Ketika membaca Alkitab, sering kali kita bertemu dengan hal hal yang kita nilai saling bertentangan.
Pada satu bagian menjelaskan mengenai suatu hal dan bagian lain menentangnya.
Sebagai contoh, Ada saat-saat Alkitab menampilkan Tuhan sebagai pribadi yang menyesali apa yang telah diperbuat-Nya.
Pada saat yang sama menyatakan bahwa Tuhan bukanlah manusia yang dapat menyesal.
Saya akan mendaftarkan ayat yang menyatakan Tuhan menyesal dan juga ayat yang menyatakan Tuhan tidak mungkin menyesal.
Kejadian 6:5 “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka MENYESAL lah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.
1 Samuel 15: 11 “Aku MENYESAL telah mengangkat Saul menjadi raja, karena dia telah berbalik dari mengikuti-Ku dan tidak melakukan perintah-Ku.”
Yunus 3:10 “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka MENYESAL lah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya.
Yeremia 18:8 “Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka MENYESAL lah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka.
Anda dapat terlebih dahulu membacanya secara lengkap untuk mengetahui kisah peristiwa tersebut.
Baca juga: Ketika Tuhan Sembunyi dari Umat-Nya, Sebuah Studi Alkitabiah
Baca Juga: Ketika Tuhan Teringat: The Everlasting Mind of God
Baca juga: Tanda yang Diungkapkan: Menganalisa 2 Jenis Tanda dari Tuhan
Baca juga: 8 Pengalaman Musa Menunjuk Kepada Yesus.
Baca juga: 10 Pengalaman Yusuf Menunjuk Kepada Yesus.
Untuk lebih mendukung ke dua ayat ini, kita memiliki sejumlah ayat yang menjelaskan kemahatahuan Tuhan mengenai apa yang akan terjadi.
Nabi Yesaya menekankan bahwa pengetahuan Allah sebelumnya adalah bukti penting bahwa Dia adalah satu-satunya Allah yang benar (Yes. 41:21-23).
Samuel menyebutkan Tuhan itu mahatahu (1 Samuel 2:3).
Tuhan berkata tidak ada yang seperti Dia dan menekankan hal ini dengan fakta bahwa Dia mengetahui dari zaman dahulu apa yang akan datang (Yes. 46:9-10).
Daud berkata bahwa Tuhan mengetahui sebelumnya setiap kata yang akan dikatakan Daud bahkan sebelum dia mengatakannya dan bahwa Tuhan mengetahui sebelumnya hasil dari setiap hari hari Daud (Mzm. 139:4, 14-16).
Tuhan juga menunjukkan prapengetahuan-Nya. Misalnya, Dia mengungkapkan kepada Abraham bahwa keturunannya akan menjadi budak di negeri asing selama 400 tahun sebelum akhirnya datang ke negeri yang dijanjikan Allah kepada Abraham (Kejadian 15:12-16).
Rasul Paulus berkata bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengajar Allah apa pun dan tidak seorang pun dapat menjadi penasihat Allah karena Allah mengetahui segala sesuatu (Rm. 11:33-36).
Dengan melihat ayat ayat ini, kita mencoba menegaskan ke dalam pikiran kita, Dalam kemahatahuan-Nya tentang apa yang terjadi di masa depan, mengapa Tuhan masih menyesal telah menjadikan manusia?
Dengan kemahatahuan-Nya mengenai apa yang akan terjadi dengan pemberontakan Saul, mengapa Tuhan masih perlu menyesal dengan apa yang terjadi? Mengenai Niniwe? Mengenai pertobatan satu bangsa?
Bukankah ini menjadi membingungkan?
Jadi, bagaimana kita menyelaraskan bagian-bagian Alkitab yang sangat menekankan pengetahuan Allah tentang segala sesuatu (termasuk masa depan) dengan bagian-bagian di mana Tuhan “menyesal” karena Dia menjadikan manusia dan kemudian menjadi berdosa?
Saya rasa penting ketika menafsirkan kisah-kisah ini untuk tidak berpikir bahwa rasa penyesalan kita identik dengan apa yang Tuhan alami.
Kisah-kisah ini tidak boleh dilihat sebagai kontradiksi dengan ajaran yang jelas dari Kitab Suci tentang pengetahuan Allah sebelumnya.
Tuhan tidak menyesal menciptakan umat manusia, Ia tidak menyesal menjadikan Saul raja dalam arti bahwa Dia mengira Dia telah melakukan kesalahan dan tidak meramalkan bagaimana keadaan akan terjadi.
Karena Tuhan telah mengetahui sebelumnya, Dia akan mengetahui kesudahan ini sebelumnya; namun Tuhan tetap mengizinkan hal itu terjadi untuk mencapai tujuan kedaulatan-Nya.
Sejarah dunia dan sejarah Israel akan berbeda seandainya Tuhan tidak mengizinkan peristiwa ini.
Tuhan mungkin telah mencapai banyak hal penting dengan mengizinkan tindakan berdosa ini (misalnya, memberikan pelajaran kepada generasi mendatang).
Tuhan mahatahu, namun tetap memberikan kebebasan memilih kepada ciptaan-Nya.
Kekeliruan manusia dalam menggunakan kebebasan memilih tersebut membuat Tuhan menyesali tindakan itu.
Kata menyesal diterjemahkan dari bahasa Ibrani “nakham” yang secara konseptual bermakna tidak sesuai dengan yang dikehendaki (hal hal yang tidak memuaskan hati) sehingga memerlukan penghiburan.
Baca juga: YAKUB DARI BETEL DAN KE BETEL
Baca juga: Makna Yesus Duduk di Sebelah Kanan Allah dalam Markus 16:19
Baca juga: 7 Pengalaman Yakub Menunjuk Kepada Yesus
Hal lain yang perlu kita ketahui ketika membaca Alkitab adalah istilah Antropomorfisme.
Dalam kasus-kasus di mana penulis Alkitab tampaknya menggambarkan Tuhan menyesali sesuatu dan seolah-olah Tuhan tidak tahu apa yang akan terjadi, itu adalah bahasa Antropomorfik.
Antropomorfisme adalah pemberian atribut, karakteristik, perasaan, atau tujuan yang dimiliki manusia kepada entitas bukan manusia.
Maka bahasa Antropomorfik artinya menggambarkan Tuhan menggunakan istilah manusia, “Cth: Tuhan menyesal” (Antonim Teomorfisme, atau pemberian sifat-sifat ketuhanan kepada manusia.)
Oleh sebab itu kita tidak bisa menyamakan pengertian penyesalan manusia (kita) dengan penyesalan yang digunakan oleh penulis untuk menjelaskan penyesalan Tuhan.
TUHAN adalah satu-satunya yang berada di luar lingkup penyesalan.
Menyikapi kebingungan yang terjadi mengenai “Tuhan menyesal” ini Paul J. Griffiths dalam bukunya berjudul Regret – A Theology, mengatakan:
“Memikirkan bahwa TUHAN Menyesal dan bertobat termasuk dalam konteks memikirkan tentang TUHAN yang tanggap terhadap kebutuhan mendesak, dan tidak ada yang bermasalah tentang itu. Tetapi beberapa orang Kristen, menggunakannya sedemikian rupa untuk membedakan TUHAN dari segala sesuatu yang bukan TUHAN”.
Terlepas dari apakah kata “menyesal” itu akan menjadi perdebatan, Griffiths melanjutkan, setidaknya bahwa tindakan yang didorong oleh “penyesalan” TUHAN selalu membawa situasi tertentu menjadi lebih baik.
Bumi menjadi baru setelah air bah, Daud menjadi raja dengan banyak pencapaian setelah menggantikan Saul, terjadi kebangunan Rohani di Niniwe, mereka bertobat.
Keadaan yang disesalkan membawa kebahagiaan bersamanya, setidaknya setelahnya. Kerusakan disesalkan meskipun kejadiannya merupakan kondisi yang diperlukan.
2 tahun lalu
[…] Baca juga: Pengampunan dari Atas: Penyesalan dan Penebusan Tuhan […]
2 tahun lalu
[…] TUHAN MENYESAL […]
2 tahun lalu
[…] TUHAN MENYESAL […]