x

Bisikan dari Keabadian: Mendengarkan Suara Tuhan

waktu baca 6 menit
Selasa, 25 Apr 2023 08:08 828 Jandri Tumangger

Pernahkah Anda mendengar suara Tuhan? Ulangan 28 dengan sangat jelas menyampaikan betapa pentingnya mendengar suara Tuhan.

“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:”

Keputusan apakah kita akan menerima berkat Tuhan atau tidak sering kali dihubungkan dengan kesediaan kita mendengar suara Tuhan, prinsip ini jelas di dalam Alkitab.

Prinsip penting lain yang ditekankan di dalam Alkitab adalah penurutan kepada Tuhan.

Coba bayangkan, bukankah akan lebih mudah bagi kita untuk hidup sesuai petunjuk Tuhan jika kita dapat mendengar dan mengenali suara Tuhan?

Baca juga: TUHAN TERINGAT

Baca juga: 6 Alasan Kita Harus Mempercayai Tuhan.

Pengampunan dari Atas: Penyesalan dan Penebusan Tuhan

SEBERAPA BESAR TUHAN ITU?

Mengarang Lagu Bersama Tuhan, Kisah Nyata Di Balik Lagu Yesus Sahabat Terindah

Tuhan Lebih Besar dan Lebih Kuat, Optimis Era 4.0

60 Nubuatan Mesias di Perjanjian Lama Secara Harfiah Digenapi oleh Yesus dari Nazaret

Bahkan, jika kita dapat mendengar suara Tuhan maka kita tidak akan kebingungan harus melakukan apa, sederhananya kita akan terhindar dari pelanggaran.

Belakangan ini banyak orang mengaku bahwa mereka menerima perintah dari Tuhan, mereka mendengar suara Tuhan berbicara langsung kepada mereka dengan sebuah pesan.

Mulai dari tokoh agama hingga penjual obat melakukan hal yang sama, hanya agar orang yakin dengan apa yang mereka sampaikan.

Masalahnya kemudian adalah, kita bukan Adam yang mendengar suara Tuhan di Taman Eden (Kejadian 3:9,10), bukan pula Abraham (Kejadian 12:1), Musa (ulangan 4:12), Samuel (1 Samuel 3:4), Paulus (Kisah 9:4) dan tokoh Alkitab lainnya.

Istilah mendengar suara Tuhan di dalam Alkitab memang tidak selalu menunjuk kepada kegiatan mendengar dengan telinga, tetapi juga kepada mengenali mana kehendak Tuhan.

Kita sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan, pilihan mana yang harus dipilih, keputusan apa yang harus diambil, dan kita sangat membutuhkan petunjuk yang jelas untuk itu.

Jika demikian, bagaimana mengetahui manakah perintah Tuhan, bagaimana mengenali suara Tuhan?

Tulisan ini secara sederhana akan menjawab pertanyaan ini berdasarkan kitab 1 Samuel 24 dan 25.

1 Samuel 24 dan 25 Bercerita tentang dua rencana pembunuhan yang batal dilakukan.

Di dalam cerita ini Tuhan absen (tidak ikut campur), Ia tidak memberikan petunjuk bahwa ini adalah rencana-Nya atau tidak.

Akibatnya orang orang dalam cerita ini mencoba membaca situasi dan memberi asumsi sendiri bahwa mereka mendengar suara Tuhan.

Rencana Pembunuhan dalam 1 Samuel 24

Kita mengetahui bahwa Saul berulang kali berencana membunuh Daud, akan tetapi tidak pernah berhasil.

Suatu kali Daud melarikan diri ke padang gurun En-Gedi. Ketika Saul mengetahui keberadaan Daud ia membawa tiga ribu orang terpilih untuk mencarinya di En-Gedi.

Dalam pencarian itu Saul masuk ke dalam sebuah Goa untuk membuang hajat, dan tidak diketahuinya bahwa Daud dan orang-orangnya ada didalam goa itu.

Tentunya jika ini adalah peperangan nyata bagi Daud, Saul sudah tentu kalah dan mati terbunuh di tangan Daud karena ia bisa di serang dari belakang.

Dalam situasi ini berkatalah orang orangnya kepada Daud (ayat 5):

“Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam.”

Secara sederhana orang orangnya Daud ingin mengatakan bahwa ini adalah suara Tuhan, petunjuk Tuhan atau kehendak Tuhan agar tuanku Daud membunuh Saul.

Selama ini Saul berusaha membunuh Daud namun tidak berhasil dan kini saatnya Tuhan memberi kesempatan untuk membunuh Saul.

Rencana Pembunuhan dalam 1 Samuel 25.

Suatu kali Daud menyuruh orang-orangnya kepada seorang pengusaha kaya di Karmel, orang itu bernama Nabal istrinya bernama Abigail.

Daud meminta agar mereka diberikan sedikit dari kepunyaannya untuk membantu Daud dan orang orangnya.

Baca juga: 5 Perpisahan Paling Menyedihkan dalam Kitab Perjanjian Lama

Baca juga: Alasan Mengapa Perpisahan Mengakibatkan Kesedihan dan Cara Agar Siap Menghadapi Perpisahan.

Baca juga: 4 Cara Menyikapi Penolakan

Baca juga: Cerita Cinta di Tengah Permainan Politik dan Kekuasaan

Baca juga: Cinta Pada Pandangan Pertama

Baca juga: 5 Kisah Cinta Pada Pandangan Pertama di Alkitab

Baca juga: Aku Melihat Yesus

Namun respon yang diberikan Nabal tidak menyenangkan hati Daud, 1 Samuel 25:9-11 menulis:

“Ketika orang-orang Daud sampai ke sana, berkatalah mereka kepada Nabal atas nama Daud tepat seperti yang dikatakan kepada mereka, kemudian mereka menanti. Tetapi Nabal menjawab anak buah Daud itu, katanya: “Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu? Pada waktu sekarang ini ada banyak hamba-hamba yang lari dari tuannya. Masakan aku mengambil rotiku, air minumku dan hewan bantaian yang kubantai bagi orang-orang pengguntingku untuk memberikannya kepada orang-orang yang aku tidak tahu dari mana mereka datang?”

Mendengar perkataan ini Daud memutuskan untuk pergi membunuh Nabal, ia membawa beberapa orang yang membawa pedang bersamanya.

Ketika Daud sudah mendekati rumah Nabal, di perjalanan Abigail yang sudah mendengar hal itu segera menemui Daud dan memberikan bekal yang sudah ia persiapkan sebelumnya.

Saat itu Abigail berkata kepada Daud agar ia mengurungkan niatnya untuk membunuh Nabal karena justru akan merugikan dirinya sendiri.

Nama besar Daud akan menjadi rusak karena tindakan yang tidak terpuji jika ia membunuh Nabal.


1 Samuel 25:30,31 “Apabila TUHAN melakukan kepada tuanku sesuai dengan segala kebaikan yang difirmankan-Nya kepadamu dan menunjuk engkau menjadi raja atas Israel, maka tak usahlah tuanku bersusah hati dan menyesal karena menumpahkan darah tanpa alasan, dan karena tuanku bertindak sendiri dalam mencari keadilan. Dan apabila TUHAN berbuat baik kepada tuanku, ingatlah kepada hambamu ini.”

Daud akhirnya tidak jadi membunuh Nabal dan ini kata kata Daud kepada Abigail:

“Tetapi demi TUHAN, Allah Israel yang hidup, yang mencegah aku dari pada berbuat jahat kepadamu — jika engkau tadinya tidak segera datang menemui aku, pasti tidak akan ada seorang laki-laki pun tinggal hidup pada Nabal sampai fajar menyingsing.”

Manakah Suara Tuhan?

Di dalam 1 Samuel 24 orang orang Daud mengklaim bahwa yang terjadi saat itu adalah petunjuk dan rencana Tuhan agar Daud membunuh Saul, namun ia tidak melakukannya.

Kita juga tidak pernah membaca ayat yang memberikan petunjuk bahwa Tuhan pernah mengatakan hal seperti itu kepada Daud.

Baca juga: Pengertian Damai Menurut Alkitab

Baca juga: Apa Artinya Diberkatilah Orang Yang Membawa Damai?

Baca juga: Apa Arti Kasihilah Musuhmu dan Berdoalah Bagi Mereka yang Menganiaya Kamu?

Baca juga: Yesus Berjanji Mendahului Kamu ke Galilea

Di dalam 1 Samuel 25 Daud sendiri mengaku bahwa apa yang disampaikan oleh Abigail kepadanya adalah suara Tuhan sehingga ia tidak jadi membunuh Nabal.

Sementara Tuhan tidak muncul dalam kedua kisah ini dan memberikan petunjuk siapakah yang mewakili-Nya dalam menyampaikan pesan.

Jika demikian manakah yang benar benar mewakili suara Tuhan?

Prinsip paling mendasar yang harus kita miliki untuk mengenal suara Tuhan adalah:

“Suara Tuhan Tidak Akan Bertentangan Dengan Hukum Tuhan”.

Hukum Tuhan jelas “jangan membunuh,” maka dalam hal ini kita melihat bahwa Abigail mewakili suara Tuhan karena sejalan dengan perintah Tuhan agar tidak membunuh.

Mungkin Anda berkata, tetapi kita juga menemukan di Alkitab bahwa Tuhan juga memerintahkan untuk membunuh, bagaimana dengan hal itu? Tentunya itu topik yang berbeda dengan pembahasan kali ini.

Mazmur 109:104-106 menulis:

“Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum-hukum-Mu yang adil.”

Kita dapat menyimpulkan bahwa menuruti hukum Tuhan adalah cara kita mengetahui dan mendegar suara Tuhan.

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikuti Saya

Vlog

LAINNYA
x