x

Makna Tirai Bait Suci yang Terkoyak Saat Yesus Mati

waktu baca 5 menit
Rabu, 23 Apr 2025 08:29 653 Jandri Tumangger

Ketika Yesus menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib, Tuhan mengguncang dunia rohani dan dunia fisik dengan sebuah peristiwa supranatural: Dia merobek tirai Bait Suci dari atas ke bawah. Matius 27:51 mencatat peristiwa ini dengan jelas: “Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah; terjadilah gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah.”

Peristiwa ini bukan sekadar gejala alam atau simbol kosong yang bisa kita abaikan. Tirai itu bukan kain sembarangan, dan ruangan di baliknya bukan tempat biasa. Allah menetapkan tirai itu untuk memisahkan ruang Maha Kudus (Holy of Holies)—tempat kudus di mana Dia sendiri berdiam secara khusus dalam sistem ibadah Perjanjian Lama.

Allah hanya mengizinkan satu orang, yaitu imam besar, masuk ke dalam ruang itu, dan itu pun hanya satu kali dalam setahun—pada Hari Pendamaian (Yom Kippur)—dengan membawa darah korban sebagai pendamaian atas dosa umat Israel (Imamat 16).

Allah menetapkan tirai itu sebagai batas tegas antara kekudusan-Nya dan keberdosaan manusia. Ia memakai tirai itu untuk menandakan bahwa manusia yang jatuh dalam dosa tidak bisa begitu saja menghampiri hadirat-Nya. Allah itu kudus, dan kekudusan-Nya bukan hanya menakjubkan, tetapi juga mengerikan bagi siapa pun yang belum disucikan (Habakuk 1:13).

Namun, saat Yesus menghembuskan napas terakhir-Nya, Allah sendiri merobek tirai itu dari atas ke bawah. Ia tidak menunggu manusia menjangkau-Nya dari bawah, tetapi Dia mengambil inisiatif terlebih dahulu untuk meruntuhkan tembok pemisah yang menghalangi umat manusia mendekat kepada-Nya.

Melalui tindakan kasih ini, Allah membuka jalan menuju hadirat-Nya, bukan lagi hanya untuk imam besar, tetapi untuk siapa saja yang percaya kepada Anak-Nya yang telah mengorbankan diri di salib.

Berikut ini makna dari Tirai yang terkoyak:

1. Akhir dari Sistem Upacara Perjanjian Lama

Allah merobek tirai itu untuk menandai berakhirnya sistem ibadah Perjanjian Lama, sebuah sistem yang bergantung pada darah korban binatang dan peran perantara manusia, yaitu imam besar. Allah sebelumnya menetapkan sistem itu sebagai bayangan dari korban yang sejati dan sempurna: Kristus sendiri.

Penulis surat Ibrani menyatakan dengan tegas dalam Ibrani 10:19-20: “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri.”

Kini, Yesus telah memberikan tubuh-Nya sebagai tirai yang terkoyak bagi kita. Dengan mati di kayu salib, Dia sendiri yang membuka jalan masuk yang baru dan hidup, bukan hanya untuk satu imam besar, satu kali dalam setahun, tetapi bagi setiap orang yang percaya, kapan saja dan di mana saja.

2. Akses Bebas ke Hadirat Allah

Ini adalah kabar baik. Ada saat di mana hanya imam besar yang bisa masuk. Sekarang, setiap orang percaya memiliki akses langsung kepada hadirat Allah. Tidak lagi dibatasi oleh bangunan fisik, ras, status sosial, atau jabatan keimaman.

Melalui darah Yesus, kita dapat datang dengan penuh keberanian ke takhta kasih karunia untuk menerima pertolongan pada waktunya (Ibrani 4:16).

Bayangkan betapa dahsyatnya hal ini: tempat yang sebelumnya hanya bisa diinjak oleh satu orang setahun sekali, kini dibuka bagi semua orang percaya! Tirai itu adalah simbol pemisah, dan kini pemisahan itu telah dihapuskan. Allah, yang dahulu terasa jauh dan tak terjangkau, kini dekat, bahkan tinggal dalam hati orang percaya melalui Roh Kudus.

Baca juga: Bahaya dan Cara Mengatasi Ketamakan

Alkitab Menyebut Mereka Jahat

Pengertian Berkat Dalam Kejadian

5 Perpisahan Paling Menyedihkan dalam Kitab Perjanjian Lama

Ketika Tuhan Teringat: The Everlasting Mind of God

JOURNEY INTO THE UNKNOWN: Panggilan Nyaring Dalam Kejadian 17:1

3. Allah Mengundang Kita Masuk

Kabar ini sungguh luar biasa! Dahulu, Allah hanya mengizinkan imam besar masuk ke hadirat-Nya. Sekarang, Dia memberikan akses langsung kepada setiap orang percaya. Allah tidak lagi membatasi kita dengan bangunan fisik, latar belakang ras, status sosial, atau jabatan keimaman.

Melalui darah Yesus, Allah mengundang kita datang dengan penuh keberanian ke takhta kasih karunia-Nya, supaya kita menerima pertolongan pada waktunya (Ibrani 4:16).

Bayangkan betapa dahsyatnya perubahan ini: Allah membuka tempat yang dulu hanya bisa diinjak oleh satu orang setahun sekali, bagi semua orang yang percaya! Dulu, Allah menetapkan tirai sebagai simbol pemisah antara diri-Nya dan umat manusia. Sekarang, Dia sendiri yang menghapuskan pemisahan itu. Allah, yang dahulu terasa jauh dan tak terjangkau, kini berdiam di dalam hati orang percaya melalui Roh Kudus-Nya.

Namun, meskipun Allah telah membuka akses ke hadirat-Nya, Dia tidak mengizinkan kita mendekat dengan sembarangan. Justru karena kasih karunia ini begitu besar, Allah memanggil kita untuk menghargainya dengan hidup dalam kekudusan. Penulis Ibrani menasihati kita dalam Ibrani 12:28-29: “…marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya dengan hormat dan takut, sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan!”

Allah memang telah merobek tirai itu, tetapi Dia tidak mengubah kekudusan-Nya. Dia tetap suci, tetap Allah yang layak ditakuti. Namun sekarang, karena Yesus telah menanggung murka dan penghakiman itu bagi kita, Allah tidak menuntut kita untuk menjauh, tetapi justru mengundang kita untuk datang mendekat. Itulah kasih yang sempurna: Allah bukan hanya membuka jalan, tetapi juga menyambut kita ke dalam hadirat-Nya sebagai anak-anak-Nya yang dikasihi.

Allah telah merobek tirai itu, dan Dia tidak pernah menjahitnya kembali. Itu berarti pintu ke hadirat-Nya tetap terbuka—terbuka untukmu. Maka, izinkan pertanyaan ini menggema di hatimu: Sudahkah engkau masuk? Sudahkah engkau hidup dalam hadirat-Nya yang kudus dan mulia?

Jangan puas hanya berdiri di pelataran. Jangan hanya mendengar tentang Tuhan dari orang lain. Jawablah panggilan-Nya. Masuklah lebih dalam—ke tempat kudus, ke tempat hubungan pribadi dan nyata dengan-Nya. Masuklah… dan temuilah Tuhanmu.

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikuti Saya

Vlog

LAINNYA
x