Ada satu ungkapan yang sangat terkenal dalam bahasa Latin yang tampaknya menjadi sebuah keyakinan para pemimpin2 negara sehingga membuat mereka berlomba lomba untuk menjadi negara adidaya.
Ungkapan itu adalah “Si vis pacem, para bellum” yang artinya, “Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang“.
Walau tidak diketahui persis siapa yang pertama kali mengucapkan kata kata ini, namun tampaknya sudah dianggap sebagai sebuah kebenaran bahwa perdamaian hanya akan diperoleh melalui peperangan.
Namun akibat yang timbulkan oleh pernyataan ini justru membuat para pemimpin semakin memperlengkapi negara mereka dengan persenjataan yang mematikan, tujuannya adalah kesiapan untuk berperang jika diperlukan.
Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika semua negara saling berperang? Sudah tentu hasilnya jauh dari kata “perdamaian”.
Peperangan selalu menyisakan luka, itu menceraikan dan yang lebih mengerikan, peperangan adalah sebuah siksaan.
Apakah Anda mengenal tokoh ini?

Ia bernama Henry Dunant, ia adalah seorang pekerja kemanusiaan, pengusaha, dan aktivis sosialari Jenewa.
Pada bulan Juni 1859 ia melakukan perjalanan dari Jenewa untuk menemui kaisar Perancis (Napoleon III) yang sedang berperang di sebuah tempat di bagian utara Italia. Tujuan kedatangannya adalah untuk untuk melakukan pembicaraan bisnis dengan kaisar.
Pada saat ia tiba di desa Solferino, betapa terkejutnya ketika ia menyaksikan padang rumput di sana menjadi medan pertempuran antara pasukan Prancis dan Austria, di sana mereka saling membantai.
Ketika waktu menjelang petang, padang rumput itu dipenuhi dengan prajurit yang terluka, sekarat dan banyak yang tewas.
Korps medis angkatan perang yang ada ketika itu tidak sanggup menangani korban yang begitu banyak.
Lihat, peperangan (konflik) itu mengerikan, ia merusak, menyiksa, melukai, kasih tidak diperlukan di sana, yang ada adalah keganasan, niat untuk menghabisi. Tikam sebelum ditikam, tembak sebelum ditembak (bukan katakan cinta), habisi sebelum di habisi.
Ini lah yang dilihat oleh Henry Dunant dalam perang yang dikenal dengan Pertempuran Solferino. Pemandangan yang mengerikan itu membuat Henry lupa dengan tujuan kedatangannya ke tempat itu.
Namun yang menarik adalah: Henry Dunan tergerak hatinya melihat para korban yang berjatuhan, lalu ia berinisiatif memakai gereja di desa Castiglione sebagai rumah sakit darurat dan mulai mengatur pertolongan untuk para korban.
Tanpa mengenal lelah ia membaktikan dirinya untuk melayani para korban, ia bahkan menulis pesan pesan para korban untuk keluarga mereka.
Sekembalinya ia ke Jenewa, Henry Dunant tidak dapat melupakan pengalaman itu, ia kemudian menuliskan pengalamannya ke dalam sebuah buku yang ia beri judul ‘‘Un souvenir de Solférino“ (A memory of Solferino).
Di akhir bukunya ia menuliskan himbauan yang menginspirasi seluruh dunia hingga saat ini,
Pada tahun 1863, ide Henry Dunant tersebut terwujud, bersama dengan 4 warna Jenewa lainnya mereka mendirikan Komite Internasional Pertolongan Korban Luka (The International Comittee Of Aid For the Wounded), yang kemudian hari menjadi ICRC (Internatiobal Comittee of Rec Cross).
Baca juga: Makna Yesus Duduk di Sebelah Kanan Allah dalam Markus 16:19
Melampaui Pertobatan: Makna yang Lebih Dalam Mengenai Baptisan Yesus
Bisikan dari Keabadian: Mendengarkan Suara Tuhan
1. Pertempuran Yerikho: Ini adalah salah satu pertempuran paling terkenal, di mana Yosua memimpin orang Israel untuk menaklukkan kota Yerikho dengan berbaris mengelilingi temboknya selama tujuh hari hingga mereka jatuh (Yosua 6).
2. Pertempuran Gibeon: Yosua dan orang Israel berperang melawan koalisi raja-raja Amori. Pertempuran ini terkenal karena peristiwa ajaib di mana matahari berhenti (Yosua 10).
3. Pertempuran Gunung Gilboa: Pertempuran ini menyaksikan kekalahan Raja Saul dan putra-putranya oleh orang Filistin, yang menyebabkan kematian Saul (1 Samuel 31).
4. Pertempuran Megido: Raja Yosia dari Yehuda terbunuh dalam pertempuran ini melawan Firaun Nekho dari Mesir (2 Raja-raja 23:29).
5. Perang Para Raja: Ini adalah perang pertama yang tercatat dalam Alkitab, yang melibatkan koalisi raja-raja yang dipimpin oleh Kedorlaomer melawan kota-kota di dataran, termasuk Sodom dan Gomora (Kejadian 14).
Jika kita membaca kisah kisah ini, maka setiap peperangan selalu menimbulkan korban dikedua belah pihak, benarlah apa yang pepatah katakan, ‘‘kalah jadi abu menang jadi arang“. Sesungguhnya tidak ada yang diuntungkan dari peperangan/konflik/perpecahan.
Perang selalu mengajak orang berfikir tentang cara mengalahkan orang lain, melukai orang lain, sementara bukan itu yang Tuhan inginkan terjadi diantara kita. Tuhan ingin kita saling mengasihi, saling mendahului berbuat baik dan selalu mengusahakan perdamaian satu dengan yang lain.
Alkitab mencatat sebuah perang terpanjang yang pernah ada, peperangan paling mengerikan, memakan korban lebih banyak dari perang yang pernah ada sebelumnya.
Ya, itu adalah perang antara kebaikan dan kejahatan, sebuah pertikaian kosmik yang mencakup alam rohani dan fisik.
Kitab Kejadian menjelaskan awal mula Konflik dimulai di Taman Eden ketika Adam dan Hawa digoda oleh Setan, yang menyebabkan kejatuhan manusia (Kejadian 3).
Peperangan itu bahkan dijelaskan oleh para penulis Alkitab melalui hikmat Tuhan. Di dalam Efesus 6:12, Paulus berbicara tentang peperangan rohani, menekankan bahwa pertempuran yang sesungguhnya adalah melawan “roh-roh jahat di udara
Peperangan itu terus berlanjut hingga di kitab Wahyu dengan jelas menggambarkan pertempuran terakhir antara kebaikan dan kejahatan, yang dikenal sebagai Armagedon.
Dalam Eskatologi Kristen peperangan itu lebih dikenal dengan pertentangan besar/the great controversy: konflik kosmik yang sedang berlangsung yang dimulai di surga dan berlanjut di bumi, yang melibatkan setiap manusia dalam pergumulan antara Kristus dan Setan.
Akibat dari peperangan ini tidak hanya kehancuran, namun kehancuran total, tidak sekedar perpisahan sementara namun perpisahan selama lamanya, bukan hanya kematian namun kematian kekal.
Di tengah kekacauan ini, Yesus, Putra Tuhan yang penuh kasih, memandang manusia dengan belas kasih yang dalam.
Dia melihat rasa sakit, kehancuran, dan kebutuhan yang mendesak akan penebusan. Didorong oleh cinta yang tak terduga, Dia membuat keputusan yang mendalam: meninggalkan kemuliaan surga dan memasuki dunia sebagai manusia yang rendah hati.
Lahir di palungan di Betlehem, Yesus tumbuh dengan mengalami suka dan duka kehidupan manusia. Dia mengajarkan tentang cinta, pengampunan, dan Kerajaan Tuhan, melakukan mukjizat yang mengungkapkan sifat ilahi-Nya. Namun, misi utama-Nya jauh lebih besar.
Yesus tahu bahwa satu-satunya cara untuk membebaskan manusia dari cengkeraman kejahatan adalah melalui tindakan cinta dan pengorbanan yang tertinggi.
Ia rela menerima jalan menuju salib, memahami bahwa kematian-Nya akan membayar harga atas dosa-dosa manusia dan mematahkan kuasa kejahatan.
Di kayu salib, di kayu yang kasar itu Yesus menanggung beban dosa dunia, menanggung penderitaan yang tak terbayangkan.
Kasih-Nya begitu dalam sehingga Ia berdoa bagi mereka yang menyalibkan-Nya, dengan berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Di saat-saat terakhir-Nya, Ia menyatakan, “Sudah selesai” (Yohanes 19:30), yang menandakan selesainya pekerjaan penebusan-Nya.
Alasan mengapa Red Cross menggunakan lambang salib/palang dengan latar belakang warna putih sebagai symbol organisasi adalah karena merupakan kebalikan dari bendera Swiss, yang menampilkan palang putih dengan latar belakang merah. Pilihan ini dibuat untuk menghormati Swiss, negara asal Dunant.
Dan jika kita menelusuri alasan mengapa Swis menggunakan palang sebagai lambang pada bendera mereka adalah karena dipengaruhi oleh bendera perang kekaisaran Kekaisaran Romawi.
Jika kita mundur jauh melihat sejarah maka pada saat kekaisaran Roma inilah Yesus di salibkan, dan sejak itu palang/salib/kayu yang kasar itu memiliki makna keselamatan, karena seorang penebus dipaku tergantung di sana.
Dalam sebuah komite internasional, palang merah sepakat untuk membantu beberapa korban dengan cara:
Saat ini kita memiliki penolong yang lebih dari itu, palang merah yang lebih merah dari yang pernah ada, palang yang menjadi merah bukan karena pewarna melainkan karena darah, darah penebusan yang mahal.
Palang itu menjadi penghiburan bagi hati yang sedih, kekuatan bagi yang lemah, menjadi obat bagi rasa sakit dan palang itu akan mempertemukan kita kelak dengan keluarga yang terpisah, mereka dipersatukan dalam kehidupan kekal.
Tiga hari setelah seorang yang tidak berdosa digantung di kayu yang kasar itu, Ia bangkit dari kematian, menang atas dosa dan kematian.
Kebangkitan-Nya adalah kemenangan terakhir dalam konflik kosmik, sebuah bukti akan kuasa kasih dan janji kehidupan kekal bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.
Melalui pengorbanan-Nya, Yesus membuka jalan bagi manusia untuk berdamai dengan Allah, menawarkan harapan, penyembuhan, dan masa depan yang bebas dari konsekuensi konflik kosmik.
Kasih-Nya terus bersinar seperti mercusuar, mengundang semua orang untuk menerima kebebasan dan kehidupan yang Dia tawarkan. Ya, di kayu palang yang kasar itu, semua jaminan di berikan bagi Anda dan saya.
1 tahun lalu
[…] Baca juga: Kayu yang Kasar: Pengorbanan Yesus yang Menyelamatkan […]
1 tahun lalu
[…] Ilahi 5 bulan lalu 7 PERKATAAN TERAKHIR YESUS KRISTUS DI KAYU SALIB 7 bulan lalu Di Kayu yang Kasar: Pengorbanan Yesus yang Menyelamatkan 8 bulan lalu Mencapai Kualitas Hidup Tertinggi Melalui Ketaatan pada 10 Perintah 9 […]