Seperti apa gambaran Tuhan yang Anda miliki? Tanpa kita sadari, pertanyaan singkat ini sebenarnya membentuk dasar dari setiap tindakan kita hari ini.
Setiap orang membangun hidupnya di atas keyakinan. Keyakinan itu tumbuh dari konsep kita tentang Tuhan, dan konsep itu akhirnya menentukan cara kita bersikap serta mengambil keputusan.
Banyak orang di dunia percaya bahwa Tuhan ada. Saya tidak mengatakan semua orang, sebab ada juga yang menolak keberadaan Tuhan. Namun, bagi mereka yang percaya, pertanyaannya adalah: Tuhan seperti apa yang kita percayai?
Pertanyaan ini sangat penting karena menyingkap isi hati kita. Banyak orang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi justru melakukan kejahatan yang mengerikan atas nama Tuhan yang mereka sembah.
Mereka merasa telah melayani Tuhan melalui tindakan itu. Mereka tidak menyadari bahwa bentuk kejahatan paling mengerikan adalah kejahatan yang dilakukan atas nama Tuhan.
Baca juga: 7 PERKATAAN TERAKHIR YESUS KRISTUS DI KAYU SALIB
Pada Sabtu, 7 Oktober 2023, Tentara Hamas melancarkan serangan mendadak ke Israel dan menewaskan banyak orang. Israel tidak langsung membalas serangan itu karena hari itu adalah hari Sabat.
Namun keesokan harinya, Minggu, 8 Oktober 2023, Israel melancarkan serangan balasan. Hingga tanggal 27 Oktober 2023, saat tulisan ini terbit, perang itu masih berlangsung dan terus menambah jumlah korban jiwa.
Di tengah berbagai peristiwa tragis itu, seorang bernama Yair Levi, penyanyi, penulis lagu, dan produser musik Yahudi asal Tel Aviv, mengunggah sebuah rekaman suara. Yair, seorang Lewi keturunan suku Lewi yang pernah menjabat sebagai kapten Angkatan Laut Israel selama delapan tahun, menggabungkan musik soul Yahudi dengan nilai iman dan ajaran Alkitab.
Dalam unggahan di akun Instagram-nya (@yairlevimusic), terdengar percakapan antara seorang anak dan ayahnya. Anak itu berbicara dengan semangat berapi-api.
Dengan penuh kebanggaan, ia berkata kepada ayahnya bahwa ia sedang berada di Mefalsim, sebuah kibbutz di Israel selatan dekat Jalur Gaza. Ia ingin memberitahu ayahnya bahwa ia telah membunuh sepuluh orang Yahudi dengan tangan kosong. Ia bahkan meminta orang tuanya melihat pesan yang ia kirim melalui ponsel seorang wanita yang telah ia bunuh.
Sang ayah mendengar kabar itu dan memuji Tuhan yang mereka sembah, sambil menunjukkan rasa bangga terhadap anaknya.
Selama percakapan berlangsung, sang anak terus mengulang dengan bangga bahwa ia telah membunuh lebih dari sepuluh orang Yahudi. Ia menutup pembicaraan dengan berkata bahwa ia merasa menjadi seorang pahlawan, mungkin yang ia maksud adalah pahlawan iman. Tulisan ini merupakan terjemahan dari percakapan yang mereka lakukan dalam bahasa lokalnya.
Dari sudut pandang mereka, tindakan itu mungkin tampak membanggakan. Mereka bisa saja menganggapnya sebagai bentuk kesetiaan terhadap ajaran iman yang mereka yakini. Namun bagaimanapun juga, tindakan itu tetap mengerikan.
Kita tidak cukup hanya percaya bahwa Tuhan itu ada; kita juga harus percaya kepada Tuhan dengan cara yang benar dan melayani-Nya dengan benar. Itulah sebabnya Yesus datang ke dunia.
Sebelum kedatangan Yesus, orang-orang sudah percaya bahwa Tuhan ada dan bahwa Ia adalah Raja. Yesus pun mengajarkan hal yang sama, Tuhan adalah Raja dan Tuan. Namun Yesus menambahkan satu hal penting ketika Ia datang menjadi manusia: Yesus memperkenalkan Tuhan sebagai Bapa.
Dalam Matius 6, Yesus mengajar kita untuk memanggil Tuhan sebagai Bapa: “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga…” Yesus mengajar kita menyebut Tuhan sebagai Bapa. Tetapi Bapa seperti apa yang Ia maksud? Kita perlu mengenal Bapa itu dengan benar.
Banyak orang tidak menyukai bapanya. Mereka bertengkar, merasa malu, mengutuk, bahkan ingin lari darinya. Maka, Bapa seperti apakah Tuhan itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, Yesus tidak berteori, Ia bercerita dengan sederhana.
Baca Juga: Tawa dan Keseriusan dalam Misteri Ilahi: Sebuah Studi Alkitabiah
Dalam Lukas 15, Yesus bercerita tentang seorang ayah yang memiliki dua anak laki-laki. Anak bungsu berkata kepadanya, “Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku.”
Ayah itu masih sehat dan kuat, tetapi ia memberikan harta yang diminta anaknya tanpa menolak atau menasihati. Kita mungkin berpikir, “Seandainya ayah itu menolak, pasti kejadiannya tidak akan seperti itu.” Namun jangan lupa, Yesus sedang menyampaikan perumpamaan.
Bayangkan jika semua anak menuntut bagian hartanya, lalu orang tuanya tidak memiliki cukup untuk dibagikan, tentu keadaan itu akan menjadi bencana.
Saya pernah bertemu seorang bapak yang menceritakan ketakutannya karena anaknya mengancam bila permintaannya tidak dipenuhi. Wajah bapak itu memperlihatkan ketakutan yang mendalam.
Lalu mengapa ayah dalam kisah perumpamaan itu tetap memberikan hartanya? Mengapa ia tidak menegur atau menasihati anaknya agar tidak bertindak gegabah?
Orang tua memang harus mengajar dan menegur anaknya ketika mereka berbuat salah. Namun Yesus sengaja menggambarkan ayah dalam cerita ini sebagai gambaran Bapa di sorga.
Dalam Kejadian 1:26, Tuhan berkata, “Marilah Kita menjadikan manusia…” Tuhan menciptakan manusia dengan kerelaan untuk berbagi, bukan hanya tempat dan waktu, tetapi juga kehidupan-Nya sendiri. Karena itu, ketika anak itu meminta, ayahnya langsung memberikannya.
Pelajaran pertama: Yesus memperkenalkan Tuhan sebagai Bapa yang rela berbagi dengan anak-anak-Nya. Tuhan tidak pelit. Ia senang berbagi dengan siapa pun. Karena itu, jangan khawatir tentang hidupmu, tentang apa yang akan kamu makan atau minum.
Baca juga: Dosa Pertama dan Terakhir yang Disebut di Alkitab
Dalam Lukas 15:20 tertulis, “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya…”
Ketika anak itu pergi, sang ayah tidak tahu kapan anaknya akan pulang atau dari arah mana ia akan datang. Tetapi Alkitab menulis bahwa ayah itu sudah melihatnya dari jauh. Itu berarti sejak anaknya pergi, sang ayah setiap hari menanti dan memandang ke kejauhan, berharap anaknya segera kembali.
Fakta bahwa sang ayah tidak mencegah anaknya pergi bukan berarti ia tidak peduli. Sebaliknya, ia sangat peduli.
Ayat 17 menulis bahwa anak itu akhirnya menyadari keadaannya. Sebelumnya ia tidak sadar, karena itu tindakannya pun tidak masuk akal. Ketika ia sadar, ia mengakui kesalahannya dan berkata kepada dirinya sendiri, “Betapa banyaknya orang upahan bapaku, berlimpah-limpah makanannya… Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku.”
Kemampuan berbicara kepada diri sendiri adalah anugerah besar yang membedakan manusia dari makhluk lain. Namun sayangnya, banyak orang terlalu sibuk menasihati orang lain, tetapi tidak pernah menasihati dirinya sendiri.
Ayat 20 menulis:
“Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayah itu berlari mendapatkan dia, lalu merangkul dan mencium dia.”
Pelajaran kedua: Yesus memperkenalkan Tuhan sebagai Bapa yang setia menanti anak-anak-Nya untuk pulang.
Mungkin saat ini Anda merasa telah pergi terlalu jauh. Ketahuilah bahwa Tuhan, Bapa kita, tetap menunggu Anda dengan sabar dan penuh kasih. Ia tidak marah, Ia menanti dengan hati terbuka.
Ketika kita menyadari betapa baik dan agungnya Bapa itu, kita akan semakin menyadari ketidaklayakan kita. Dan ketika kita mengakui ketidaklayakan itu, cara berpikir dan bertindak kita pun akan berubah karena kasih Bapa yang sejati selalu mengubah hati anak-anak-Nya.
2 tahun lalu
[…] Baca juga: Gambar Tuhan dalam Perumpamaan Anak yang Hilang di Lukas 15. […]
2 tahun lalu
[…] Gambar Tuhan dalam Perumpamaan Anak yang Hilang di Lukas 15. […]