The Crucifixion at Calvary (Golgotha) near Jerusalem on Good Friday. Some copy space in the dramatic sunset. Di tengah kisah penyaliban Yesus, ada sebuah adegan yang sering kali terlewatkan namun menyimpan makna yang sangat dalam bagi kehidupan rohani kita.
Injil Lukas mencatat bahwa dua orang penjahat disalibkan bersama dengan Yesus—satu di sebelah kanan-Nya, dan yang lain di sebelah kiri-Nya (Luk. 23:33). Mereka bukan hanya sekadar figur tambahan dalam kisah besar penyaliban, melainkan cermin dari dua respons manusia terhadap penderitaan, kebenaran, dan keselamatan.
Kedua penjahat ini sama-sama menderita. Mereka menjalani hukuman yang kejam karena perbuatan mereka. Mereka disalibkan bersama Yesus, merasakan rasa sakit yang sama, terpapar ejekan yang sama dari orang banyak. Namun, dari tempat penderitaan yang sama itu, lahir dua respons yang sangat berbeda.
Penjahat yang pertama mengejek Yesus, berkata, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkan diri-Mu dan kami!” (Luk. 23:39). Kata-kata ini bukanlah permohonan iman, tetapi sindiran penuh kepahitan.
Ia melihat Yesus bukan sebagai Juruselamat, tetapi sebagai orang yang gagal menyelamatkan diri-Nya sendiri. Ia ingin pembebasan fisik, tanpa pertobatan spiritual. Ia menginginkan kelepasan dari penderitaan, tanpa mengakui kesalahannya sendiri.
Sebaliknya, penjahat yang kedua menegur temannya, berkata, “Tidakkah engkau takut juga kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi Dia ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Luk. 23:40-41).
Ia mengakui dosanya. Ia melihat Yesus bukan hanya sebagai korban ketidakadilan, tetapi sebagai Pribadi yang tak bersalah dan kudus. Dari tempat penderitaannya, ia justru mengalami kesadaran yang mendalam akan siapa dirinya dan siapa Yesus.
Kemudian ia berkata kepada Yesus: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Dan Yesus menjawabnya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk. 23:42-43).
Perlu dipahami, Kristus tidak menjanjikan bahwa pencuri itu akan pergi hari itu juga ke Firdaus, Yesus sendiri tidak pergi pada hari itu ke Firdaus malainkan beristirahat di dalam kubur, akan tetapi janji itu diberikan hari itu.
Salah satu hal yang mencolok dari kisah ini adalah bagaimana penderitaan yang sama dapat mengungkapkan kondisi hati yang berbeda. Dalam kondisi tanpa daya, tanpa kemungkinan menyelamatkan diri, keduanya berhadapan langsung dengan kematian. Namun hanya satu yang merespons dengan pertobatan dan iman.
Ini mengajarkan kepada kita bahwa penderitaan tidak serta merta membuat seseorang berubah. Penderitaan adalah tempat ujian, bukan tempat otomatis pertobatan. Seseorang bisa mengeraskan hati dalam penderitaan, menyalahkan Tuhan, dan mengutuk keadaan. Tapi orang lain bisa justru menemukan kasih karunia Tuhan dalam penderitaan itu.
Di kayu salib, Yesus menjadi pusat dari dua pilihan. Di antara ejekan dan penerimaan, di antara penolakan dan iman, Kristus tetap teguh menjalani misi-Nya—membawa keselamatan bahkan kepada orang yang dunia anggap tidak layak.
Baca juga:
Di Kayu yang Kasar: Pengorbanan Yesus yang Menyelamatkan
Apakah Bait Suci Yahudi Masih Ada?
ayat alkitab untuk yang ulang tahun
16 Ayat Alkitab yang Menguatkan Anda Saat Menghadapi Krisis
13 Wanita Paling Cantik di Alkitab, Hal Ini yang Mereka Alami
Pelajaran Penting dari Garam Menjadi Tawar
4 Pengalaman Daud ini Menunjuk Kepada Yesus
Antara Nafas dan Keheningan Maut: Kehidupan yang Tertahan
Pengampunan dari Atas: Penyesalan dan Penebusan Tuhan
20 Ayat Alkitab Kapan Harus Menutup Mulut (Diam)
Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit: Sebuah Realita Hidup
Penjahat yang bertobat itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tidak ada perbuatan baik yang bisa ia lakukan. Tidak ada kesempatan untuk membayar kembali atau membuktikan dirinya. Ia hanya bisa berseru kepada Yesus, dengan harapan dan iman: “Ingatlah aku.” Dan dalam kelemahan itu, ia menemukan belas kasihan terbesar dalam sejarah.
Yesus tidak meminta pembuktian. Tidak menanyakan latar belakang. Tidak menguji keimanan. Ia hanya menjawab dengan janji yang penuh pengharapan: “Hari ini Aku berkata kepadamu, engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
Ini adalah gambaran murni dari kasih karunia. Keselamatan tidak diperoleh melalui usaha manusia, tetapi melalui penerimaan akan karya Kristus. Penjahat itu diselamatkan bukan karena kebaikannya, tetapi karena ia percaya kepada Yesus.
Salah satu pesan paling mengharukan dari kisah ini adalah bahwa tidak pernah terlalu terlambat untuk bertobat. Penjahat ini hanya tinggal menghitung jam sebelum menghembuskan nafas terakhir. Namun dalam detik-detik terakhir hidupnya, ia memilih untuk percaya, dan itu keputusan yang tepat.
Berapa banyak orang yang berpikir bahwa mereka terlalu berdosa untuk dimaafkan? Bahwa sudah terlambat untuk kembali kepada Tuhan? Kisah ini menghancurkan semua mitos itu. Keselamatan adalah untuk semua orang yang berseru kepada Tuhan, bahkan dalam waktu paling gelap sekalipun.
Pengalaman penjahat yang diselamatkan ini memberitahu kita bahwa harapan itu selalu ada, dan jangan menunggu terlalu lama untuk bertobat.
Kita semua, secara rohani, adalah seperti penjahat yang tergantung di salib. Kita semua bersalah, semua berdosa (Roma 3:23). Kita semua sedang menuju kematian, dan harus memilih bagaimana merespons Sang Juruselamat yang tergantung di antara kita.
Apakah kita akan mengolok, meragukan, dan menuntut Yesus seperti penjahat yang pertama? Atau kita akan mengakui dosa kita, percaya kepada-Nya, dan memohon belas kasihan-Nya seperti penjahat yang kedua?
Kisah dua penjahat ini adalah miniatur dari Injil itu sendiri. Di kayu salib, kita melihat keadilan dan belas kasihan bertemu. Kita melihat bagaimana Yesus, dalam penderitaan-Nya, tetap membuka tangan bagi siapa saja yang datang kepada-Nya.
Tidak ada latar belakang yang terlalu buruk, tidak ada waktu yang terlalu akhir, tidak ada dosa yang terlalu besar untuk tidak diampuni oleh kasih karunia-Nya.
Hari ini, jika kita mendengar suara-Nya, jangan keraskan hati. Kita tidak perlu menunggu sampai akhir hidup untuk mengenal dan menerima Yesus. Tapi jika kita belum melakukannya, belum terlambat untuk berseru, “Yesus, ingatlah akan aku.” Dan janji-Nya tetap sama: “Hari ini Aku berkata kepadamu, engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
8 bulan lalu
[…] Baca juga: 5 Pelajaran dari Dua Penjahat yang Disalibkan Bersama Yesus […]
8 bulan lalu
[…] Baca juga: 5 Pelajaran dari Dua Penjahat yang Disalibkan Bersama Yesus […]
8 bulan lalu
[…] Baca juga: 5 Pelajaran dari Dua Penjahat yang Disalibkan Bersama Yesus […]
8 bulan lalu
[…] Baca juga: 5 Pelajaran dari Dua Penjahat yang Disalibkan Bersama Yesus […]