Apa yang akan dipilih oleh seorang kristen atas pertanyaan berikut, hidup untuk makan atau makan untuk hidup?
Sekilas Pernyataan ini tampak sama dan sederhana namun memilih salah satu diantaranya dan menjadikannya sebuah kebiasaan bisa berdampak besar dalam hidup.
Sebelum membahas lebih jauh saya ingin bertanya, apa pilihan Anda? Apakah Anda hidup untuk makan atau makan untuk hidup?
Anda boleh menyimpan jawaban Anda lalu melanjutkan membaca. Apa perbedaanya?
Pernyataan ini menempatkan kata makan sebagai inti.
Artinya, dengan memilih prinsip ini maka kita setuju bahwa dalam hidup ini kepentingan yang akan kita lakukan adalah untuk makan. Kuantitas dan kualitas makanan seolah tidak menjadi masalah.
Pernyataan ini menempatkan kata hidup sebagai inti. Artinya, kita akan lebih berhati hati dalam menentukan apa yang kita makan. Seberapa banyak porsi nya, apa jenis makanannya dan lain lain.
Kita meyakini bahwa apa yang kita makan akan berpengaruh kepada tubuh kita, bahkan hidup kita.
Saat ini tentunya kita sudah banyak mendengar atau bahkan mengenal langsung mereka yang memilih untuk tidak mengkonsumsi produk hewani setiap harinya.
Mereka menghindari nya karena meyakini bahwa produk nabati lebih baik. Namun tentunya tidak mudah untuk melakukannya.
Tulisan ini bukan bertujuan untuk meminta Anda agar memakan jenis makanan tertentu apalagi memaksa.
Tidak ada seorangpun yang dapat menahan tangan Anda dari menggapai makanan jenis apapun hingga berakhir di dalam perut Anda.
Tulisan ini hanya untuk memberikan pandangan terhadap beberapa ayat Alkitab yang sering digunakan untuk mendukung sebuah pendapat mengenai apakah makanan itu halal atau tidak.
Tulisan ini bertujuan untuk mendudukkan ayat Alkitab sesuai dengan topik dan tujuan penulisannya.
Baca juga: 8 Janji Tuhan yang Indah untuk Anda
6 Alasan Kita Harus Mempercayai Tuhan.
Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit.
Berikut ayat yang diartikan berbeda dari tujuan aslinya dan digunakan untuk mendukung pernyataan bahwa semua boleh dimakan termasuk binatang haram yang dilarang di dalam Alkitab.
Dari ayat 1 sampai 23 sama sekali tidak ada kata atau kalimat yang membahas tentang makanan halal atau binatang haram dalam pasal ini.
Sebenarnya apa latar belakang sehingga Paulus mengatakan kerajaan Allah bukan soal makan atau minuman?
Makanan atau minuman apa yang dimaksud? Agar lebih jelas memahami, kita harus membaca ayat 2 untuk mengetahui latar belakangnya.
Paulus katakan “ yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur sayuran saja.“
Paulus sedang berbicara tentang dua kelompok dalam jemaat Roma dengan pemahaman yang berbeda.
Yang satu menganggap bahwa memakan daging (walaupun halal) adalah salah, hanya boleh hanya memakan sayur-sayuran, sementara bagi kelompok yang lain itu boleh makan daging.
Jadi sama sekali tidak ada pembahasan antara halal atau haram dalam pasal ini, hanya “boleh makan daging atau tidak.”, itu saja.
Lebih jauh yang Paulus sedang soroti adalah kebiasaan mereka yang berpuasa yang sering menghakimi orang yang tidak berpuasa.
Beberapa orang Yahudi kristen saat itu mempercayai bahwa ada pahala jika mereka berpuasa pada hari hari tertentu, dan mereka menghakimi orang lain berdasarkan standard mereka.
Orang Farisi berpuasa dua kali dalam seminggu (Lukas 18:12). Jadi yang sebenarnya Paulus ingin tekankan dalam Roma 14 adalah, berpuasa atau tidak berpuasa pada hari tertentu itu adalah panggilan hati masing masing, tidak berhubungan dengan penentu masuk ke dalam kerajaan Allah.
Baca juga: 5 Cara Agar Mampu Mengatasi Patah Hati
5 Kisah Cinta Pada Pandangan Pertama di Alkitab
Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.”
Matius pasal 15 sama sekali tidak ada menyinggung mengenai makanan yang halal atau haram (Imamat 11).
Latar belakang penulisan ayat itu adalah sebagai berikut, Matius 15:1,2 “Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”
Dari ayat 1 dan 2 ini kita mengetahui bahwa orang Farisi menyerang Yesus dengan cara mempersalahkan Yesus atas kelakuan para murid.
Murid-murid-Nya makan tetapi tidak terlebih dahulu mencuci tangan. Kebiasaan cuci tangan bagi orang Farisi adalah sebuah keharusan.
Karena dipersalahkan maka Yesus memberikan jawab seperti yang terdapat dalam ayat 11, bukan apa yang masuk ke dalam mulut (karena tidak cuci tangan – komentar ditambahkan) yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut (menghakimi, mempersalahkan, menghujat, menuduh), itulah yang menajiskan orang.
Keterangan lebih lanjut ada di ayat 20, Yesus katakan “… tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.”
Jelas bahwa yang menjadi pokok permasalahan adalah membasuh tangan sebelum makan atau tidak.
“Suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai di depanku.” Aku menatapnya dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung.
Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah! Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku. Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari sorga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!”
Kalimat-kalimat dalam ayat ini muncul dari Petrus karena ia sedang menceritakan kembali apa yang ia alami dan lakukan dalam perjalanannya.
Kisah Para Rasul 11:2 “Setibanya Petrus di Yerusalem ia berselisih pendapat dengan orang orang dari golongan yang bersunat (Yahudi) mengenai apa yang dilakukan Petrus yaitu karena ia masuk ke rumah orang yang tidak bersunat (dalam hal ini ke rumah Kornelius) karena orang Yahudi tidak boleh bergaul dengan orang non-Yahudi (Yohanes 4:9).
Apa yang Petrus sampaikan dalam pasal 11 ini adalah apa yang ia alami di pasal 10.
Di ayat 1 katakan di Kaisarea ada seorang bernama Kornelius, pasukan Italia (non Yahudi), ia saleh dan takut akan Allah dan senantiasa berdoa kepada Allah.
Tuhan menyuruhnya menjemput Petrus (Yahudi) yang sedang berada di Yope. Ketika Kornelis menyuruh prajuritnya menjemput Petrus, maka di tempat kediamannya Petrus mengalami peristiwa berikut:
Kisah 10:9 Keesokan harinya ketika ketiga orang itu berada dalam perjalanan dan sudah dekat kota Yope, kira-kira pukul dua belas tengah hari, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa.
10:10 Ia merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa ilahi.
10:11 Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah.
10:12 Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung.
10:13 Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!”
10:14 Tetapi Petrus menjawab: “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.”
10:15 Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.”
10:16 Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit.
Petrus sendiri berkata bahwa peristiwa yang terjadi itu adalah sebuah penglihatan dan dia belum mengerti sepenuhnya apa arti penglihatan itu (Kisah 10:17).
Cerita itu berjalan terus sampai akhirnya Petrus dibawa ke rumah Kornelius (bukan orang Yahudi).
Dan dalam perbincangan mereka inilah kata- kata Petrus di pasal 10:28: Ia berkata kepada mereka:
“Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka.
Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.
Inilah pesan yang Tuhan ingin sampaikan kepada Petrus (Yahudi), ia tidak boleh menganggap bangsa atau suku yang lain (non Yahudi) najis.
Petrus yang adalah seorang Yahudi harus bersedia datang ke rumah Kornelius meskipun ia bukan orang Yahudi.
Tuhan tidak pernah membedakan orang, apalagi menganggap najis suku atau bangsa tertentu (Kisah 10: 34).
Jadi adalah hal yang keliru jika menggunakan ayat ayat ini sebagai dasar yang mengatakan bahwa orang Kristen boleh memakan segalanya.
Sekali lagi, saya tidak sedang memaksa Anda untuk memakan makanan tertentu dan menghindari yang lain.
Hak itu sepenuhnya ada pada Anda, tulisan ini hanya ingin menyampaikan, biarkan Alkitab berbicara tentang dirinya sendiri.
Segala sesuatu yang ditulis ada latar belakang penulisannya, maka tidak baik jika ayat Alkitab tersebut tidak dibaca sesuai dengan konteks penulisannya.
Salam Aman, Iman, Amin.
Kalau mau AMAN miliki IMAN, apa yang Tuhan katakan, AMIN kan.
Jangan lupa untuk membagikan Postingan ini agar semakin banyak yang terberkati.
5 tahun lalu
[…] Hidup Untuk Makan Atau Makan Untuk Hidup? […]