x

Penyesalan Terungkap di Alkitab: Dua Nuansa Penyesalan

waktu baca 8 menit
Jumat, 2 Des 2022 20:03 1461 Jandri Tumangger

Apa artinya menyesal? Pernahkah Anda mengalami penyesalan? Apa yang Anda lakukan setelah menyesal?

Ayat Inti: II Petrus 3:9; Ayat bersahutan : Matius 27:3-5; Lagu LS.35, LS. 63

Seringkali dalam kehidupan kita mendengar kata “Menyesal”, bahkan mengalami peristiwa yang menimbulkan penyesalan.

Ungkapan yang paling akrab yang kita tahu tentang menyesal adalah “Penyesalan selalu datang terlambat”.

Baca juga: Mengarang Lagu Bersama Tuhan, Kisah Nyata Di Balik Lagu Yesus Sahabat Terindah

Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit.

6 Hal Ini Harus Dilepaskan Menurut Alkitab

Di dalam Alkitab terdapat dua kata yang digunakan untuk menjelaskan penyesalan:

1. Metamelomai

Ini adalah kata yang pertama. Jenis penyesalan ini dialami oleh Yudas, salah satu dari murid Yesus.

“Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, Menyesallah ia” (Matius 27:3).

Kata Menyesal dalam ayat ini diterjemahkan dari kaya Yunani Metamelomai yang berarti “menyesal”.

Arti nya sama, namun yang berbeda adalah akibat dari yang ditimbulkannya. seseorang yang mengalami jenis penyesalan ini (Metamelomai), ia tidak dipimimpin kepada keselamatan.

Dengan kata lain, penyesalan yang dialami Yudas ini hanya sekedar penyesalan biasa, bukan keinsafan akan dosa karena Roh Kudus.

Ini tidak lebih dari sekedar dukacita karena ketahuan melakukan suatu kesalahan.

Dukacita dan penyesalan macam ini hanya memimpin kepada penyesalan, depresi, mengasihani diri sendiri, dan tanpa pengharapan.

Yudas hanya mengalami pertobatan palsu dari perasaan kasihan atas penangkapan Yesus malam itu.  

Baca juga: Yesus Berjanji Mendahului Kamu ke Galilea

Baca juga: Saat Yesus Tidak Dapat Membuat Mukjizat

Baca juga: 6 Pengalaman Yunus Sama dengan Yesus

King James Bible memberikan arti dari ayat Matius 27:3 ini, Ia “menyesali dirinya sendiri.” Artinya, bukan Allah yang menghasilkan nya.

Itu murni dukacita manusiawi, bukan dukacita menurut kehendak Allah yang mengerjakan pertobatan.

Ini bukan dukacita menurut kehendak Allah yang menghasilkan perubahan pikiran yang sejati, Yudas hanya kasihan pada diri sendiri.

Ini hanya “dukacita menurut dunia (yang menghasilkan) kematian. Sehingga ia “pergi dari situ dan menggantung diri” (kita dapat baca kisah kematian Yudas dalam Matius 27:5).

Buku Alfa Omega Jil.6 hal (366) memberi komentar tentang Yudas sebagai berikut:

“Kini Yudas tersungkur di kaki Yesus, mengakui Dia sebagai Anak Allah, dan memohon agar Ia melepaskan diri‑Nya. Juru selamat tidak mencela orang yang telah mengkhianati Dia.Ia mengetahui bahwa Yudas tidak bertobat; pengakuannya dipaksakan dari jiwanya yang bersalah oleh suatu perasaan bersalah yang menakutkan dan oleh menunggu penghukuman,tetapi ia tidak merasakan kesedihan yang dalam dan menghancurkan hati, bahwa ia telah menyerahkan Anak Allah yang tidak bercacat, dan menyangkal Kesucian Israel.Meski pun demikian Yesus tidak mengucapkan perkataan yang mempersalahkan. Ia memandang kepada Yudas dengan belas kasihan, dan mengatakan, untuk masa ini Aku datang ke dalam dunia.”

Baca juga: 6 Fakta Tentang Harun yang Harus Diketahui

Baca juga: Bahaya dan Cara Mengatasi Ketamakan

Baca juga: Apa Arti Diberkatilah Orang Yang Membawa Damai?

2. Metanoia

Bentuk penyesalan yang kedua adalah metanoia. Jenis penyesalan inilah yang dialami oleh Petrus, ia juga adalah seorang dari murid Yesus namun memiliki respon yang berbeda dari Yudas.

Matius 26:75 menulis, “…Lalu ia pergi keluar dan menangis dengan sedihnya.”

Alkitab tidak dengan jelas menyebutkan bahwa ia menyesal, akan tetapi reaksi yang terjadi kepadanya sudah cukup memberitahu kita bahwa ia menyesal.

Yang terjadi kepada Petrus tergambar dalam perkataan Paulus di dalam 2 Korintus 7:10:

“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian”.

Kata Yunani untuk pertobatan di sini adalah “metanoian”, dukacita menurut kehendak Allah pasti menghasilkan pertobatan sejati, yang memimpin kepada keselamatan di dalam Kristus.

Kata yang diterjemahkan Pertobatan dalam 2 Korintus 7:10 berbeda dari kata yang digunakan dalam Matius 27:3, di mana Yudas menyesali dirinya sendiri.

Kata Yunani dalam 2 Korintus 7:10 adalah bentuk dari kata “Metanoia” yang berarti suatu perubahan pikiran.

Metanoia disini adalah perubahan menyeluruh dari hati dan pikiran seseorang yang hanya dapat dihasilkan oleh Allah.

Dr. George Ricker Berry (1865-1945) berkata bahwa metanoia adalah “kata yang lebih terhormat (dari pada kata metamelomai).

Itu adalah ekspresi umum untuk pertobatan menyeluruh” (sumber Greek-English New Testament Lexicon).

Dukacita menurut kehendak Allah dihasilkan oleh Roh Kudus, yang mana kemudian menghasilkan pertobatan, suatu pikiran baru, yang memimpin kepada keselamatan di dalam Kristus.

Inilah yang terjadi kepada Petrus, sehingga kita tidak pernah membaca berita bahwa ia mencelakakan dirinya oleh karena penyesalan.

Yang terjadi adalah sebaliknya, Petrus melakukan banyak pekerjaan ajaib yang berasal dari Tuhan.

Saudara-saudara, pernahkah kita mengalami penyesalan yang berasal dari Roh kudus lalu kita bertobat?

Atau sama sekali tidak pernah menghiraukan Roh kudus? Kalau itu terjadi berarti kita sedang mendukakan Roh Kudus.

Lama kelamaan jika hal itu terus menerus kita pelihara, maka Roh Kudus akan undur dari kita.

Tidak ada lagi yang mengingatkan kita untuk datang meminta ampun kepada Tuhan.

Baca juga: SUARA TUHAN

TUHAN TERINGAT

Pengampunan dari Atas: Penyesalan dan Penebusan Tuhan

Kevin Carter dan Penyesalan nya.

Pada bulan maret 1993, ia berangkat dari Afrika selatan menuju Sudan  untuk membuat liputan tentang pemberontakan yang sedang terjadi di negara itu.

Sesampainya disana Kevin melihat bahwa hal yang terburuk adalah Kelaparan bukan pemberontakan.

Ketika mengunjungi sebuah kampung, tiba tiba Kevin terhenti, setelah ia memperhatikan dan mencari sekeliling, ia menemukan seorang anak perempuan menangis sedang duduk  di atas tanah tidak  jauh darinya.

Anak yang sama sekali tidak mengenakan pakaian itu sudah tidak kuat lagi untuk berjalan ke tempat penampungan pengungsi milik PBB yang berjarak 1 km.

Anak itu memejamkan matanya dan menangkupkan kepala nya ke tanah. Tidak jauh darinya seekor burung pemakan bangkai sedang berdiri memperhatikan dan menunggu kematian anak tersebut.

Kevin tidak segera mengambil kamera nya namun menunggu sampai burung itu meninggalkan anak itu selama 20 menit.

Burung tersebut tak kunjung pergi, lalu Kevin mengambil gambar anak itu dan bergegas pergi ke tempat lain.

Ia menjual foto itu kepada majalah New York Times pada tgl 26 maret 1993, dan segera banyak pembaca yang langsung menghubungi mengenai keberadaan anak dalam foto tersebut dan tidak ada seorangpun yang tau nasib anak  kecil tersebut.

Satu tahun kemudian foto ini berhasil masuk dalam jajaran foto terbaik di dunia.

Foto ini berhasil mendapat penghargaan tertinggi dalam bidang photography (PULITZER prize)  23 Mei  tahun 1994 di Colombia university.

Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang terjadi pada anak itu, termasuk si fotografer Kevin Carter yang meninggalkan tempat segera setelah foto diambil..

Namun Tiga bulan kemudian Kevin Carter melakukan bunuh diri karena depresi.

Kemungkinan terbesar yang terjadi adalah, anak itu mati dan dimakan oleh burung tersebut, karena tidak seorang pun tahu apa yang terjadi dengan anak itu.

Kevin merasa tertekan karena banyak olok kan yang ditujukan kepadanya yang berpendapat bahwa ia lebih mengutamakan profesi nya daripada naluri kemanusiaan nya.

Walaupun Kevin menjelaskan bahwa alasan ia tidak menyentuh anak itu karena takut terjangkit berbagai penyakit.

2 bulan setelah memperoleh penghargaan itu tgl 27 Juli 1994 Kevin ditemukan tewas karena bunuh diri dalam mobilnya.

Saudara-saudara Kevin Carter boleh saja melahirkan karya besar, foto yang diabadikan nya dikenal oleh dunia, mungkin saja dia memperoleh keuntungan materi yang besar dari karyanya.

Akan tetapi, lihatlah bahaya nya penyesalan, ketika penyesalan nya tidak berasal dari Roh Kudus, dia hanya berujung  pada  kematian.

Saudara-saudara, akan ada banyak peristiwa dalam kehidupan kita yang akan setan gunakan untuk menjatuhkan kita.

Mungkin dosa-dosa kita di masa lalu, setan akan ungkit dan besar-besarkan masalah ini sehingga kita merasa tidak layak untuk datang kepada Tuhan.

Kita merasa orang paling berdosa, dan kita merasa kita layak mati, disini lah setan menang saudara2.

Ada satu janji Tuhan yang harus menjadi pegangan kita agar kita selalu diingatkan akan kasih karunia Tuhan yang selalu ada bagi kita:

I Yohanes 1:9 “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Kita beruntung karena Tuhan mengaruniakan Roh Kudus yang akan selalu membisikkan hal-hal yang baik untuk kita lakukan.

Kabar gembira yang sebenarnya  sudah lama disampaikan oleh Tuhan melalui hamba-Nya dalam buku “tulisan-tulisan permulaan” (Early writings )”  hal 77 sbb: 

“Setiap umat kesucian memiliki seorang malaikat yang membawanya. Jikalau umat kesucian menangis karena putus asa, atau berada dalam bahaya, maka malaikat yang senantiasa menyertai mereka dengan segera akan terbang ke atas membawa berita. Kemudian Yesus akan menyuruh malaikat yang lain turun untuk menghibur, menjaga dan berusaha menjaga mereka jangan jatuh dari jalan yang sempit itu; tetapi jika mereka  tidak memerhatikan penjagaan dan pemeliharaan malaikat2 ini, dan tidak mau dihibur bahkan mereka terus menuju ke jalan yang sesat, maka malaikat2 akan kelihatan sedih dan menangis.”

Melalui kutipan ini kita diharapkan jeli merasakan kehadiran Roh Kudus yang selalu berusaha menuntun kita kepada pertobatan .

Tuhan rindu kita selalu mendengar suaranya melalui Roh Kudus, sehingga kita tahu  mana yang baik dan berkenan kepada Nya dan mana yang tidak berkenan.

Kalau kita Pernah menyakiti hati sesama kita, menyesal dan bertobatlah.

Kalau anak-anak pernah menyakiti atau memusuhi orang tuanya, menyesal dan bertobatlah.

Kalau suami atau istri pernah menyakiti pasangan nya menyesal dan bertobatlah.

Di atas segalanya, jika kita pernah menyakiti hati Tuhan, atau berjanji kepada Tuhan namun tidak menepati, menyesal dan bertobatlah.

2 Petrus 3:9 Tuhan menghendaki supaya semua orang berbalik dan bertobat.

Kiranya Tuhan memberkati kita semua.

Amin.
Jangan lupa untuk membagikan postingan ini agar semakin banyak yang diberkati.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Josua
    3 tahun  lalu

    Maaf pak pdt, judulnya 2 penyesalan, tapi di isinya cuman 1 yt penyesalan yudas.
    apa saya yg salah pdt? mohon koreksinya.
    Terimakasih

    Balas

Ikuti Saya

Vlog

LAINNYA
x