Pernahkah Anda mendengar ungkapan Lebih mudah seekor Unta melewati lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah?
Ya, itu muncul dalam Alkitab yang terdiri dari berbagai sastra penulisan, diantaranya sejarah, hukum, lagu, khotbah, pidato, doa, perumpamaan, dan surat-surat.
Akibatnya kita sering kali menemukan bagian yang sulit dipahami di dalam Alkitab yang membuat sebagian orang keliru memahami atau bahkan menjadi malas membaca Alkitab, sementara sebagian lain justru tertantang untuk mencari tahu arti yang sebenarnya dari yang mereka baca.
Sebagai contoh, ungkapan dalam Markus 10:25 ”Lebih mudah seekor Unta melewati lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Timbul beberapa pemahaman yang berbeda sehubungan dengan ungkapan seekor unta melewati lobang jarum di sini.
Itu sebabnya Edward W. Watson dalam Kamus Alkitab Lexham mengatakan demikian: ” Para penafsir telah mengusulkan dua cara untuk meringankan kesulitan pernyataan Yesus dengan mengidentifikasi arti alternatif untuk “unta” atau “lubang jarum.”
Tafsiran pertama berasal dari abad ke-5, menyarankan bahwa kamelos, kata Yunani untuk unta, seharusnya dibaca sebagai kamilos, yang berarti tali atau kabel jangkar kapal.
Beberapa terjemahan bahasa Armenia dan Georgia pada abad kelima menerjemahkan teks tersebut dengan cara ini; namun, sebagian besar ahli menolak penafsiran ini karena sedikitnya bukti tekstual.
Terlebih lagi, bacaan ini tidak banyak meredakan hiperbola ucapan Yesus—tali jangkar kapal juga tidak bisa menembus lubang jarum.
Pendapat kedua, pandangan yang menurut saya paling umum atau paling sering disampaikan baik dalam diskusi ataupun melalui khotbah di mimbar gereja.
Tampaknya berasal dari abad ke-15, mengusulkan bahwa “lubang jarum” tidak mengacu pada jarum jahit, melainkan pada sebuah gerbang kecil di samping tembok Yerusalem.
Meskipun gerbang itu mengizinkan orang untuk lewat, gerbang itu terlalu kecil untuk seekor unta yang membawa beban, dan bahkan seekor unta yang tidak membawa beban hanya dapat melewatinya dengan susah payah, dengan lutut ditekuk.
Namun demikian, para ahli pun tidak menemukan landasan sejarah bagi pandangan ini, dan tidak ada bukti yang mendukung keberadaan gerbang sekecil itu di tembok Yerusalem (Farrar, “The Camel and the Needle’s Eye,” 369–380).
Lalu jika demikian apa yang Yesus ingin sampaikan melalui ungkapan ini? Lebih jauh, apa gejolak yang timbul dalam pikiran para murid yang mendengar ketika hal ini diungkapan oleh Yesus?
3 Cara Mengatasi Rindu Menurut Alkitab.
4 Cara Agar Siap Menghadapi Perpisahan.
Mengarang Lagu Bersama Tuhan, Kisah Nyata Di Balik Lagu Yesus Sahabat Terindah
Perkataan Yesus ini muncul dalam tiga kitab Injil (Mrk 19:25, Mat 19:24, Luk18:25), dan ketiganya dengan topik yang sama yakni ketika Yesus berbicara kepada orang muda yang kaya (menurut Matius), seorang pemimpin yang kaya (menurut Lukas), seseorang yang kaya (menurut Markus).
Suatu ketika seorang pemimpin muda yang kaya datang menemui Yesus dan bertanya tentang apa yang harus ia lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal.
Merespon pertanyaan pemimpin muda yang kaya itu Yesus mengutip lima dari enam perintah (10 Hukum) terakhir kepada pemuda itu, juga perintah besar kedua yang menjadi landasan enam perintah terakhir (kasihi sesama mu manusia seperti dirimu sendiri).
Sebagai jawaban atas pertanyaan pemuda itu, Apa yang masih kurang dariku? Yesus berkata kepadanya, “Jika engkau ingin menjadi sempurna, pergilah dan juallah apa yang engkau miliki, dan berikan kepada orang miskin.”
Inilah kekurangannya. Dia gagal mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Yesus berkata, “Berikan kepada orang miskin.” Yesus menyentuh harta miliknya.
Jika dipikir dengan logika, tentu saja perintah ini sangat dilematis. Ia diminta membagi menjual apa yang dimilikinya kemudian membagikannya kepada orang lain.
Ia merasa sudah bekerja dengan sangat keras hingga menjadi kaya, namun kini dengan mudah ia diminta untuk membagikan kepada orang miskin. Tunggu dulu.
Mungkin saja timbul dalam pikirannya, mereka yang akan menerimanya jangan jangan adalah orang yang malas, yang tidak bisa mengelolanya dengan baik, maka dengan membagikannya kepada mereka justru akan menjadi sia sia karena akan habis dalam sekejap.
Tentu banyak pertimbangan lain di dalam pikirannya yang kita tidak ketahui seluruhnya. Akibatnya ia menjadi kecewa dan dengan sedih pemimpin muda yang kaya itu menolak untuk menurutinya dan pergi.
Sesaat setelah pemimpin muda yang kaya itu pergi, lalu Yesus menyampaikan ungkapan ini kepada murid-murid ‘‘Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Menariknya, ungkapan Yesus ini membuat para murid tercengang (Mrk. 10:24), gempar (Mat. 19:25).
Keterkejutan para murid mungkin terjadi karena mereka kental dengan kepercayaan umum (tradisi Yahudi) bahwa kekayaan adalah tanda berkat Tuhan atas orang benar (Ul. 28:1–14; Mzm. 112:3; Ams. 3:13–16; 8:12–18).
Namun mengapa justru mereka sukar memperoleh hidup kekal? Kalau bukan orang kaya, lalu siapa yang bisa diselamatkan? (Mat. 19:25).
Yesus tidak mengatakan bahwa mustahil bagi orang kaya untuk memperoleh hidup kekal, karena Ia segera menambahkan bahwa bagi orang yang percaya kepada Allah, “segala sesuatu mungkin terjadi” (Mat. 19:26).
Yesus tidak terlihat melarang orang menjadi kaya namun berbicara tentang kesulitan bagi mereka yang menaruh kepercayaan pada kekayaan untuk memperoleh hidup kekal.
Sekali lagi, tujuan yang jelas dari ayat ini adalah untuk menggambarkan keputusasaan orang yang mengandalkan kekayaan untuk masuk ke dalam kerajaan daripada mengandalkan Tuhan.
JADILAH SEMPURNA: Sebuah Panggilan dalam Kejadian 17:1.
Makna Berdiam Diri dalam Habakuk 2:20
6 Hal yang Harus Dilepaskan Menurut Alkitab
Siapa mereka? Mereka adalah orang kaya yang dijelaskan dalam Yakobus 5:1-6, orang kaya yang tidak jujur dan memperlakukan orang lain dengan tidak adil.
‘‘Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!
Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.
Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu.
Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan.
Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.“
Yesus mengecam orang kaya yang memperoleh kekayaan dengan kejahatan, dan menggunakan kekayaannya untuk menindas orang lain, pamer, lebih memilih menghamburkan uangnya dengan sia sia daripada menolong orang berkesusahan di sekitarnya.
Terhadap mereka Yesus memperingatkan bahwa kekayaan mereka akan busuk, berkarat bahkan tidak akan berarti apa apa, tidak dibawa mati.
“Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.
Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” I Timotius 6:17-19
Perlu diingat, masuk ke dalam kerajaan Tuhan adalah tindakan Tuhan, bukan tindakan manusia.
Dengan menggunakan hewan darat terbesar di Palestina, Yesus menyamakan kemustahilan seekor unta yang melewati lubang jarum dengan upaya orang kaya untuk menggunakan kedudukan dan harta bendanya untuk masuk ke surga.
Ungkapan Unta dan lubang jarum merujuk pada bentuk ekspresi pepatah yang umum di sekolah-sekolah Yahudi, ketika seseorang ingin mengungkapkan gagasan tentang kesulitan besar atau ketidakmungkinan.
2 tahun lalu
[…] Orang Kaya Masuk Surga atau Unta Masuk Lubang Jarum […]