Bagi kebanyakan pembaca, judul tulisan ini bisa saja dinilai terlalu berlebihan.
“Apa! Saya harus menjadi sempurna? Apa tidak salah? Satu satunya yang sempurna adalah Tuhan, saya tidak yakin bahwa saat ini ada manusia yang bisa menjadi sempurna, termasuk saya. Menurut saya ini bukan hanya sulit, ini bahkan tidak mungkin terjadi. Kejadian sudah menuliskan bahwa manusia sudah berdosa dan kecenderungan hati mereka hanya membuahkan yang jahat (Kejadian 6:5). Kalaupun ada seseorang yang terlihat dan terkesan sangat baik dalam perkataan dan perilakunya, mungkin saja itu hanya penampilan di luar, namun apa yang ada di hatinya pastilah tidak sempurna.”
Respon seperti ini tentu sering kita dengar ketika berbicara tentang menjadi sempurna. Namun tahukah Anda bahwa perintah untuk menjadi sempurna itu adalah perkataan Tuhan.
Mengapa Tuhan memerintahkannya? apakah karena Ia melihat bahwa sesungguhnya manusia itu mampu untuk menjadi sempurna?
Tulisan ini merujuk kepada perkataan Tuhan terhadap Abraham di dalam Kejadian 17:1 (kalimat terakhir) …Hiduplah di-hadapan-Ku dengan tidak bercela, bahasa inggris lebih jelas mengatakan “be thou perfect.”
Maka tulisan ini hanya akan membahas perintah “jadilah sempurna” yang tertulis di dalam Kejadian 17:1 dalam konteks kehidupan Abraham.
Genesis 17:1 “And when Abram was ninety years old and nine, the LORD appeared to Abram, and said unto him, I am the Almighty God; walk before me, and be thou perfect.”
Baca juga: 8 Janji Indah Tuhan untuk Anda
Baca juga: Apa Arti Kemalangan Orang Benar Banyak Dalam Mazmur 34:20?
Baca juga: SUARA TUHAN
Baca juga: Arti Berkat Dalam Kitab Kejadian
Baca juga: 5 Perpisahan Paling Menyedihkan dalam Kitab Perjanjian Lama
Kita mengetahui alur cerita kehidupan Abraham, walau sebatas apa yang tertulis di Alkitab. Ia dipanggil keluar dari negerinya ketika berumur 75 tahun (Kej 12).
Bukan hanya sekedar dipanggil menuju tempat yang Tuhan akan tunjukkan, kepadanya juga dijanjikan bahwa ia akan menjadi bangsa yang besar.
Abraham memulai perjalanannya tanpa mengetahui tempat yang ia tuju, dan kita mengenal perjalanan Abraham ini dengan perjalanan Iman.
Tidak sedikit pengalaman yang terjadi kepada Abraham dan ditulis dengan baik di dalam Alkitab, termasuk tiga kesalahan yang jelas terlihat dalam dirinya.
Pertama, di dalam Kejadian 12:13 Abraham berbohong kepada Firaun dengan mengatakan bahwa Sarai adalah saudaranya, Abraham takut kalau ia mengaku bahwa Sarai adalah istrinya ia akan dibunuh oleh firaun demi mendapatkan istrinya yang cantik itu.
Kedua, dalam Kejadian 20:2, ia melakukan hal yang sama kepada Abimelekh yakni berbohong perihal istri yang ia sebut saudaranya.
Ketiga, dalam Kejadian 16 ia menuruti perkataan istrinya Sarai untuk menghambil Hagar menjadi istri dan menghampirinya, sehingga di usianya yang ke 86 tahun baginya lahirlah Ismael.
Beberapa komentar menyebutkan bahwa tindakan ini menentang Tuhan, bahkan dianggap sebagai usaha membantu Tuhan dalam mencapai apa yang pernah dijanjikan-Nya yakni membuat keturunan Abram akan menjadi bangsa yang besar.
Setelah 24 tahun berlalu sejak Abraham dipanggil keluar dari negerinya, Tuhan kembali menampakkan diri kepadanya (Kej 17:1).
Apa yang terjadi di Kejadian 17:1 ini menarik, jika Anda membuat janji kepada seseorang namun Anda terlambat datang dan menyebabkan ia menunggu, biasanya Anda akan meminta maaf karena sudah membuatnya menunggu lama.
Tuhan menampakkan diri kepada Abraham dan sama sekali tidak ada permintaan maaf kepada Abraham karena sudah membuatnya menunggu lama atas janji-Nya.
Gantinya merasa bersalah dan meminta maaf, Tuhan malah menantang Abraham untuk memiliki pengalaman iman yang lebih jauh lagi.
Di dalam Kejadian 17:1 Tuhan mengatakan, Akulah Allah yang Maha Kuasa, jadilah sempurna.
Tuhan tidak memperkenalkan diri sebagai Allah penyabar dan pengasih, tapi kali ini Tuhan menyebut nama-Nya sebagai Allah yang Maha Kuasa (powerful).
Tuhan ingin mengingatkan Abraham bahwa yang berbicara dan memberinya perintah ini adalah Allah Yang Maha Kuasa.
Nama itu adalah jaminan bahwa Tuhan akan mendukung, menyanggupkan, memelihara dan melindunginya dalam menjalankan perintah ini, yakni perintah “jadilah sempurna”.
Abraham disuruh berhenti untuk bergantung kepada kekuatan dan kesanggupan nya sendiri seperti yang pernah dilakukannya ketika memperistri Hagar.
Baca juga: TUHAN TERINGAT
Baca juga: LOVE IS A VERB
Baca juga: Ini Dosa Pertama dan Terakhir yang Disebut di Alkitab. Hati-Hati !!!
Baca juga: SORGA DAN PEREMPUAN
Menurut Dale A. Brueggemann dalam The Lexham Bible Dictionary, akar kata “sempurna” di dalam Alkitab merujuk kepada hal-hal yang diselesaikan, seperti tindakan (Ayub 3:17), ucapan (Ayub 31:40), bangunan (1 Raj 6:22) , atau waktu (Kej 47:18; Ul 34:8).
Maka perintah jadilah sempurna yang Tuhan berikan kepada Abraham sesungguhnya adalah perintah agar Abraham tetap menaruh percaya penuh, lengkap, tuntas, menyelesaikan, tidak berhenti percaya sampai janji itu digenapi oleh Tuhan, karena yang berjanji itu adalah Tuhan yang Maha Kuasa yang tidak akan ingkar dan pasti sanggup mewujudkan janji-Nya.
Sekarang kita mengerti bahwa judul tulisan ini tidak terlalu berlebihan, itu adalah sebuah ajakan membangun komitmen untuk menaruh percaya secara penuh dan lengkap hingga janji Tuhan itu digenapi.
Akhirnya janji Tuhan itu mulai digenapi di Kejadian 21, ketika Abraham berusia 100 tahun. Itu artinya 25 tahun lamanya waktu yang dibutuhkan sejak janji itu disampaikan hingga mencapai penggenapannya.
Disitulah panggilan untuk menjadi sempurna, apakah Abraham bisa secara seutuhnya percaya kepada janji Tuhan.
Berapa waktu terlama Anda menunggu janji Tuhan? satu tahun? dua tahun? Sepuluh tahun? Berapapun lamanya waktu itu, jangan pernah berhenti percaya. Tuhan itu Maha Kuasa dan Ia sanggup memenuhi apa yang dijanjikan-Nya.
Tidak ada komentar