Sering kali umat percaya mengutip sebuah ungkapan yang terdengar keras namun jujur: “Di dalam bahtera memang bau, tetapi di luar bahtera adalah kebinasaan.” Ungkapan ini benar secara teologis.
Air bah tidak memberi ruang kompromi. Namun kebenaran itu belum lengkap jika kita berhenti di sana. Pertanyaan rohani yang lebih dalam bukan sekadar di mana kita berada, melainkan bagaimana kita hidup bersama di tempat keselamatan itu.
Sebagai gambaran iman, bahtera Nuh tidak hanya berbicara tentang keselamatan dari hukuman, tetapi juga tentang persatuan dalam misi. Banyak orang berada di dalam gereja, tetapi tidak semua orang membangun kesatuan. Padahal, keberadaan di dalam bahtera tidak otomatis melahirkan keselamatan yang utuh jika hati tetap terpecah.
Pertama-tama, Alkitab menegaskan bahwa Tuhan memerintahkan Nuh membangun bahtera sebagai sarana keselamatan (Kejadian 6–7). Perintah Tuhan tidak memberi rancangan bahtera sebagai kapal pesiar, Ia menutup bahtera rapat-rapat, memenuhi ruangnya dengan manusia dan berbagai jenis binatang, Ia menghilangkan kenyamanan visual, ventilasi modern, dan kepastian waktu.
Bayangkan kondisi di dalam bahtera. Bau binatang bercampur dengan ruang sempit, suara gaduh menemani hari demi hari. Semua unsur itu menyingkirkan ilusi kenyamanan. Di titik inilah banyak orang keliru memahami iman, mereka menginginkan keselamatan tanpa ketidaknyamanan.
Banyak jemaat mendambakan gereja tanpa konflik, berharap misi Tuhan berjalan tanpa perbedaan karakter. Padahal, Tuhan tidak pernah menjanjikan kenyamanan, Ia menjanjikan keselamatan dan tujuan. Bahtera menyelamatkan, bukan memanjakan dan gereja berjalan dengan prinsip yang sama.
Selanjutnya, perhatikan satu fakta penting. Setelah Tuhan menutup pintu bahtera, malaikat tidak turun untuk mengelola kehidupan di dalamnya. Keluarga Nuh sendiri yang membersihkan kotoran, memberi makan binatang, mengatur ruang, dan menjaga keteraturan.
Jika mereka saling menyalahkan, bahtera akan berubah menjadi neraka kecil. Jika mereka menolak bekerja sama, kehancuran akan datang lebih cepat dari air bah. Dengan kata lain, bahtera bisa runtuh dari dalam sebelum dihantam dari luar.
Prinsip rohani ini sangat relevan bagi gereja masa kini. Iblis tidak menghancurkan gereja melalui serangan frontal. Sebaliknya, ia lebih sering menabur benih perpecahan dari dalam. Air bah selalu berada di luar, namun konflik sikap hampir selalu lahir dari dalam.
Kemudian, banyak orang berkata dengan nada kecewa, “Gereja itu melelahkan.” Ada pula yang mengeluh, “Pelayanan itu penuh drama.” Bahkan sebagian orang menyimpulkan, “Tempat ini sudah tidak sehat.”
Pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan soal bau itu sendiri. Pertanyaan yang lebih penting menyentuh sikap kita terhadap bau tersebut. Apakah bau menandakan bahwa kita berada di tempat yang salah, atau justru menunjukkan bahwa kita perlu bertumbuh bersama?
Di dalam bahtera, bau tidak terhindarkan. Ketidaknyamanan tidak bisa dihapus. Namun Tuhan tidak memanggil Nuh keluar dari bahtera. Tuhan memanggil mereka bertahan dan mengelola keadaan.
Kedewasaan rohani tidak lahir dari pelarian. Kedewasaan bertumbuh ketika seseorang memilih menghadapi masalah bersama. Persatuan bukan berarti ketiadaan konflik. Persatuan berarti kesediaan menyelesaikan konflik dengan kasih dan kerendahan hati.
Baca juga: Hikmat Salomo: Doa yang Membuat Tuhan Berkenan
Lebih jauh lagi, kita perlu bertanya: mengapa Tuhan tidak menyuruh Nuh membangun banyak perahu kecil? Mengapa hanya satu bahtera besar?
Tuhan ingin menegaskan satu pesan teologis yang kuat: keselamatan memiliki satu arah, satu tujuan, dan satu misi. Yesus sendiri berdoa, “Supaya mereka semua menjadi satu, supaya dunia percaya” (Yohanes 17:21).
Perpecahan di dalam gereja merusak kesaksian Injil. Dunia tidak menilai gereja dari kesempurnaan strukturnya, tetapi dari kualitas kasih dan persatuannya. Ketika gereja gagal bersatu, dunia meragukan pesan yang gereja sampaikan. Satu bahtera menegaskan misi: menyelamatkan dan memulihkan.
Baca juga: Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit: Sebuah Realita Hidup
Sekarang, gereja berdiri sebagai bahtera rohani di tengah dunia yang dilanda “air bah” moral, spiritual, dan sosial. Misinya jelas: membawa manusia kepada keselamatan di dalam Kristus.
Oleh sebab itu, gereja tidak boleh terjebak dalam keluhan tanpa solusi. Gereja tidak boleh sibuk mencari pintu keluar ketika ketidaknyamanan muncul. Gereja juga tidak boleh membandingkan dirinya dengan “bahtera lain”.
Sebaliknya, gereja perlu merawat hubungan, menjaga komunikasi, dan mengutamakan misi di atas ego pribadi. Rasul Paulus menegaskan, “Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera” (Efesus 4:3). Persatuan tidak terjadi secara otomatis. Persatuan menuntut usaha sadar dan konsisten.
Tragedi pesawat ulang-alik Challenger tahun 1986 memberikan pelajaran mendalam. Pesawat itu tidak dirancang oleh orang bodoh. Insinyur terbaik Amerika membangunnya. Para ahli mempercayai sistem dengan penuh keyakinan. Bahkan mereka mengirim seorang guru sekolah sebagai simbol keamanan mutlak.
Namun pesawat itu hancur 73 detik setelah lepas landas. Penyebabnya bukan kekurangan kepintaran, melainkan kelebihan kepercayaan diri. Peringatan tentang cincin karet dan suhu dingin tenggelam oleh kalimat berbahaya: “Pasti aman.”
Keberlangsungan bahtera Nuh bisa mengalami nasib serupa jika semua orang berkata, “Yang lain pasti sudah mengurusnya.” Keselamatan bisa gagal bukan karena kejahatan, tetapi karena kelalaian kolektif yang dibungkus rasa aman palsu.
Baca juga: 5 Pelajaran Dari Bekas Luka Di Tangan Yesus
Gereja modern sering kali menyerupai Challenger: pemimpin berpengalaman, sistem rapi, tradisi kuat. Namun bahaya terbesar muncul ketika semua orang berhenti saling mengingatkan dengan rendah hati.
Alkitab mengingatkan, “Siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh” (1 Korintus 10:12). Persatuan sejati melibatkan saling mengecek, saling menegur dengan kasih, dan saling menjaga agar bahtera tidak bocor.
Bahtera memang tidak sempurna. Namun Tuhan yang menutup pintunya sempurna. Karena itu, jangan keluar hanya karena bau. Jangan menyerah hanya karena tidak nyaman. Pilihlah tinggal, bersatu, dan bekerja sama demi misi Tuhan. Keselamatan bukan hanya soal di mana kita berada, tetapi bagaimana kita hidup bersama di dalamnya.
Baca juga: Doa Yabes: Dilahirkan dalam Sakit, Hidup dalam Berkat
Baca juga: Barnabas Dihormati, Ananias dan Safira Binasa: Tentang Pengorbanan Sejati
Baca juga: Ditinggalkan Tanpa Penjelasan? Ini Pandangan Alkitab tentang Ghosting
Tidak ada komentar