Pengalaman dua raja berikut ini akan menjadi pelajaran berharga bagi Anda.
Kita belajar dari pengalaman, keberhasilan yang kita capai saat ini adalah hasil dari pengalaman yang kita dapat di waktu lalu, dari kegagalan demi kegagalan yang terjadi dan kita belajar sehingga lebih baik.
Tidak heran mengapa beberapa perusahaan akan lebih mengutamakan pegawai yang sudah memiliki pengalaman kerja untuk diterima pada posisi tertentu.
Mari kita belajar dari pengalaman kedua tokoh berikut ini.
Xi jin ping (presiden Tiongkok) bercerita tentang pengalaman masa kecilnya.
Ketika aku masih kecil, aku sangat egois, karena selalu mengambil yang terbaik untuk diriku sendiri. Perlahan-lahan, semua orang meninggalkan diriku dan aku kehilangan kawan.
Aku tidak berpikir itu salah ku, tetapi mempersalahkan orang lain. Sampai suatu saat ayahku memberi nasihat yang menolong hidupku sampai saat ini.
Suatu kali ayahku memasak 2 mangkuk bakmi, satu mangkuk bakmi terdapat telur di atas nya dan yang lainnya tidak ada, lalu ayah menyuruh ku memilih mangkuk bakmi lebih dulu.
Telur sulit didapat saat itu! Hanya bisa makan telur selama festival atau Tahun Baru. Tentu saja aku memilih mangkuk dengan telur di atasnya! lalu aku mengambil bakmi yang di atasnya ada telur.
Ayah mengambil mangkuk yang tidak ada telur nya, Aku mengucapkan selamat kepada diriku atas pilihan dan keputusan bijaksana ku mendapatkan mie dengan telur itu.
Kemudian ternyata, saat kami mulai makan aku terkejut ketika ayah makan bakmie, ada 2 telur di dalam mangkuk nya di bawah mie!
Aku sangat menyesal dan memarahi diriku sendiri karena terlalu terburu-buru dalam keputusanku.
Lalu ayahku berkata, “Kamu jangan terpengaruh dengan apa yang kamu lihat dan jika kamu mengambil keuntungan dari orang lain, kamu akan berakhir dengan kekalahan.”
Keesokan harinya, ayah kembali memasak 2 mangkuk bakmie. Satu mangkuk dengan telur di atasnya dan mangkuk lainnya tanpa telur di atasnya.
Sekali lagi, dia meletakkan dua mangkuk di atas meja dan berkata kepada saya, ”Anakku, Kamu pilih, mangkuk mana yang kamu inginkan? ”Kali ini aku merasa lebih pintar. Aku memilih mangkuk tanpa telur di atasnya.
Yang mengejutkan, saat aku memisahkan mie di atas, tidak ada satu pun telur di dasar mangkuk!
Lalu ayahku berkata “kamu jangan selalu menggantungkan diri kepada pengalaman, kadang dalam hidup ini banyak hal terjadi di luar dugaan, kamu harus bisa mengantisipasi dan belajar dari kesalahan untuk kebaikanmu di masa depan.”
Keesokan harinya, ayah memasak lagi 2 mangkuk bakmie. Satu mangkuk dengan telur di atas dan mangkuk lainnya tanpa telur di atasnya.
Dia meletakkan 2 mangkuk di atas meja dan kembali berkata, ”Anakku. kamu pilih, mangkuk mana yang kamu inginkan? ”
Kali ini, aku memberi tahu ayahku, “Ayah pilih duluan. Karena ayah adalah kepala keluarga dan berjuang paling banyak buat keluarga.“ Ayah tidak menolak dan memilih mangkuk dengan satu telur di atasnya.
Saat memakan se mangkuk mie, di hati saya memastikan tidak ada telur di dalam mangkuk. Tapi aku terkejut! Ada dua telur di dasar mangkuk!
Ayah tersenyum kepadaku dan berkata, “Anakku, kamu harus ingat! Ketika kamu berpikir untuk kebaikan orang lain, atau saat kamu mengutamakan orang lain bukan mengutamakan diri sendiri kamu akan mendapatkan hal-hal baik dalam hidupmu.”
Baca juga: Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit.
Apakah Bait Suci Yahudi Masih Ada?
5 Cara Ampuh Mengatasi Patah Hati
Dalihan Na Tolu Berdasarkan Roma 12:10,18.
Tuhan Lebih Besar dan Lebih Kuat, Optimis Menghadapi Revolusi Industri 4.0
Jika kitab 1 Samuel 17 kita ibaratkan sebagai sebuah layar televisi, maka kita sedang menyaksikan dua pemandangan dan ini sangat mencekam.
Di satu sisi kita menyaksikan terdapat gerombolan tentara Filistin yang siap berperang, mereka berkumpul di Sokho yang di tanah Yehuda dan berkemah antara Sokho dan Azeka di Efes-Damim.
Di sisi lain terlihat Saul dan orang-orang Israel berkumpul dan berkemah di Lembah Tarbantin, juga dalam keadaan siap berperang, hanya dipisahkan oleh lembah.
Ayat ke-4 membuat keadaan semakin genting, pasti akan terjadi pertempuran hebat di lembah tersebut, karena pendekar, orang yang kuat, petarung yang berani, seorang yang besar dan seperti raksasa (begitu beberapa sumber menyebutnya) dari Filistin mulai turun arena pertandingan.
Namanya Goliat, dari Gat. Tingginya enam hasta sejengkal (hampir 3 meter). Ketopong tembaga ada di kepalanya, ia memakai baju zirah yang bersisik; berat baju zirah ini lima ribu syikal tembaga (ada yang mengatakan 35,1 kg, 71 kg, 93 kg), yang pasti itu akan sangat memberinya perlindungan.
Dia juga memakai penutup kaki dari tembaga, di bahunya ia memanggul lembing tembaga. Gagang tombak nya seperti pesa tukang tenun, dan mata tombaknya itu 600 syikal besi beratnya (7-11 kg, dari berbagai sumber).
Dia pasti petarung hebat, dilihat dari perlengkapannya dia sudah sangat siap untuk bertarung, akan sulit untuk dikalahkan.
Terlebih saat dia berani dengan lantang menantang lawannya untuk segera datang dan berduel dengannya, “Aku menantang hari ini barisan Israel; “berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang.” katanya. Ini benar benar akan menjadi tontonan yang mengerikan.
Namun kita dikecewakan, yang kita duga tidak terjadi, pihak yang lain tidak menunjukkan tanda tanda bahwa mereka akan memuaskan rasa penasaran penonton, ayat 11 “Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemas lah hati mereka dan sangat ketakutan”.
Tentu ini diluar harapan kita semua, tidak ada sajian pertunjukan yang mengerikan. Coba bayangkan anda sedang menonton film dengan tema peperangan, sejak awal hingga durasi film itu selesai (biasanya 2 jam) kita tidak menyaksikan adengan peperangan, perkelahian, adu strategi pertempuran atau bahkan perdebatan.
Lebih parahnya lagi, situasi seperti itu berlangsung selama 40 hari, ayat :16 “Orang Filistin itu maju mendekat pada pagi hari dan pada petang hari.
Demikianlah ia tampil ke depan empat puluh hari lamanya” dan tidak mendapat jawaban atas tantangan nya.
Hingga akhirnya tampillah Daud yang nantinya akan menjadi rasa negeri Israel menggantikan Saul. Dia yang hanyalah seorang gembala menawarkan diri untuk melawan pendekar dari negeri Filistin itu (ayat 32).
Untuk menolongnya meyakinkan raja Saul agar ia diijinkan bertarung ia menceritakan kemampuannya menghajar singa dan beruang demi melindungi domba gembalaannya.
Dengan sangat yakin Daud menghadapi raksasa itu dan berkata “”TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.”
Dan benar di ayat 41-51 perkelahian terjadi, tetap tidak seperti yang kita bayangkan, namun kali ini lebih dari apa yang kita bayangkan,
Daud menang melawan raksasa itu dan dia tahu bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHAN lah pertempuran dan Ia pun akan mengalahkan raksasa itu.
Daud tidak terpengaruh sedikit pun atas apa yang ia lihat, besar, tinggi, gagah dan hebatnya perlengkapan Goliat tidak membuatnya gentar, ia mengetahui bahwa dia sedang dijaga dan dilindungi oleh sesuatu yang tidak dapat dia lihat, yaitu kuasa Tuhan.
Kemudian kisah hidup Daud berlanjut, kali ini dia sudah menjadi raja dia diperhadapkan lagi dengan peperangan. Kisah ini dicatat dalam 1 tawarik 14.
Ketika Daud sudah diurapi menjadi raja maka orang Filistin berencana akan menangkapnya, tidak mau tinggal diam Daud pun maju untuk menghadapi mereka.
Situasinya tampak sama, pertarungan akan berlangsung di lembah (Refaim), ketika orang Filistin akan menyerbu, ini yang Daud lakukan, ayat 10 “bertanyalah Daud kepada Allah: “Apakah aku harus maju melawan orang Filistin itu dan akan Kau serahkankah mereka ke dalam tanganku? Tuhan menjawab, ya, majulah.
Ini bukan pengalaman pertama Daud menghadapi orang Filistin/raksasa Filistin. Dia pernah menghadapi mereka sebelumnya bahkan ia menang, namun ketika akan menghadapi mereka lagi ia tidak jemawa dengan pengalaman masa lalunya.
Daud seolah mengerti bahwa pengalaman di waktu lalu belum cukup untuk menjadi modal satu satunya menghadapi masa depan, oleh sebab itu ia bertanya kepada Tuhan.
Ayat 13, tidak puas dengan kekalahan mereka, orang Filistin kembali menyerang di lembah yang sama, kemudian Daud kembali bertanya kepada Tuhan apakah mereka akan maju menghadapi orang Filistin.
Namun kali ini Tuhan menjawab jangan, (14-15) tidak perlu, buat saja gerakan melingkar terhadap mereka, sehingga engkau dapat menyerang mereka dari jurusan pohon-pohon kertau.
Dan bila engkau mendengar bunyi derap langkah di puncak pohon-pohon kertau itu, maka haruslah engkau keluar bertempur,
sebab Allah telah keluar berperang di depanmu untuk memukul kalah tentara orang Filistin.” Dan memang benar, Daud memenangkan peperangan itu karena pertolongan Tuhan.
Daud seolah menyadari, tanpa petunjuk Tuhan usahanya akan sia sia, ia bisa saja mengalami kekalahan dan terbunuh, atau kalaupun ia tidak terbunuh, risiko lain ia akan kehilangan banyak pasukan karena terbunuh.
Maka agar berbagai kemungkinan terburuk itu dapat dihindari, jalan yang Daud pilih adalah meminta petunjuk Tuhan.
Sudahkah anda meminta petunjuk dari Tuhan atas apa yang anda rencanakan hari ini?
3 tahun lalu
[…] Baca juga: 2 Pelajaran Berharga Dari 2 Raja Besar […]
3 tahun lalu
[…] Baca juga: Pelajaran Berharga Dari Dua Raja Besar […]