Di era digital saat ini, istilah ghosting semakin populer. Istilah ini biasanya dipakai dalam dunia pertemanan, percintaan, atau bahkan pekerjaan.
Ghosting berarti memutus komunikasi secara tiba-tiba tanpa penjelasan, menghilang begitu saja seperti “hantu”.
Fenomena ini bisa melukai hati seseorang yang ditinggalkan. Membuatnya merasa ditolak, bahkan dikhianati.
Istilah ghosting modern memang baru muncul belakangan, namun konsep tentang ditinggalkan, menghilang, atau memutus hubungan tanpa penjelasan sudah ada sejak lama.
Ghosting dapat dipahami sebagai sikap meninggalkan seseorang tanpa komunikasi yang jelas. Dalam kacamata rohani, ghosting bisa berarti:
• Mengabaikan tanggung jawab terhadap orang lain.
• Menghilang tanpa memberi penjelasan atau kejelasan.
• Membiarkan orang lain terluka karena ketidakjujuran kita.
Alkitab memang tidak menyebut kata “ghosting”, tetapi kisah-kisah di dalamnya menunjukkan contoh nyata orang-orang yang ditinggalkan secara tiba-tiba.
Baca juga: 5 Pelajaran dari Dua Penjahat yang Disalibkan Bersama Yesus
5 Pelajaran Dari Bekas Luka Di Tangan Yesus
Dalam 2 Timotius 4:10, Paulus menulis dengan hati yang pedih:
“Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku, ia telah berangkat ke Tesalonika…”
Demas adalah rekan sepelayanan Paulus. Namun, ketika situasi sulit, ia meninggalkan Paulus. Paulus merasa ditinggalkan, bahkan dalam ayat 16 ia menambahkan:
“Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku.”
Ini menyakitkan. Paulus yang setia melayani, justru ditinggalkan di masa paling sulit. Perasaan ini mungkin mirip dengan orang yang “di-ghosting” hari ini: dikhianati tanpa alasan.
Yesus sendiri pernah “di-ghosting” oleh banyak pengikut-Nya. Yohanes 6:66 mencatat:
“Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.”
Ketika Yesus mengajar hal yang keras tentang diri-Nya sebagai roti hidup, banyak murid langsung meninggalkan-Nya tanpa berpamitan. Mereka berhenti mengikuti Yesus begitu saja.
Bayangkan betapa sakitnya ditinggalkan oleh orang yang sebelumnya mengaku murid. Tetapi Yesus tetap maju dengan misi-Nya, meski banyak yang menghilang.
Dalam Kisah Para Rasul 13:13, Yohanes Markus meninggalkan Paulus dan Barnabas lalu kembali ke Yerusalem. Kepergiannya menimbulkan luka yang cukup dalam. Paulus bahkan enggan mengajak Markus lagi dalam perjalanan misi berikutnya (Kis. 15:38–39).
Markus seolah melakukan ghosting terhadap misi pelayanan, membuat Paulus kecewa. Namun, puji Tuhan, Markus kemudian dipulihkan dan kembali dipakai dalam pelayanan (2 Tim. 4:11). Ini menunjukkan bahwa sekalipun ghosting melukai, Tuhan bisa memulihkan relasi yang rusak.
Baca juga: Bagaimana Orang Sebelum Zaman Yesus Diselamatkan? Ini Penjelasan Lengkapnya
Mencapai Kualitas Hidup Tertinggi Melalui Ketaatan pada 10 Perintah
Ksatria yang terlupakan, Tuhan yang Menang
a. Ghosting Menyebabkan Luka
Seperti Paulus yang ditinggalkan Demas, atau Yesus yang ditinggalkan murid-murid, ghosting menimbulkan luka. Orang yang ditinggalkan merasa tidak berharga dan dikhianati. Alkitab tidak menutup-nutupi kenyataan bahwa orang percaya pun bisa terluka oleh sikap orang lain.
b. Tuhan Tidak Pernah Melakukan Ghosting
• Ibrani 13:5 berkata: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
• Mazmur 27:10 menegaskan: “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.”
Manusia bisa meninggalkan, tetapi Tuhan berbeda. Ia adalah Pribadi yang tetap setia, bahkan ketika orang lain menghilang tanpa kejelasan dari hidup kita.
c. Jangan Ghosting dalam Relasi
Alkitab mendorong kita untuk hidup dengan keterbukaan. Yesus mengajarkan dalam Matius 5:37:
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.”
Komunikasi yang jujur lebih baik daripada menghilang tanpa penjelasan. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk memberi kejelasan, bukan kebingungan.
d. Panggilan untuk Setia
Kesetiaan adalah lawan dari ghosting. Yesus sendiri tidak pernah meninggalkan murid-murid-Nya, bahkan ketika mereka gagal. Ia tetap ada bersama mereka sampai akhir. Kita pun dipanggil untuk setia dalam pertemanan, keluarga, maupun pelayanan.
Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
•Dalam pertemanan: Jika kita ingin mengakhiri relasi, lakukan dengan jujur dan penuh kasih, bukan dengan menghilang.
•Dalam pelayanan: Setialah sampai akhir. Jangan mundur diam-diam, tetapi komunikasikan kesulitan kita agar ada pemulihan.
•Dalam hubungan dengan Tuhan: Jangan “ghosting” Allah dengan meninggalkan doa dan firman. Sebaliknya, datanglah dengan hati yang jujur, bahkan ketika sedang lemah.
Ghosting adalah fenomena modern yang sudah dikenal sejak zaman Alkitab, hanya dengan istilah berbeda. Paulus bahkan Yesus pernah mengalami rasa ditinggalkan. Namun kabar baiknya adalah Tuhan tidak pernah melakukan ghosting terhadap kita, Ia selalu setia, menemani, dan menjaga kita.
Maka, sebagai orang percaya, marilah kita belajar untuk tidak “ghosting” dalam relasi dengan sesama. Hiduplah dalam kasih, keterbukaan, dan kesetiaan, sebab itulah teladan Kristus bagi kita.
3 bulan lalu
[…] 5 hari lalu Jejak Sunyi Yoseba: Nama Kecil dalam Rencana Besar Tuhan 2 minggu lalu Ditinggalkan Tanpa Penjelasan? Ini Pandangan Alkitab tentang Ghosting 3 minggu lalu Hikmat Salomo: Doa yang Membuat Tuhan Berkenan 3 minggu lalu Lidya: […]
3 bulan lalu
Terimakasih abang Pdt…sangat terberkati AMEN
3 bulan lalu
salam hormat pendeta, terimakasih sudah mampir.