Masyarakat Batak memiliki filosofi hidup yang dikenal dengan sebutan Dalihan Na Tolu.
Filosofi ini mengartikan bahwa roda kehidupan akan selalu berputar.
Setiap orang tidak selamanya di atas dan tidak selamanya di bawah dalam menjalani seluruh kehidupannya.
Dalihan natolu adalah system yang membagi masyarakat Batak dalam tiga golongan fungsional, yaitu hula-hula, dongan tubu (sabutuha) dan boru.
Ketiga-tiganya saling berhubungan menurut pola tertentu, sehingga menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Setiap orang Batak akan menduduki semua posisi dalam konteksnya masing-masing. Ada saatnya menjadi hula-hula, di saat lain bisa menjadi boru atau dongan tubu.
Semua posisi ini memiliki kewajiban dan hak masing-masing yang harus dijalankan dengan senang hati, bahkan sebelum diminta.
Faktanya, Dalihan Na Tolu adalah tungku yang digunakan untuk memasak yang terbuat dari tiga batu.
Pada zamannya, salah satu kebiasaan masyarakat Batak adalah memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tungku ini dalam bahasa Batak disebut dalihan, tolu itu artinya tiga.
Dilihat dari segi fungsi yakni untuk memasak, maka tungku merupakan bagian peralatan rumah yang sangat penting karena terkait dengan kebutuhan hidup keluarga.
Dalam prakteknya, jika memasak menggunakan tungku ini (Dalihan na tolu), karena batu yang digunakan bukan terbuat dari bahan cetakan seperti sekarang ini sehingga terkadang ada ketimpangan karena bentuk batu yang tidak sama.
Maka digunakanlah benda lain untuk mengganjal agar posisinya dapat sejajar. Dalam bahasa Batak, benda itu disebut sihal-sihal. Maka kemudian muncul istilah falsafah dalihan na tolu paopat sihal-sihal.
Baca juga: Musa dan Harun.
Tahun-tahun Kehidupan Yesus yang Tidak Diketahui.
JADILAH SEMPURNA: Sebuah Panggilan dalam Kejadian 17:1.
Mengapa Perpisahan Menimbulkan Kesedihan? 4 Cara Jitu Agar Anda Siap Menghadapi Perpisahan.
Hula-hula adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu (semua marga dari pihak perempuan).
Yang termasuk dalam golongan hula-hula adalah simatua atau mertua (orang tua istri) beserta abang dan adiknya, serta saudara-saudaranya semarga.
Kemudian tulang atau simatua ni ama, yakni mertua ayah beserta saudara-saudaranya semarga.
Kemudian Bona Tulang atau simatua ni ompung, yakni mertua dari ompung beserta saudara-saudaranya semarga.
Setelah itu Bona ni ari, yakni mertua dari ayah ompung beserta saudara-saudaranya semarga.
Bona ni ari merupakan lapisan hula-hula tingkat teratas (M. A, Marbun, Kamus Budaya Batak Toba, (Jakarta : Balai Pustaka, 1987).
Dalam budaya Batak, hula-hula menempati posisi yang terhormat atau yang harus dihormati.
Setiap masyarakat Batak dipesankan harus menghormati hulahula (somba marhula-hula) baik melalui sikap/perbuatan ataupun perkataan.
Hula-hula dianggap merupakan sumber berkat dan kebahagiaan, terutama berkat berupa keturunan putra dan putri.
Baca juga: 4 Cara Menyikapi Penolakan
Baca juga: Apa Arti Berbahagialah Orang Yang Membawa Damai? Dalam Matius 5:9
Baca juga: Cerita Cinta di Tengah Permainan Politik dan Kekuasaan
Baca juga: Cinta Pada Pandangan Pertama
Manat mardongan tubu adalah artinya agar berhati-hati menjaga ikatan persaudaraan supaya terhindar dari malapetaka atau kutukan dari saudara semarga.
Dongan tubu diumpamakan sebagai dua pohon yang tumbuh berdekatan, kalau tidak dijaga baik-baik ranting yang tumbuh maka pohon-pohon tersebut akan saling merusak (Bungaran Anthonius Simanjuntak, Konsepku Membangun Bangso Batak: Manusia, Agama dan Budaya).
Pepatah klasik mengatakan “Hau na jonok do na boi marsiososan”, artinya kayu yang dekat yang akan bergesekan.
Oleh sebab itu, dongan tubu merupakan dua pihak yang semarga yang harus saling menghargai, toleran dan sensitive dalam menjaga perasaan teman semarganya agar tidak terjadi perselisihan.
Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan perpecahan.
Itulah sebabnya orang Batak diperintahkan untuk manat mardongan tubu, yang artinya: menaruh hormat dan bersikap hati-hati kepada saudara semarga agar tidak menyakiti hatinya.
Untuk merencanakan suatu adat (pesta kawin atau kematian), orang Batak selalu membicarakannya terlebih dahulu dengan saudara semarga. Hal itu berguna untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat.
Baca juga: YAKUB DARI BETEL DAN KE BETEL
Baca juga: 8 Pengalaman Musa Menunjuk Kepada Yesus.
Baca juga: 10 Pengalaman Yusuf Menunjuk Kepada Yesus.
Baca juga: 7 Pengalaman Yakub Menunjuk Kepada Yesus
Falsafah yang terakhir dari masyarakat Batak dalam konsep Dalihan Na Tolu adalah elek marboru. Elek artinya bujuk (mangelek=membujuk).
Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain).
Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai ‘parhobas’ atau pelayan, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat.
Namun walaupun berfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.
Elek marboru adalah suatu sikap lemah lembut terhadap pihak “boru” agar dengan cara itu mereka mampu secara Ikhlas mendukung pelaksanaan acara adat (H. P. Panggabean, Pembinaan Nilai-nilai Adat Budaya Batak Dalihan Na Tolu).
Dalihan Na tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut: ada saatnya menjadi Hula hula, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu dan ada saatnya menjadi boru.
Dengan Dalihan Na tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang.
Dalam sebuah acara adat, seorang yang berpangkat Jenderal sekalipun harus siap bekerja untuk melayani dan mensukseskan acara keluarga pihak istri yang mungkin berpangkat lebih rendah darinya.
Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na tolu merupakan system demokrasi orang batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal.
Bila dalihan na tolu dilihat dan dicermati dengan baik maka di dalamnya terdapat prinsip saling menghargai, melayani dan hidup dalam perdamaian.
Alkitab berbicara lebih dahulu mengenai prinsip ini di dalam Roma 12:10,18:
“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.”
Bagi orang batak prinsip Dalihan Na Tolu adalah alasan mengapa harus saling menghormati, melayani dan hidup dalam perdamaian dengan orang lain, tidak ada yang salah dengan itu.
Lebih jauh dari itu alasan yang diberikan rasul Paulus adalah karena kita semua adalah satu anggota keluarga dengan satu Bapa, yang menjadi Bapa kita semua (Efesus 3:14,15).
Saya berfikir bahwa bisa saja hal ini juga yang menjadi dasar pemikiran lahirnya istilah dalihan na tolu dalam budaya batak.
2 tahun lalu
[…] Baca juga: Memahami Pengertian Dalihan Na Tolu Berdasarkan Roma 12:10,18 […]