Ayat Inti: I Korintus 10:31
Jauh sebelum pembangunan Burj Khalifa, yakni sebuah bangunan yang bernilai sekitar US$20- US$ 30 miliar, di arsiteki oleh Skidmore, Owings and Merrill, pernah ada upaya pembangunan menara Babel yang direncanakan akan menjadi menara tertinggi.
Burj Khalifa sebelumnya bernama Burj Dubai, sebuah gedung pencakar langit di Dubai, Uni Emirat Arab diresmikan pembukaannya pada 4 Januari 2010.
Ketinggiannya adalah 828 meter (2.717 kaki).
Baca juga: 6 Alasan Mengapa Berdoa Dalam Nama Yesus.
Prestasi yang dicapai oleh gedung ini:
Burj Khalifa adalah bangunan tertinggi di dunia yang pernah dibuat oleh manusia.
Melewati ketinggian Taipei 101 (508 m) sebagai bangunan tertinggi di dunia pada 21 Juli 2007.
Melewati ketinggian Petronas Towers (Kuala Lumpur, Malaysia) diresmikan pada 1998 dengan ketinggian 452 m.
Melewati ketinggian World Trade (New York, AS) akan diresmikan pada 2013 dengan ketinggian 541 m.
Baca juga: 6 Alasan Kita Harus Mempercayai Tuhan.
Rekor lain dari menara ini adalah:
Memiliki lift dengan kecepatan 10-16 m/detik dan menjadi bangunan dengan paling banyak lantai yakni 160 (sebelumnya menara Willis dan World Trade Center – 110 lantai).
Tinggi Menara ini direncanakan mencapai langit (sangat tinggi), dan sudah pasti akan menjadi ikon kebesaran kota itu.
Pembangunan yang di arsiteki oleh Nimrod dan dan rekan-rekan nya ini seharusnya menjadi bangunan paling tinggi yang akan ada jika itu benar-benar selesai dikerjakan.
Baca juga: TUHAN TERINGAT
Kejadian 11:3-4:
“Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan tér gala-gala sebagai tanah liat. Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”
Mungkin kita berfikir bahwa teknologi sekarang jauh lebih canggih dari zaman dahulu tetapi Alkitab mencatat bahwa dengan kepintaran orang–orang pada zaman itu sangat memungkinkan untuk keberhasilan pembangunan menara tersebut.
Baca juga: TUHAN MENYESAL
Sebagaimana yang ayat 6 tuliskan:
“dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.”
Namun ada alasan apa dibalik gagal nya pembangunan menara yang seiogianya menjadi kebanggaan dunia ini?
Mari kita lihat terlebih dahulu apa yang menjadi tujuan awal pembangunan menara ini.
Baca juga: Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit.
Ayat 2 “Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana”
Namun bukan hanya karena datar, tapi dalam buku Sejarah Para Nabi hal 130 menuliskan bahwa tempat itu juga indah dan subur tanahnya, sehingga mereka memutuskan untuk membangun rumah kediaman mereka di sana.
Baca juga: 2 Cara Tuhan Memberi Tanda
Ini menjadi lumrah karena mereka berfikir akan mendapat penghasilan alam yang baik demi kelangsungan hidup mereka.
Ayat 4 “Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”
Baca juga: Saat Yesus Tidak Dapat Membuat Mukjizat
Maksudnya adalah agar dunia mengakui keberadaan dan kehebatan mereka sebagai arsitek dan pembangun menara yang mengagumkan tersebut.
Buku Alfa dan Omega Jil I hal 130 menuliskan sebagai berikut:
”Menara yang megah ini, yang puncaknya menjulang ke angkasa dimaksudkan sebagai satu tugu peringatan akan kekuasaan dan kebijaksanaan pembangun-pembangun nya, dan mengabadikan kemashyuran mereka kepada generasi mendatang.”
Baca juga: Aku Melihat Yesus
“Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup.”
Pada dasarnya mereka tidak percaya kepada janji Tuhan bahwa tidak akan ada lagi air bah di bumi dan Tuhan menaruh busur/pelangi menjadi tandanya.
Baca juga: Alasan Para Murid Yesus Berani Martir (bag 2)
Tujuan mereka “menjaga keselamatan diri seandainya air bah datang lagi, dengan bangunan yang sangat tinggi mereka berfikir akan dapat selamat dari ancaman air bah yang ganas itu.”
Kembali kepada pertanyaan di atas, apa alasan dibalik gagalnya pambangunan menara yang seharusnya menjadi kebanggaan dunia ini?
Saya akan membacakan Kejadian 11:3 dan 4 ini dalam Alkitab terjemahan versi Firman Allah Yang Hidup, demikan bunyinya:
”Orang-orang disitu mulai merencanakan untuk membuat sebuah kota yang besar, dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Menara itu akan merupakan sebuah tugu kebanggaan yang kekal bagi diri mereka sendiri.” Ini akan mempersatukan kita,” kata mereka, “sehingga kita tidak akan tercerai berai ke seluruh dunia.” Demikianlah mereka menumpukkan batu bata yang dibakar sampai keras, dan menggunakan ter (gala-gala) sebagai bahan adukan.”
Disini jelas sekali terlihat motif pembangunan menara itu, yaitu untuk kebanggaan yang kekal bagi diri mereka sendiri.
Baca juga: 2 Perayaan Ulang Tahun Berujung Malapetaka. Bagaimana Merayakan Ulang Tahun?
Saudara-saudara saat ini kita juga sedang membangun sebuah menara, menara yang harus menjadi tanggung jawab kita masing masing, kita sebut saja menara itu adalah “menara penginjilan”.
Saya bukan berbicara bangunan tapi berbicara tentang penginjilan secara keseluruhan.
Setiap gereja tentunya sedang membuat strategi terbaik dalam penginjilan, strategi terbaik dari sebuah penginjilan adalah dengan membuat “pusat pengaruh” atau centre of influence.
Pertanyaannya, bagaimana kesiapan pribadi kita dalam melakukan penginjilan ini?
Baca juga: 3 Cara Mengatasi Rindu Menurut Alkitab.
Apakah kita yakin bahwa nama Tuhan akan tetap diagungkan dalam pembangunan menara-menara penginjilan yang kita lakukan?
Saya ingin menyampaikan bahwa tujuan penginjilan kita harus menjadi Antitesis dari tujuan pembangunan menara Babel.
Jika alasan pembangunan menara Babel yang pertama adalah karena mereka menemukan tempat yang datar dan subur, maka menara penginjilan harus tetap dibangun sekalipun seperti nya menurut kita lahan itu bukan lahan penginjilan yang subur.
Baca juga: 4 Cara menyikapi penolakan
Ada sebuah dilema dalam penginjilan, biasanya ketika kita melihat ada hasil dari pekerjaan yang kita lakukan maka kita akan semakin semangat, namun kalau tidak ada hasil biasanya akan melemah.
Akan tetapi walaupun tempat itu terlihat subur atau tidak, penginjilan harus tetap dilakukan.
Jika kita menilai kebserhasilan dari kuantitas maka NUH adalah seorang penginjil yang gagal untuk mencapai kuantitas yang tinggi.
Nuh menginjil namun tetap saja hanya Nuh dan anggota keluarga nya yang selamat.
Baca juga: 5 Perpisahan Paling Menyedihkan dalam Kitab Perjanjian Lama
Dalam hal ini, penilaian bukan hanya karena kuantitas yang didapatkan, namun lebih kepada menjawab pertanyaan “apakah kita melakukan tanggung jawab pengijilan yang dipercayakan oleh Tuhan bagi kita?.”
Alasan kedua pembangunan menara Babel itu adalah supaya kumpulan orang banyak itu tidak tersebar luas maka menara penginjilan harus dibangun dan disebarluaskan.
Saya tidak sedang berbicara bahwa kita harus menjadi seorang missionaris harus dikirim ke berbagai daerah agar tersebar luas, namun saya sedang berbicara tentang seseorang itu harus menjadi aktif dalam penginjilan, bukan pasif.
Baca juga: Saat Yesus Tidak Dapat Membuat Mukjizat
Jika setiap orang aktif di lingkungan masing masing maka penginjilan ini juga akan tersebar.
Jika alasan ketiga pembangunan menara Babel itu adalah untuk mencari nama agar mereka dikenal dan diagungkan karena karya yang hebat, maka menara penginjilan harus di bangun untuk memperkenalkan Tuhan dan karya-Nya yang dahsyat agar semua orang mengagungkan Dia.
Jangan sampai ada motif-motif yang tersebunyi yang tidak berkenan bagi Allah dalam setiap penginjilan yang kita lakukan.
Hanya kesaksian tentang kehebatan Tuhan yang selalu di kedepan kan dibanding kesaksian tentang kehebatan kita.
Baca juga: 6 Alasan Mengapa Berdoa Dalam Nama Yesus.
Pada waktu para orang percaya berkumpul sesaat sebelum Yesus terangkat ke Sorga, Yesus menyuruh mereka untuk tidak meninggalkan Yerusalem sampai mereka menerima “Roh Kudus”.
Dalam melakukan penginjilan kita harus menyertakan Roh Kudus, karena sejak awal memang Yesus membuat program penginjilan itu dengan menyertakan Roh Kudus (kamu hanya akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun atasmu), dan kamu akan menjadi saksi-Ku.
Ketika kita menyertakan Roh kudus, maka kita hanya akan meninggikan Tuhan dalam setiap penginjilan gantinya meninggikan diri.
Baca juga: Mengarang Lagu Bersama Tuhan, Kisah Nyata Di Balik Lagu Yesus Sahabat Terindah
Jika alasan keempat dalam pembanguna menara Babel adalah karena mereka tidak sepenuhnya percaya kepada Tuhan dan Janji-Nya, maka penginjilan harus dilakukan atas dasar kita mempercayai Tuhan dan janji-janji-Nya.
Matius 28:19-20 adalah mandat bagi kita untuk melakukan penginjilan, Tuhan senantiasa akan menyertai sampai pada kesudahan zaman.
Mengakhiri tulisan ini saya mengutip sebuah kalimat dari buku Alfa Omega jilid I hal 135 menuliskan:
”Waktu di mana Allah akan datang untuk menyelidiki sudah dekat. Yang Maha Tinggi akan turun untuk melihat apa yang telah didirikan manusia. Kekuasaan-Nya yang hebat itu akan dinyatakan, dan hasil pekerjaan dari pada kesombongan manusia akan dihancurkan .”
Kiranya Tuhan Memberkati kita. AMIN.
Tidak ada komentar