Matius 5:9 menuliskan “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Ayat responsoria: Matius 5:1-9. Lagu buka: 455; Lagu tutup: 395.
Diberkatilah orang yang membawa damai, ini adalah ungkapan ke-7 dalam ucapan bahagia yang disampaikan oleh Yesus dalam seri khotbah di atas bukit yang terdapat dalam Matius 5:9
Baca juga: 5 Cara agar Anda Mampu Mengatasi Patah Hati
Sebelum kita melanjutkan pembahasan mengenai membawa damai, terlebih dahulu kita membaca kitab Lukas 3:23-38.
“Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli, anak Matat, anak Lewi, anak Malkhi, anak Yanai, anak Yusuf, anak Matica, anak Amos, anak Nahum, anak Hesli, anak Nagai, anak Maat, anak Matica, anak Simei, anak Yosekh, anak Yoda, anak Yohanan, anak Resa, anak Zerubabel, anak Sealtiel, anak Neri, anak Malkhi, anak Adi, anak Kosam, anak Elmadam, anak Er, anak Yesua, anak Eliezer, anak Yorim, anak Matat, anak Lewi, anak Simeon, anak Yehuda, anak Yusuf, anak Yonam, anak Elyakim, anak Melea, anak Mina, anak Matata, anak Natan, anak Daud, anak Isai, anak Obed, anak Boas, anak Salmon, anak Nahason, anak Aminadab, anak Admin, anak Arni, anak Hezron, anak Peres, anak Yehuda, anak Yakub, anak Ishak, anak Abraham, anak Terah, anak Nahor, anak Serug, anak Rehu, anak Peleg, anak Eber, anak Salmon, anak Kenan, anak Arpakhsad, anak Sem, anak Nuh, anak Lamekh, anak Metusalah, anak Henokh, anak Yared, anak Mahalaleel, anak Kenan, anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah.”
Di dalam ayat ini Lukas menulis silsilah Yesus di ayat 23 dimulai dari Yusuf dan berakhir di ayat 38 dengan nama Adam dan di tutup dengan anak Allah.
Baca juga: TUHAN TERINGAT
Dengan kata lain, berdasarkan Lukas pasal 3 semua manusia di muka bumi ini sebenarnya adalah Anak Allah, karena pada awalnya kita semua berasal dari Adam dan Hawa.
Maka jika Lukas 3:23-38 dibaca dan dihubungkan dengan Matius 5:9, kita temukan bahwa jika kita semua adalah Anak Allah maka sudah seharusnya kita semua menjadi pembawa damai.
Jika kita bukan pembawa damai lalu kita ini anak siapa? (kita tanyakan di dalam hati masing masing).
Baca juga: TUHAN MENYESAL
Mari kita kembali ke Matius 5. Kita sadari atau tidak, jika kita membaca ucapan bahagia di dalam Matius 5 maka kita akan menemukan bahwa dari segi prinsip, tujuan ucapan bahagia ini sama dengan isi 10 hukum taurat yaitu:
1. Bagaimana cara menjadi umat Tuhan
2. Bagaimana cara hidup sebagai anak anak Tuhan.
Rangkaian kata “membawa damai” adalah kata yang muncul hanya satu kali di dalam Alkitab.
Itu hanya terdapat di dalam Matius 5:9. Kata yang senada/yang memiliki makna yang sama dengan itu tidak muncul di kitab lain.
Tahukah Anda, membawa damai yang dimaksud di sini bukan berbicara mengenai seseorang yang sering mendamaikan atau melerai orang yang sedang bertengkar.
Baca juga: 2 Cara Tuhan Memberi Tanda
Membawa damai bukan berbicara menjadi seorang juru damai. Mungkin Anda akan bertanya, mengapa demikian?
Jika kita melihat ucapan bahagia dari ayat 3 sampai ayat 8 dituliskan sebagai berikut:
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, Berbahagialah orang yang berdukacita, Berbahagialah orang yang lemah lembut, Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, Berbahagialah orang yang murah hatinya, Berbahagialah orang yang suci hatinya.”
Semuanya berbicara mengenai keadaan seseorang, bukan mengenai apa yang harus dilakukan oleh seseorang.
Baca juga: Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit.
Berbahagialah orang yang miskin, ayat ini berbicara tentang keadaan seseorang yang miskin.
Berbahagialah orang yang berdukacita, ayat ini berbicara tentang keadaan seseorang yang sedang berdukacita.
Demikian seterusnya hingga ayat ke 8. Maka dengan demikian, ayat 9 juga harus di baca dengan logika pemikiran yang sama.
Berbahagialah orang yang membawa damai, artinya bukan berbicara mengenai pekerjaan mendamaikan orang yang bertengkar, akan tetapi maksudnya adalah Anda dan saya lah damai itu.
Baca juga: Mengarang Lagu Bersama Tuhan, Kisah Nyata Di Balik Lagu Yesus Sahabat Terindah
Mengapa perintah itu bukanlah mengenai perintah agar kita menjadi juru pendamai orang yang bertengkar?
Kita tentu mengetahui bahwa untuk menjadi juru damai atau mendamaikan seseorang itu tugas yang berat.
Paling sedikit ada 5 syarat yang harus di miliki seseorang ketika akan mendamaikan dua belah pihak yang berseteru:
1. Juru damai itu harus di terima oleh ke dua belah pihak, karena jika ada satu pihak yang menolak maka tujuan damai tidak tercapai.
Baca juga: Cinta Pada Pandangan Pertama
2. Juru damai itu harus dihormati oleh ke dua belah pihak, jika tidak akan direndahkan oleh pihak lain
3. Juru damai itu harus dipercaya oleh kedua belah pihak, jika tidak ia akan dianggap memihak
4. Juru damai itu harus mengerti betul masalah apa yang sedang terjadi, jika tidak ia pun akan bingung sendiri atas apa yang terjadi
5. Juru damai harus dapat menemukan solusi yang menguntungkan (keadilan) bagi kedua belah pihak yang berseteru.
Baca juga: 13 Wanita Paling Cantik di Alkitab. Ini yang Mereka Alami
Dengan syarat yang seberat ini, banyak yang awalnya berniat ingin mendamaikan namun justru menjadikan masalah semakin runyam.
Jadi kalau kita merasa kita tidak memiliki ke-5 poin di atas maka jangan pernah berfikir untuk menjadi juru damai.
Amsal 26:17 “Orang yang ikut campur dalam pertengkaran orang lain adalah seperti orang yang menangkap telinga anjing yang berlalu.”
Masalah tidak selesai, justru menimbulkan masalah baru.
Baca juga: Aku Melihat Yesus
Sering kali terjadi, ketika kita berusaha mendamaikan orang lain, namun kita sendiri yang hancur, kita terseret, menjadi tertuduh atas apa yang sebenarnya tidak kita lakukan.
Mengapa demikian? Karena begitu beratnya resiko menjadi juru damai, syaratnya susah.
Itu sebabnya, Matius 5:9 bukan mengajak kita agar menjadi juru damai, melainkan mengajak agar kita menjadi damai.
Baca juga: Alasan Para Murid Yesus Berani Martir (bag 2)
Mungkin saja ada yang bisa mendamaikan, akan tetapi persoalan selanjutnya adalah:
1. Apakah mereka yang berseteru siap untuk berdamai? Karena sering kali juga terjadi orang orang menutup nutupi keadaan mereka, di luar seperti biasa akan tetapi di dalam masih membara
2. Apakah diantara orang yang berseteru itu ada yang siap mengaku bersalah, karena jika semuanya merasa benar lalu siapa yang mau mengalah?
Ketika dua orang yang sedang berseteru bersedia berdamai, maka kedua belah pihak harus mengerti bahwa itu memerlukan prinsip memberi dan menerima.
Perdamaian tidak selalu dapat memuaskan kedua belah pihak seratus persen, kedua duanya harus mau mengalah.
Baca juga: Inilah Alasan Mengapa Yesus Tidak Dapat Melakukan Mujizat
Dan yang lebih penting lagi, perdamaian harus merupakan sebuah janji bahwa saya akan berubah, agar tidak terjadi lagi masalah di masa depan”.
Sekarang, dengan latar belakang seperti ini, kita akan mengerti betapa dalamnya makna yang terkandung di dalam ucapan bahagia yang Yesus sampaikan.
Saya ingin menghubungkan ayat 8 dengan ayat 9, di ayat 8 katakan berbahagialah orang yang suci hatinya. Ayat 8 ini menjadi pengantar ke ayat 9.
Baca juga: 3 Cara Mengatasi Rindu Menurut Alkitab.
Jika seseorang sudah suci/murni hatinya, maka untuk menjadi damai akan lebih mudah, akan tetapi jika seseorang tidak murni hatinya, selalu ingin membalas, atau memikirkan untuk mencelakakan orang lain, maka akan sulit terjadi perdamaian.
Sekali lagi saya ingin menekankan, arti dari membawa damai dalam Matius 5:9 adalah Anda/saya menjadi perwujudan damai, kita lah damai itu.
Coba kita perhatikan upah apa saja yang disebutkan di dalam Matius 5 ini :
“Empunya Kerajaan Sorga, akan dihibur, akan memiliki bumi, akan dipuaskan, akan beroleh kemurahan, akan melihat Allah, akan disebut anak-anak Allah, empunya Kerajaan Sorga.”
Yang menarik ada di ayat ke-8, dan saya ingin menekankan upah di ayat ke-8 ini sebagai penutup firman ini. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Baca juga: Arti Berkat Dalam Kitab Kejadian
Kita semua tentu ingin melihat Allah dan jika itu terjadi, maka itu pasti sangat membahagiakan.
Akan tetapi kita juga akan sangat berbahagia jika orang lain dapat melihat Allah di dalam diri saya, di dalam diri kita masing masing, dan itu hanya dapat terjadi jika kita bersedia menjadi damai.
Jika kita semua hidup sebagai damai, maka kita tidak membutuhkan lagi yang namanya seorang juru damai.
Orang yang mampu menjadi damai, adalah orang yang sudah berdamai dengan dirinya dan juga dengan Tuhan.
Baca juga: Cerita Cinta di Tengah Permainan Politik dan Kekuasaan…
Kita semua tentu merindukan suasana hidup dalam perdamaian, dan saya percaya kita juga akan mampu untuk mencapainya dengan kuasa dan pertolongan Tuhan.
Ingat, diberkatilah orang yang membawa damai artinya, diberkatilah setiap orang yang bersedia menjadi damai dalam kehidupannya.
Tuhan memberkati kita.
2 tahun lalu
Apakah yg dimaksud dengan “damai” itu sendiri?
2 tahun lalu
saya akan coba jawab dalam postingan berikutnya. terimakasih sudah mampir dan membaca postingan ini