Siapa yang tidak kenal Mark Elliot Zuckerberg, pemilik perusahaan media sosial raksasa Facebook, Istagram, dan Whatsapp?
Ia adalah putera dari pasangan Karen (psikiater), dan Edward Zuckerberg (dokter gigi). Mark dibesarkan sebagai seorang Yahudi dan menjalani Bar Mitzvah ketika menginjak usia 13 tahun, meski belakangan ia lebih menetapkan dirinya sebagai seorang ateis.
Bar Mitzvah adalah sebuah upacara keagamaan dalam tradisi Yahudi yang menandai kedewasaan rohani seorang anak laki-laki. Dilakukan dengan cara mengadakan sebuah ibadah khusus di sinagoga, membaca Taurat, serta perayaan keluarga dan sosial. Anak tersebut juga memberikan pidato yang disebut D’var Torah, yaitu penafsiran atau refleksi tentang bagian Alkitab yang dibacanya. Bar Mitzvah bukanlah “ritual masuk agama”, tapi pernyataan bahwa seseorang telah cukup dewasa secara rohani untuk memikul tanggung jawab iman secara pribadi.
Zuckerberg mendirikan Facebook pada tahun 2004 bersama teman sekelasnya, Dustin Moskovitz, Eduardo Saverin, dan Chris Hughes ketika menjadi mahasiswa di Universitas Harvard.
Yang cukup mengejutkan, pada kamis 28 Oktober 2021, setelah 17 tahun berdiri, Facebook Inc, induk perusahaan yang selama ini menaungi Facebook, WhatsApp, Instagram itu resmi berganti nama menjadi “Meta.” Perubahan nama Facebook Inc menjadi META ini diumumkan langsung oleh pendiri sekaligus CEO perusahaan, Mark Zuckerberg, dalam konferensi tahunan Connec.
Ketika Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa nama perusahaan Facebook Inc. akan diubah menjadi Meta Platforms Inc., dunia menyambutnya dengan antusias dan rasa penasaran.
Perubahan nama ini bukan hanya sekadar rebranding, tetapi menandakan arah baru perusahaan tersebut: membangun dunia virtual bernama Metaverse, sebuah alam digital yang melampaui media sosial dan menyatukan pengalaman digital melalui cara yang lebih imersif, sosial, dan personal.
Baca juga: Garam itu Menjadi Tawar: Penjelasan dan Pelajaran Penting
Bagaimana Orang Sebelum Zaman Yesus Diselamatkan? Ini Penjelasan Lengkapnya
Namun yang menarik, nama “Meta” menyimpan lebih banyak dari sekadar keunikan branding. Kata ini memiliki makna mendalam dalam bahasa Yunani dan Ibrani, dan jika ditinjau lebih lanjut, mengandung nilai rohani yang bisa menjadi pelajaran reflektif bagi kita semua di zaman modern ini.
Dalam bahasa Yunani, kata “meta” (μετά) memiliki arti “setelah,” “di balik,” atau “melampaui.” Ini adalah awalan yang digunakan dalam banyak kata yang menggambarkan perubahan posisi atau keadaan, seperti:
•Metamorfosis: perubahan bentuk
•Metafisika: ilmu yang membahas hal-hal di balik fisik
•Metanoia: perubahan pikiran atau pertobatan
Mark Zuckerberg secara eksplisit menyebut bahwa pilihan nama “Meta” mencerminkan aspirasi untuk bergerak melampaui batas teknologi saat ini, menuju masa depan di mana dunia fisik dan digital menjadi semakin menyatu. “Meta” menjadi lambang ambisi untuk tidak berhenti pada yang sekarang, tetapi bergerak ke depan, kepada sesuatu yang lebih besar.
Di sini kita melihat bahwa makna “meta” dalam Yunani bersifat progresif, futuristik, dan transformasional. Ini menggambarkan sifat manusia modern yang tidak puas dengan status quo, dan selalu ingin menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru.
Sementara dalam bahasa Yunani “meta” mengarah pada perubahan dan melampaui batas, dalam bahasa Ibrani, kata ini justru memiliki makna yang berbanding terbalik secara emosional dan spiritual.
Dalam Ibrani, “meta” adalah bentuk lampau feminin dari kata kerja “mati”, yang berarti “dia (perempuan) telah mati.”
Contoh penggunaannya dapat ditemukan dalam teks-teks Alkitab seperti Kejadian 35:19: “Demikianlah Rahel mati dan dikuburkan di jalan ke Efrata…”
Penutur bahasa Ibrani langsung menyadari ironi ini ketika Facebook mengumumkan nama barunya. Banyak media Israel bahkan secara berseloroh menulis, “Facebook is dead” (Facebook telah mati), menghubungkan makna literal “meta” dalam Bahasa Ibrani dengan simbol Facebook yang telah berubah secara esensial.
Makna “meta” dalam dua bahasa ini menciptakan sebuah ketegangan simbolik yang menarik. Di satu sisi, arti dalam bahasa Yunani memberi arti “melampaui,” menandakan harapan, transformasi, dan masa depan. Di sisi lain, arti dalam Bahasa Ibrani memberi arti “mati,” yang melambangkan akhir, kesunyian, dan kefanaan.
Baca juga: 6 Hal yang Harus Dilepaskan Menurut Alkitab
5 Pelajaran Dari Bekas Luka Di Tangan Yesus
Namun justru dalam kontras ini kita bisa menemukan pesan rohani yang dalam. Sebuah pelajaran yang menyentuh inti dari iman dan spiritualitas manusia, yakni:
“Untuk dapat melampaui, kadang sesuatu harus terlebih dahulu mati.” Ini bukan hanya filosofi, tetapi prinsip rohani yang alkitabiah.
Dalam Kitab Suci, ide tentang kematian sebagai syarat untuk kelahiran baru adalah konsep yang berulang:
•Yohanes 12:24
“Sesungguhnya jika biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”
•Galatia 2:20
“Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku…”
•Roma 6:6
“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya…”
Dengan kata lain, kematian (baik secara jasmani, simbolik, atau rohani) sering kali diperlukan untuk mengalami transformasi, kelahiran baru, dan melangkah “melampaui” batas manusia lama.
Kata “meta” menjadi sangat relevan jika dipandang dari perspektif ini:
•Melampaui dunia lama (meta – Yunani)
•Meninggalkan manusia lama (meta – Ibrani)
Dalam kehidupan spiritual Kristen, kita dipanggil untuk:
•Mematikan keinginan daging (Kolose 3:5)
•Meninggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru (Efesus 4:22-24)
Kita tidak bisa mengalami transformasi rohani jika kita tidak bersedia melepas hal-hal lama yang mengikat. Sama seperti Meta Platforms, ingin melampaui batasan lama dan memasuki era baru, kita juga diundang untuk masuk ke dimensi baru bersama Kristus sebuah “metaverse rohani”.
Baca juga: Makna Tirai Bait Suci yang Terkoyak Saat Yesus Mati
5 Pelajaran Dari Bekas Luka Di Tangan Yesus
Namun, pemilihan kata “Meta” juga menjadi sebuah peringatan. Dunia hari ini sangat terpesona oleh kemajuan, oleh “melampaui” batas-batas, namun seringkali tanpa arah spiritual yang benar.
Tanpa kematian terhadap dosa, tanpa kerendahan hati, dan tanpa penyerahan kepada kehendak Allah, semua upaya untuk “melampaui” justru dapat membawa manusia lebih jauh dari Tuhan, bukan lebih dekat.
Nama “Meta” yang dipilih oleh Mark Zuckerberg secara tidak langsung membuka ruang refleksi yang dalam. Dalam bahasa Yunani, kata ini memunculkan semangat untuk terus melampaui dan berubah. Dalam bahasa Ibrani, kata yang sama mengingatkan kita akan kematian, sesuatu yang tidak nyaman tetapi esensial untuk kebangkitan dan transformasi sejati.
Secara rohani, “Meta” mengajak kita untuk bertanya: Apa yang harus mati dalam diriku agar aku bisa melampaui diriku yang lama dan hidup dalam panggilan Tuhan yang sejati? Dalam dunia yang terus berubah, di tengah gempuran teknologi dan budaya digital, pertanyaan ini menjadi sangat penting.
Dunia boleh saja memasuki metaverse, tetapi sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup dalam metanoia, yaitu perubahan pikiran yang membawa kita lebih dekat kepada Kristus.
4 bulan lalu
[…] 1 bulan lalu Lidya: Keramahtamahan, Ketulusan, dan Warisan Iman 2 bulan lalu Rahasia di Balik Meta, Nama Pilihan Zuckerberg 2 bulan lalu Benarkah Akan Ada Pengangkatan Rahasia Sebelum Kedatangan Yesus? 2 […]
4 bulan lalu
Amin…
Terpujilah Nama Tuhan