tujuan mereka adalah untuk mencobai Yesus.
Mereka meminta Yesus untuk menjatuhkan hukuman terhadap perempuan itu. Tentu saja mereka meminta agar ia djatuhi hukuman maksimal ketika itu yakni dilempari dengan batu hingga mati (mengacu kepada Imamat 20:10).
Baca juga: Cerita Cinta di Tengah Permainan Politik dan Kekuasaan…
Ketika ahli taurat dan orang farisi mendesak Yesus, yang dilakukan Yesus kemudian adalah Ia membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah.
Tidak puas dengan sikap Yesus yang tidak menjawab mereka dengan ucapan, mereka kemudian kembali mendesak Yesus, lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata:
”Barangsiapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu,” lalu kemudian Yesus membungkuk pula dan kembali menulis di tanah.
Yesus mengikuti cara berfikir orang banyak itu dengan mengutip kisah perjanjian lama, Ulangan 17:17 bahwa saksi yang melihat perbuatan itulah yang lebih dulu melempar.
Alkitab tidak menyebutkan apa yang Yesus tulis, namun tampaknya tulisan ditanah itu mendukung perkataan yang Yesus ucapkan dan itu berdampak besar bagi semua orang yang ada di sana.
Baca juga: Cinta Pada Pandangan Pertama
Tidak ada yang berani melemparkan batu kepada perempuan itu, satu per satu mereka pergi mulai dari yang tertua.
Tidak jelas mengapa Alkitab perlu menuliskan bahwa mereka yang lebih tua lebih dahulu meninggalkan tempat.
Mungkin saja yang tertua ini merasa paling bersalah atau mungkin saja karena mereka yang pertama-tama sadar akan ancaman bahaya dipermalukan atas kesalahan mereka sendiri.
Sudah selayaknya mereka yang lebih tua (dari segi umur) lebih bijaksana berfikir akan resiko, karena sudah banyak pengalaman yang dilalui dan itu dapat membuat pertimbangan semakin matang.
Dan jika yang tertua sudah mundur meninggalkan tempat itu maka tidak heran yang lebih muda mengikuti mereka.
Baca juga: 4 Cara menyikapi penolakan
Akhirnya tinggallah Yesus dan perempuan itu. Kemudian Yesus berdiri dan berkata, di manakah mereka? tidak adakah yang menghukum engkau? Yesus melanjutkan, Akupun tidak menghukum engkau, Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.
Tuhan maha mengampuni kesalahan orang orang yang mengaku dan meminta pengampunan, Alkitab bahkan jelas memberitahu kita mengenai kasih-Nya yang maha besar.
Yesaya 1:18 “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.
Tuhan mengangkat dosa dari kita, dengan kasih-Nya Ia menghapus kesalahan kesalahan yang kita perbuat dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir tubir laut (Mikha 7:19).
Baca juga: 5 Cara agar Anda Mampu Mengatasi Patah Hati
Namun sekalipun demikian, Tuhan juga tidak ingin kita melakukan dosa. Ia mengampuni bukan agar kita mengulang dosa, pengampunan Tuhan bukan kesempatan untuk berbuat dosa yang lain, melainkan agar kita memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Kita harus mengingat, sekalipun Tuhan maha mengampuni, namun disekitar kita ada orang orang yang siap dengan ingatan dan memori yang kuat.
Mereka siap merekam dengan ingatan mereka dosa dosa yang Anda lakukan, mereka mengabadikan nya dan akan menggunakannya sebagai jerat untuk menghukum dan mengalahkan Anda dalam kehidupan ini.
Baca juga: 20 Ayat Alkitab, Kapan Harus Menutup Mulut (Diam).
Tuhan mengangkat dosa kita, namun orang lain mengungkitnya. Mereka akan mengambil keuntungan dari dosa dan kesalahan Anda.
Tuhan tidak ingin kita terkurung dalam keadaan rasa bersalah, ia tidak ingin kita terjerat dalam pelanggaran kita sendiri.
Tuhan ingin kita hidup benar, hidup sesuai dengan jalan jalan Tuhan yang akan membawa kepada kehidupan, dan tentu saja Tuhan yang akan memampukan kita untuk melakukannya.
3 tahun lalu
[…] Baca juga: Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit: Sebuah Realita Hidup […]