x

Kelimpahan Rohani: Buah Roh Ialah Kasih yang Berbuah

waktu baca 4 menit
Jumat, 9 Apr 2021 10:24 412 Jandri Tumangger

Kita akan membicarakan hal terberat yang saat ini kita rindukan. Namun semoga kita semakin terlatih dan dapat mempraktekkannya.

Pengertian kasih

Dalam bahasa Yunani – AGAPE – Cinta yang tidak mementingkan diri sendiri, cinta tanpa batas , tanpa syarat, bersifat total dan sarat akan pengorbanan diri.

Yohanes 15:13 “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Latar Belakang Surat Galatia.

Ditulis dengan alasan tertentu. Paulus diberitahu bahwa jemaat Galatia dikacaukan oleh pengajaran yang sesat.

Surat ini ditulis di tengah-tengah hangatnya pergumulan di komunitas Yahudi pada saat itu. Orang Yahudi ingin men-yahudi-kan segala jemaat, termasuk jemaat yang didirikan oleh Paulus.

Mereka mencoba meyakinkan orang-orang Galatia bahwa keselamatan adalah upah dari penurutan hukum taurat.

Mereka juga memunculkan isu untuk menentang / meragukan kerasulan Paulus. Dan usaha itu hampir berhasil. Dan berpeluang terjadi perpecahan.

Oleh sebab itu Paulus menuliskan dalam Galatia 5:14 “Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!“ (15) Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

Secara sederhana ayat ini diwakilkan oleh pepatah kuno ini, “Kalah jadi abu menang jadi arang”,  artinya, Tidak ada yang diuntungkan dari permusuhan diantara umat Tuhan.

Lebih lanjut di tulis dalam Galatia 5:16  (BIS) “Maksud saya begini: Biarlah Roh Allah membimbing kalian dan janganlah hidup menurut keinginan tabiat manusia”.

Galatia 5:22(BIS) “Sebaliknya, kalau orang-orang dipimpin oleh Roh Allah, hasilnya ialah: Mereka saling mengasihi,…”

Siapa yang dijangkau oleh Kasih?

Galatia 5:14 … yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Namun muncul pertanyaan, siapakah sesamamu manusia? Pertanyaan ini juga ditanyakan oleh seorang ahli taurat kepada Yesus dalam Lukas 10.

Untuk menjawabnya, Yesus bercerita tentang orang Samaria yang baik hati, memberikan gambaran yang menarik untuk menjawab pertanyaan ini.

Ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho, ia jatuh ke tangan penyamun, ia dirampok habis habisan, memukulinya, bahkan pakaiannya pun diambil.  

Ada seorang Imam melalui jalan itu, ia melihat orang itu namun melaluinya dari sisi lain jalan itu. Demikian juga orang Lewi datang, ia pun melewatinya dari seberang jalan.

Entah apa yang ada dalam pikiran mereka sehingga tidak mau menolong orang itu, mungkin saja karena takut terkena masalah, takut menjadi repot atau rugi karena menolong, atau mungkin karena mereka tidak bisa melihat status orang itu karena ia tidak lagi mengenakan pakaian karena dirampok habis habisan.

Hingga akhirnya lewatlah seorang Samaria, ia melihat orang itu dan hatinya tergerak untuk menolong, membawanya dan mengeluarkan uangnya untuk menolong orang itu.

Di akhir cerita itu Yesus bertanya, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”, Ahli taurat itu menjawab, orang yang menunjukkan belas kasihan itu.

Maka alasan sebenarnya mengapa imam dan orang Lewi itu tidak mau menolong adalah karena mereka merasa itu bukan sesamanya manusia.

Kasih harus dipraktekkan kepada siapa saja, kita harus membiasakan diri kita agar menjadikan semua orang adalah sesama kita.

Bukan karena status ekonomi, pangkat dan tingkat intelektual kita. Karena jika itu masih terjadi maka mereka yang kaya hanya akan melihat bahwa “sesamanya manusia” hanyalah mereka yang juga kaya.

Bagaimana agar kita memiliki Kasih?

Kasih dinyatakan melalui  tindakan yang dihasilkannya, sebagaimana Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

“Hanya dengan menyadari dan meneladani Yesus saja kita dapat memiliki kasih, walau harus dengan pengorbanan diri.”

Saya membuat sebuah akronim dari kata KASIH semoga dengan ini kita semakin dapat memahaminya dengan lebih sederhana,  sebagai berikut:

Kristus sebagai teladan dan motivasi (Yoh 3:16)

Ada pengorbanan diri yang diberikan (Yoh 15:13)

Semua orang menjadi objeknya (Gal 5:14)

Iman menyanggupkan  kita melakukannya (Roma 5:2)

Hendaknya tidak pura-pura (Roma 12:9)

Tuhan memberkati.

Salam Aman, Iman, Amin.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikuti Saya

Vlog

LAINNYA
x