Setelah Yesus bangkit dari kematian, Yesus muncul dengan kuasa yang melampaui segala batas, menembus ruang tertutup dan menyapa para murid-Nya (Yohanes 20:26).
Namun ada satu hal yang mencuri perhatian, yaitu bekas luka di tangan dan lambung-Nya. Ia bangkit, tubuhnya dipulihkan, namun pernahkah Anda berfikir mengapa luka di lambung dan tangan-Nya yang menandakan penderitaan-itu masih ada setelah Yesus bangkit?
Mengapa, Ia yang berkuasa menyembuhkan orang sakit, memulihkan orang lumpuh, bahkan mengalahkan kematian dengan cara bangkit dari kematian, seolah tidak berkuasa menghapus bekas luka di tangan-Nya?
Berikut lima pelajaran yang bisa kita peroleh dari luka Yesus.
Setiap orang pernah terluka—entah oleh kegagalan, kehilangan, pengkhianatan, atau dosa. Tapi ketika kita melihat Yesus yang bangkit masih membawa luka di tangan-Nya, kita diingatkan bahwa luka tidak membuat seseorang tidak layak di hadapan Tuhan.
Bahkan, Tuhan sendiri tidak menyembunyikan luka-Nya. Itu berarti, luka kita pun bisa punya makna. Dalam kasih-Nya, luka bukan sesuatu yang harus dibuang, tapi bisa dipakai menjadi saluran pemulihan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Saat hidup terasa berat dan hati terasa hancur, Yesus hadir bukan sebagai sosok yang jauh di surga, tapi sebagai Pribadi yang pernah menderita dan masih membawa luka-Nya. Ia tahu rasanya dilukai, dikhianati, ditinggalkan.
Maka ketika kita menangis di tengah malam atau merasa tidak ada yang mengerti, Yesus berkata dengan lembut, “Lihat tangan-Ku.” Ia dekat, mengerti, dan tidak pernah meninggalkan kita dalam luka. Kehadiran-Nya jadi penghiburan yang nyata, bukan teori.
Sering kali kita berpikir bahwa luka dan rasa sakit menjadi penghalang untuk melayani, atau harus sempurna baru bisa Tuhan pakai untuk melayani. Tapi pengalaman Yesus justru memberikan sudut pandang yang berbeda dengan yang kita pikirkan.
Ia pernah terluka, bekas luka itu masih ada ketika bangkit dan ditunjukkan kepada murid (Tomas) sebagai kesaksian. Kita harus mengerti bahwa Tuhan tidak menunggu kita sempurna agar ia berkarya melalui kita.
Luka kita hendaknya tidak membatalkan panggilan kita, dan bekas luka seharusnya menjadi kesaksian bahwa kita pernah terpuruk bahkan hancur, namun Tuhan pulihkan.
Baca juga: Pelajaran Berharga Dari Dua Raja Besar
20 Ayat Alkitab Saat Anda Merasa tidak ada Harapan.
20 Ayat Alkitab Kapan Harus Menutup Mulut (Diam)
30 Ayat Alkitab: Berkat Ulang Tahun dalam Kitab Suci
16 Ayat Alkitab yang Menguatkan Anda Saat Menghadapi Krisis
10 Ayat Alkitab, Ketika Hidup Anda Terasa Berat.
5 Ayat Alkitab Ketika Berjuang.
13 Wanita Paling Cantik di Alkitab, Hal Ini yang Mereka Alami
Orang yang pernah terluka dan mengalami penghiburan dari Tuhan sering kali jadi lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Mereka tidak cepat menghakimi, tapi tahu bagaimana rasanya rapuh.
Luka yang disentuh oleh kasih Tuhan bisa menjadi jembatan empati yang menyambungkan hati. Melalui pengalaman luka, kita bisa menghibur orang lain—bukan dengan kata-kata kosong, tapi dengan hati yang mengerti dan tangan yang siap merangkul.
Luka Yesus bukan hanya bukti penderitaan, tetapi juga bukti pengampunan. Ia menunjukkan luka-Nya kepada para murid, termasuk Tomas, bukan untuk menuduh, tapi untuk mengundang kembali ke dalam iman.
Luka-Nya tidak berubah menjadi kebencian, tapi kasih. Maka kita pun diundang untuk mengampuni mereka yang melukai kita, bukan karena mudah, tapi karena kita telah lebih dulu diampuni. Dalam pengampunan, luka kita tidak hilang, tapi berubah makna.
Luka yang dibawa Yesus setelah kebangkitan-Nya justru memperlihatkan kemuliaan-Nya. Itu memberi kita harapan bila kita menyerahkannya kepada Tuhan.
7 bulan lalu
[…] Baca juga: 5 Pelajaran Dari Bekas Luka Di Tangan Yesus […]
7 bulan lalu
[…] 5 Pelajaran Dari Bekas Luka Di Tangan Yesus […]
7 bulan lalu
Amin..
Tuhan memberkati
7 bulan lalu
amin
7 bulan lalu
sama sama