x

Garam itu Menjadi Tawar: Penjelasan dan Pelajaran Penting

waktu baca 7 menit
Senin, 21 Jul 2025 08:54 581 Jandri Tumangger

Matius 5:13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Kita semua tentu mengerti betul apa fungsi garam, yaitu memberi rasa (asin) pada makanan yang akan dinikmati (lih Ayub 6:6). Selain itu garam juga berguna untuk berbagai sektor dalam kehidupan termasuk sektor industri, dan masih banyak kegunaan lain dari garam, anda dapat dengan mudah menemukannya pada mesin pencari google.

Berikut ini sejarah yang terjadi karena Garam:

•Pencarian garam telah membawa kapal saudagar Fenisia ke Laut Tengah dan para kafilah unta ke padang gurun Afrika dan melintasi lembah Efrat, perjalanan yang sangat jauh dan beresiko.

•Ada suatu waktu di mana garam dapat membeli budak dan pernah diperdagangkan senilai dua kali lipat harga emas. (cth: Afrika Barat – Kekaisaran Mali dan Songhai)

•Marco Polo menemukan bahwa orang Tibet menggunakan kue garam yang dicap dengan meterai kekaisaran Kublai Khan agung sebagai uang.

•Manusia telah berperang demi garam dengan menggunakan pentung, panah dan meriam.

•Sebab setiap orang, kaya atau miskin, sangat membutuhkan garam, pemerintah setidaknya sampai sejauh masa kekaisaran Yu di China pada 2200 S.M. telah mencoba dengan sangat untuk mengontrol dan mengenakan pajak atas garam. Di Inggris, Prancis terjadi protes terhadap pajak garam.

•Pada 1785, Pangeran Dundonald menulis bahwa setiap tahun di Inggris, “sepuluh ribu orang ditangkap karena menyeludupkan garam dan tiga ratus orang dihukum gantung karena perdagangan gelap garam.

•Mahatma Gandhi memimpin kampanye, aksi langsung dari penentangan pajak dan perlawanan tanpa kekerasan melawan monopoli garam Inggris di kolonial India dengan berjalan berbaris sejauh 390 km menuju laut untuk memrotes pajak garam oleh Inggris.

Di dalam Alkitab, garam juga berulang kali disebutkan:

  • Garam dalam Persembahan (Imamat 2:13)

Makna: Garam melambangkan kemurnian, ketekunan, dan perjanjian kekal antara Allah dan umat-Nya. Dalam konteks persembahan, garam mencegah kebusukan, melambangkan ketekunan iman dan kesetiaan dalam relasi dengan Tuhan. “Garam perjanjian” menunjukkan bahwa hubungan itu kudus dan tidak boleh diabaikan.

  • Kota Ditaburi Garam (Hakim-hakim 9:45)

Makna: Menaburkan garam ke atas kota yang telah dihancurkan adalah simbol kutuk kehancuran total dan tanda bahwa kota itu tidak akan dibangun kembali atau subur lagi. Ini tindakan simbolis untuk mensterilkan tanah secara rohani dan jasmani—melambangkan penghakiman Allah.

  • Air Disehatkan oleh Elisa (2 Raja-raja 2:19–22)

Makna: Penggunaan garam secara ajaib oleh Elisa menunjukkan kuasa Allah yang memulihkan. Meskipun garam biasanya mengeringkan, Tuhan menggunakannya secara paradoks untuk menyembuhkan air yang pahit dan mematikan. Ini melambangkan transformasi ilahi—dari kematian menjadi kehidupan.

  • Bayi Baru Lahir Diolesi Garam (Yehezkiel 16:4)

Makna: Dalam budaya Timur Tengah kuno, bayi yang baru lahir biasa digosok dengan garam untuk membersihkan, mensterilkan, dan memperkuat kulitnya, simbol perawatan yang layak. Yehezkiel menggunakan ini untuk menggambarkan bahwa Yerusalem ditinggalkan dan tidak diperhatikan sejak lahir, sebagai simbol penolakan dan kelalaian spiritual.

Dari beberapa hal tersebut di atas kita semakin memahami bahwa garam memegang peranan penting sejak dahulu kala, dan boleh jadi Yesus juga menyadari betapa pentingnya garam terhadap kehidupan manusia, sehingga dirasa perlu untuk memberikan pelajaran melalui garam. Sesuatu yang selalu ada disekitar kita, maka akan mudah untuk diingat.

Namun ada yang menarik dalam kitab Matius 5:13, ungkapan “Jika garam itu menjadi tawar” menimbulkan pertanyaan bagi pembaca Alkitab yang kritis. Apakah ada garam yang tawar? Bagaimana mungkin garam menjadi tawar? Apakah ini hanya kiasan?

Sifat asin pada garam dapur muncul karena ikatan antara Natrium dan Klorida (NaCl). Hilangnya rasa asin (menjadi tawar) dari garam berarti terputusnya ikatan NaCl. Padahal, ikatan antara Na dan Cl adalah ikatan yang sangat stabil, dengan demikian tidaklah mungkin terjadi.

Baca juga: 6 Alasan Mengapa Berdoa Dalam Nama Yesus.

Dengan Segenap Hati: Mengasihi Tuhan dengan Segalanya

Bagaimana Garam Menjadi Tawar?

Dr. Thomson (The Land and the Book, vol. ii. pp. 43, 44).

“Seorang pedagang Sidon memeroleh pendapatan dari impor garam, membawa dalam jumlah sangat besar dari rawa-rawa di siprus – bahkan cukup untuk memasok seluruh propinsi untuk setidaknya 20 tahun. Garam ini ia angkut ke pegunungan, untuk menipu pemerintah atas pajak yang akan dikenakan, dan keluar dengan persentase yang sangat kecil. Enam puluh lima (65) rumah di bulan Juni – di pedesaan lady stanhope disewa dan diisi dengan garam. Rumah-rumah ini hanya memiliki lantai tanah, sehingga garam yang terletak langsung di tanah, dalam beberapa tahun sepenuhnya rusak. Saya melihat dalam jumlah besar garam yang rusak tersebut dilemparkan ke jalan, untuk diinjak oleh orang dan binatang yang melalui jalan tersebut.”

Sekarang kita sedikit memahami penyebab garam menjadi tawar dan mengapa pada akhirnya garam tawar itu diinjak injak.

Garam di zaman Yesus berasal dari Laut Mati dan rawa-rawa asin, berbentuk kasar, berwarna kotor, dan penuh mineral campuran, tidak murni secara kimia, rentan menjadi tawar secara fungsional bila rusak atau tercemar.

Baca juga: Pakaian Pengantin Surga: Perempuan Ilahi yang Dihiasi

20 Ayat Alkitab Kapan Harus Menutup Mulut (Diam)

Secara sederhana dapat dipahami bahwa, karena tidak murni maka jika terkena kelembaban atau udara terlalu lama kandungan garam bisa larut keluar dan tinggal sisa mineral yang tidak asin lagi, inilah yang disebut sebagai garam yang menjadi tawar (Matius 5:13). Garam semacam ini sering dipakai untuk mengeraskan jalan atau dibuang begitu saja.

Tampaknya dalam teks ini (Matius 5;13) Yesus memberikan metafora para murid sebagai garam. Analogi sebagai garam ini memiliki suatu maksud agar para murid dapat memahami fungsi mereka sebagai apa dalam dunia ini.

Para murid dituntun untuk bertindak seperti cara kerja garam. Secara diam-diam, garam akan menyebarkan rasanya, membawa perubahan terhadap rasa di lingkungannya, menjangkau daerah yang luas.

Para murid perlu bekerja tanpa gembar-gembor, namun merasuk dalam kehidupan sesama dan membawa perubahan dalam lingkungan menjadi lebih baik.

Perintahnya agar Tidak Menjadi Tawar

Pernahkah anda menyadari, berdasarkan Matius 5:13 kita tidak diperintahkan menjadi garam, itu artinya tugas kita bukan berusaha untuk menjadi garam, melainkan agar tidak menjadi tawar.

Apa Penyebab Menjadi Tawar Rohani?

Dalam bahasa Yunani, kata tawar diambil dari kata moraino yang juga berarti bertindak bodoh, menjadi bodoh. Saya menemukan bahwa kata moraino ini juga digunakan oleh Paulus dalam Roma 1:23-32 untuk menjelaskan tindakan tindakan bodoh:

“Menggantikan kemuliaan Allah, saling mencemarkan tubuh, menggantikan kebenaran Allah dengan dusta, Isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar, Suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri, menyala-nyala dalam berahi, sehingga melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki. Tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, melakukan apa yang tidak pantas: Penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan, mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, Tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan, mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya,”

Oleh sebab itu, siapa saja dapat menjadi tawar karena malakukan tindakan tindakan yang Paulus sebut dengan istilah “tindakan bodoh” seperti yang terdapat dalam Roma 1:23-32 di atas.

Baca juga: Tuhan Mengangkat Dosa, Manusia Mengungkit: Sebuah Realita Hidup

Menjelajahi Cinta pada Pandangan Pertama dalam Alkitab

Bagaimana garam yang sudah menjadi tawar itu dapat dikenali? Garam yang tawar itu masih tampak seperti garam, akan tetapi tidak lagi berfungsi, demikian halnya dengan manusia yang menjadi tawar rohani, ia bisa terlihat religius, tapi tidak lagi memberi dampak terhadap perubahan kepada yang lebih baik. Ia kehilangan rasa (fungsi jasmani) dan kehilangan hikmat (fungsi rohani).

Bagaimana agar tidak Menjadi Tawar Secara Rohani?

Berikut beberapa langkah praktis dan alkitabiah:

  1. Pelihara Hubungan Pribadi dengan Tuhan
    Berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan (1 Tesalonika 5:17; Mazmur 1:2), Doa adalah napas kehidupan rohani dan Firman memberi terang dan arah.
  2. Hidup dalam Ketaatan
    Taat bukan hanya pada perintah yang mudah atau kita suka, tapi keseluruhan kehendak Allah (Yohanes 14:15), ketaatan adalah wujud kasih dan kepercayaan kepada Allah.
  3. Jaga Kekudusan Hidup
    Hidup dalam dosa yang terus-menerus membuat kita kehilangan “rasa asin” (Efesus 4:17–24), kita harus menghindari kompromi rohani, pelanggaran yang kelihatannya kecil bisa menjadi awal dari kejatuhan.
  4. Terlibat dalam Pelayanan dan Kesaksian
    Garam tidak berfungsi jika tetap berada dalam wadah. Demikian juga iman kita akan mati jika tidak diwujudkan dalam Tindakan, aktif melayani dan menjadi berkat akan menjaga kita tetap segar secara rohani.
  5. Segera Bertobat Jika Jatuh
    Ketika kita sadar telah mulai “tawar”, jangan tunda pertobatan, segera minta pengampunan dan minta agar Tuhan pulihkan kembali hati dan semangat pelayanan kita.

Kehidupan sebagai garam dunia tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun juga tidak sesulit yang orang bebal katakan. Tuhan menyebutkan kita adalah garam, dan Ia meminta kita untuk tidak menjadi tawar.

8 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikuti Saya

Vlog

LAINNYA
x