Ketika kita membaca kisah Salomo di 1 Raja-raja 3:3–15, sering kali kita fokus pada hasil akhirnya: Salomo dikenal sebagai raja yang paling berhikmat di sepanjang sejarah Israel. Namanya selalu dikaitkan dengan kebijaksanaan, keadilan, dan pengetahuan yang melampaui bangsa-bangsa lain.
Namun ada sebuah detail menarik yang sering luput dari perhatian: doa yang ia panjatkan sudah memperlihatkan doa orang berhikmat.
Dalam teks aslinya, Salomo tidak hanya meminta “hikmat” dalam arti luas, melainkan “telinga yang mau mendengar” (lev shomea, tepatnya: hati yang mendengar).
Permintaan itu bukan sekadar kecerdasan intelektual atau kemampuan memecahkan teka-teki, melainkan kerendahan hati untuk mendengarkan Tuhan dan manusia, agar ia dapat memimpin umat dengan benar.
Maka muncul pertanyaan: jika Salomo sudah berhikmat sebelum ia berdoa, apa sebenarnya yang terjadi dalam doa tersebut? Apa pesan bagi kita hari ini tentang makna hikmat yang sejati?
Baca juga: Melampaui Gerbang Mutiara: Sebuah Perjalanan Menuju Sorga
Bagaimana Orang Sebelum Zaman Yesus Diselamatkan? Ini Penjelasan Lengkapnya
Makna Tirai Bait Suci yang Terkoyak Saat Yesus Mati
Salomo naik takhta menggantikan Daud pada usia muda. Ia mewarisi kerajaan yang besar, berlimpah sumber daya, tetapi juga penuh tantangan. Bangsa Israel baru saja memasuki fase stabil setelah perang panjang di era Daud.
Kini, tugas Salomo bukan hanya mempertahankan wilayah, melainkan membangun tatanan pemerintahan yang adil, kokoh, dan berpusat pada Allah.
Di sinilah perasaan Salomo tampak jelas: ia menyebut dirinya “seperti anak kecil yang tidak tahu keluar masuk” (1 Raj. 3:7). Ucapan ini bukan basa-basi, melainkan kesadaran mendalam akan keterbatasannya.
Seorang raja muda, di hadapan bangsa yang besar, menyadari bahwa ia tidak cukup mampu jika hanya mengandalkan kekuatan sendiri.
Kesadaran akan keterbatasan itu adalah pintu masuk hikmat. Mazmur 111:10 berkata: “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan.” Salomo sudah menunjukkan takut akan Tuhan, dan doa permintaannya lahir dari kesadaran itu.
Baca juga: Iman dan Keterbatasan: Saat Yesus tidak Dapat Membuat Mukjizat
5 Ayat Alkitab Ketika Berjuang.
Ketika Allah menawarkannya kesempatan untuk meminta apa pun—kekayaan, umur panjang, kemenangan atas musuh—Salomo justru meminta hal yang berbeda. Dalam bahasa Ibrani, ia meminta lev shomea, yang secara harfiah berarti “hati yang mendengar” atau “telinga yang mau mendengar.”
Ada beberapa makna yang terkandung dalam permintaan ini:
a. Kemampuan mendengar Tuhan
Salomo ingin peka terhadap kehendak Tuhan, bukan hanya mengandalkan logika manusiawi. Ia tahu seorang raja harus terlebih dahulu tunduk pada suara Tuhan.
b. Kemampuan mendengar rakyat (Orang lain)
Sebagai pemimpin, ia menyadari bahwa setiap keputusan akan berdampak pada kehidupan banyak orang. Ia membutuhkan empati, kepekaan, dan keterampilan mendengar aspirasi umat.
c. Kemampuan menimbang dengan adil
Mendengar bukan berarti menerima semua suara begitu saja, tetapi mendengar dengan hati yang bisa membedakan mana yang benar dan salah, mana yang adil dan curang.
Artinya, doa Salomo bukan sekadar doa untuk kecerdasan, tetapi doa seorang hamba yang rendah hati. Dan kerendahan hati itu sendiri adalah wujud nyata dari hikmat.
Baca juga: 6 Alasan Mengapa Gereja Kecil Lebih Sulit untuk Bertumbuh
Gambar Tuhan dalam Perumpamaan Anak yang Hilang
Jika kita perhatikan, doa Salomo sebenarnya sudah memperlihatkan hikmat sebelum ia menyampaikan permohonannya yang terkenal itu. Ada beberapa bukti:
• Ia tahu prioritas yang benar. Banyak pemimpin pada zaman itu akan meminta harta atau kuasa lebih besar. Salomo justru menempatkan “keadilan” sebagai prioritas, bukan kepentingan diri. Itu adalah tanda kebijaksanaan.
• Ia menyadari identitasnya. Ia berkata, “Hambamu ini masih sangat muda.” Hanya orang berhikmat yang mampu mengakui kelemahan diri tanpa topeng kesombongan.
• Ia berpikir jangka panjang. Hikmat bukan hanya soal hari ini, tetapi tentang bagaimana memimpin bangsa agar tetap setia pada Allah. Doa Salomo adalah doa visioner, melihat jauh ke depan.
Dengan kata lain, dapat saja dikatakan bahwa doa itu adalah doa orang berhikmat. Tuhan kemudian menambahkan hikmat yang lebih besar lagi.
Baca juga: 3 Orang Benar di Tempat yang Benar Menurut Alkitab
Sebuah Pandangan mengenai Tanda Binatang: Membuka Kedok 666
Mengapa telinga yang mau mendengar begitu penting? Karena mendengar adalah inti dari relasi dengan Allah maupun dengan sesama.
• Dalam tradisi Yahudi, doa Shema dimulai dengan kata: “Shema Yisrael” – “Dengarlah, hai Israel!” (Ul. 6:4). Relasi perjanjian dimulai dengan mendengar.
• Nabi Yesaya menegur bangsa Israel karena mereka “mempunyai telinga tetapi tidak mendengar” (Yes. 6:9–10).
• Yesus sendiri berulang kali berkata: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.”
Hikmat sejati bukan terutama soal banyak bicara, melainkan soal kesediaan mendengar. Dunia modern sering mengagungkan orang yang pintar bicara, tetapi Alkitab menekankan nilai orang yang pintar mendengar.
Baca juga: 10 persamaan Yusuf dan Yesus
Ketika Dunia Menolakmu: 4 Cara Menyikapi Penolakan
6 Alasan Mengapa Berdoa Dalam Nama Yesus.
Doa Salomo langsung diuji ketika dua perempuan datang membawa bayi dan berselisih siapa ibu yang sebenarnya (1 Raj. 3:16–28). Kisah ini terkenal karena solusi Salomo yang penuh hikmat.
Tetapi sebelum mengambil keputusan, apa yang ia lakukan? Ia mendengar. Ia mendengar dua perempuan itu berbicara panjang, meski latar belakang mereka bukan orang terhormat, ia tidak memandang rendah mereka.
Keputusan akhirnya lahir dari proses mendengar dengan hati yang peka. Inilah bukti nyata bahwa doa Salomo tidak sia-sia, ia benar-benar diberi “telinga/hati yang mendengar.”
Allah berkenan pada doa Salomo bukan hanya karena isi permintaannya, tetapi karena sikap hatinya. Maka Allah memberikan lebih dari yang ia minta: bukan hanya hikmat, melainkan juga kekayaan dan kemuliaan. Ini prinsip penting: hikmat mendatangkan berkat.
Namun, sejarah juga mencatat kelemahan Salomo di akhir hidupnya. Meskipun ia berhikmat, ia gagal mendengar suara Allah secara konsisten ketika hatinya berpaling kepada berhala. Hal ini mengingatkan kita bahwa hikmat bukan sekadar anugerah sekali jadi, melainkan harus dipelihara dengan kesetiaan setiap hari.
Baca juga: Penyesalan Terungkap di Alkitab: Dua Nuansa Penyesalan
30 Ayat Alkitab: Berkat Ulang Tahun dalam Kitab Suci
Dari doa Salomo, kita belajar beberapa hal penting:
Permintaan Salomo untuk “telinga yang mau mendengar” adalah sebuah doa yang sederhana namun sangat dalam. Doa itu menunjukkan bahwa hikmat bukan hanya soal intelektual, melainkan soal kerendahan hati untuk mendengar Tuhan dan sesama.
Doa Salomo menjadi teladan bagi kita: jangan pertama-tama mencari kuasa, kekayaan, atau popularitas, tetapi mintalah hati yang mau mendengar.
Hikmat sejati adalah ketika telinga kita terbuka, hati kita lembut, dan hidup kita diarahkan untuk mendengar dan menaati suara Tuhan.
4 bulan lalu
[…] Baca juga: Hikmat Salomo: Doa yang Membuat Tuhan Berkenan […]
4 bulan lalu
[…] Baca juga: Hikmat Salomo: Doa yang Membuat Tuhan Berkenan […]