x

Pelajaran dari Simon Orang Kirene, Seorang Pelayan yang Dipaksa

waktu baca 6 menit
Rabu, 3 Jan 2024 13:48 1272 Jandri Tumangger

Pelajaran berharga dari Simon, si pelayan yang dipaksa.

Kisah kematian paling menginspirasi dan menyedihkan yang pernah ada dan kemudian diangkat ke dalam sebuah film adalah peristiwa kematian Yesus.

Mel Gibson sutradara sekaligus aktor Hollywood tidak salah ketika memilih Jim Caviezel ketika akan membuat Film yang mengangkat kisah terbesar yang pernah ada di bumi ini yaitu penyaliban Yesus.

Pergumulan dan persiapan yang cukup lama dari Jim Caviezel akhirnya memuahkan hasil, sebuah film yang kembali menggugah hati para penontonnya sekaligus menjadi kontroversi bagi beberapa kelompok.

Demikian kutipan pernyataan Jim ketika usai memainkan peran Yesus dalam film tersebut:

“Saya di make up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah satu satunya orang di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh sangat tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk duduk sambil bersantai minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal gatal sepanjang hari, membuat saya menjadi sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan se asli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu di pundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh2 terkejut. SALIB ITU TERLALU BERAT, tidak mungkin orang biasa pada umumnya bisa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga, yang terjadi kemudian setelah saya coba berjalan, bahu saya bergeser dari persendiannya dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu dan saya pun melolong kesakitan, meminta pertolongan, dan para kru mengira itu akting yang luar biasa sampai akhirnya mereka menyadari bahwa apa yang terjadi lalu menolong saya”.

Kisah di atas bisa kita umpamakan sebagai miniatur dari Matius 27:32, sebuah gambaran tentang kisah ketika Yesus berjalan tertatih sambil membawa salib menuju Golgota yang berjarak sekitar 1-1,5 km dari Yerusalem.

Dalam proses penyaliban Yesus saat itu, ada satu nama yang disebutkan dalam 3 tiga kitab Injil yang cukup mencuri perhatian saya sebagai pembaca, ia adalah Simon orang Kirene.

Baca juga: Hati yang Baru

Kemana Arwah Orang Mati?

Saat Yesus Tidak Dapat Membuat Mukjizat

4 Keistimewaan Kejadian Pasal 1

Perumpamaan Anak yang Hilang.

2 Jenis Tanda

Siapa Simon dari Kirene ?

Tidak banyak informasi yang kita ketahui tentang Simon yang berasal dari Kirene ini, yang pasti dia datang dari luar kota Yerusalem (seorang Yahudi dari Kirene, sebuah kota di Libya/Afrika Utara).

Simon dari Kirene disebutkan dalam Matius, Markus, dan Lukas sebagai orang yang membawa salib Yesus ke lokasi penyaliban-Nya. Dia adalah seorang penyembah Allah orang Yahudi.

Bersama dengan kedua putranya (Markus 15:21, Alexander dan Rufus) tampaknya ia sudah menabung untuk bisa datang ke Yerusalem.

Tujuan ke Yerusalem?

Sebagaimana orang Yahudi pada umumnya, simon dari kirene juga datang dan berkumpul di Yerusalem pada saat itu untuk merayakan paskah.

Menurut penanggalan Yahudi, Yesus mati tergantung di atas salib, tanggal 14 Nisan, beberapa jam sebelum hari Paskah Yahudi dirayakan (tanggal 15 Nisan, dimulai pada sekitar pk. 18:00 saat matahari terbenam).

Banyak orang Yahudi yang menyaksikan penderitaan Yesus saat berusaha mengangkat kayu salib, namun tidak satupun dari mereka yang berinisiatif menolong.

Mungkin saja mereka menganggap bahwa mereka akan tercemar jika membantu-Nya (Gal 3:13: Terkutuklah orang yang digantung di kayu salib), dan jika sudah cemar itu akan menghalangi mereka dalam melakukan paskah.

Melihat situasi itu, yang dilakukan oleh tentara Roma adalah memaksa seorang bernama Simon dari Kirene untuk memikul salib Yesus (Matius 27:32).

Beberapa kemungkinan mengapa Simon yang dipaksa mengangkat salib Yesus adalah, pertama mungkin saja ia bertubuh besar dan terlihat kuat.

Kedua, ia mungkin bersimpati melihat Yesus diperlakukan dengan semena-mena sehingga dari mulutnya terucap belas kasihan yang di dengar oleh tentara Roma, atau yang ketiga, ia terpilih secara acak diantara kerumunan ketika itu.

Baca juga: Gambar Tuhan dalam Perumpamaan Anak yang Hilang di Lukas 15.

8 Janji Tuhan yang Indah untuk Anda

TUHAN MENYESAL

6 Alasan Kita Harus Mempercayai Tuhan.

Simon orang Kirene itu tidak pernah berencana akan membantu Yesus dalam mengangkat salib. Tidak pernah berencana agar namanya di tulis dalam tiga kitab Injil.

Simon hanya merasa kasihan terhadap Yesus dan tidak sepantasnya Ia diperlakukan seperti itu. Pernahkah kita melakukan suatu pekerjaan dan kita merasa dipaksa melakukannya?

Kita tahu bahwa sesuatu yang dilakukan dengan terpaksa biasanya hasilnya pun akan ala kadarnya, atau malah bisa jadi kacau.

Anak anak di suruh mencuci piring, karena terpaksa (takut dimarahi) akhirnya dia lakukan dan akibatnya terkadang satu atau dua piring kaca pecah.

Disuruh memasak, dilakukan dengan terpaksa hasilnya minimal kurang garam, atau boleh jadi gosong. Artinya segala sesuatu yang di lakukan dengan terpaksa cenderung berakibat negatif.

Tapi apa yang dilakukan oleh Simon bukan berdampak negatif sekalipun tentara Roma yang memaksanya melakukannya.

Di dalam hatinya ia merasakan kegembiraan yang luar biasa karena menolong seseorang yang saat menyedikan keadaanya.

Buku Kerinduan Segala Zaman pasal 78 dengan judul “Golgota” menulis:

”Menanggung salib ke Golgota merupakan suatu berkat bagi Simon, dan sejak waktu itu ia berterima kasih karena bimbingan Ilahi ini. Hal itu menuntun dia untuk menanggung salib Kristus atas pilihannya sendiri, dan senantiasa berdiri dengan gembira di bawah bebannya.”

Pernahkah kita merasa terpaksa hadir dalam perbaktian gereja? Pernahkah kita merasa terpaksa melawat orang yang sakit/melayat orang yang berdukacita?

Pernahkah kita merasa terpaksa menjadi anggota majelis yang terpilih? Pernahkah kita merasa terpaksa membasuh kaki teman kita ketika upacara perjamuan? Pernahkah kita merasa terpaksa menerima tugas pelayanan?

Ketika kita merasa terpaksa lalu menolak untuk melakukannya, ingat! Kita bisa saja kehilangan berkat berupa pengalaman rohani yang luar biasa dalam pelayanan tersebut.

Apa jadinya jika Simon menolak dengan cara meronta dan meninggalkan tentara Roma dan menghilang di kerumunan ketika dipaksa untuk membantu Yesus mengangkat salib itu?

Ia tidak akan pernah menjadi satu satunya orang di kolong langit ini (selain Yesus) yang turut serta mengangkat salib menuju bukit penebusan itu.

Jika saja Simon menolak membantu Yesus mengangkat salib itu, maka namanya tidak akan pernah di tuliskan dalam 3 kitab Injil, sekalipun memang ia tidak pernah merencanakannya.

Penekanan pertama saya melalui tulisan ini, bukan untuk melegalkan pemaksaan dalam menugaskan seseorang untuk melayani, namun hanya sebuah cara berfikir agar kita tidak kehilangan pengalaman luar biasa yang hanya akan diperoleh jika kita turut ambil bagian dalam melayani Tuhan.

Kedua, tentu saja tujuan pelayanan bukan agar diabadikan lalu kemudian disombongkan, itu jauh dari motif dan fokus hidup kita, namun peristiwa Simon orang Kirene ini mengingatkan kita bahwa pelayanan yang dilakukannya atas dasar kasih sekalipun mungkin awalnya karena dipaksa, itu akan berdampak bagi perjalanan kerohanian orang lain, demikian yang terjadi dengan kita yang membaca kisahnya saat ini.

Jangan berhenti berbuat baik, jangan berhenti melayani. Dengan begitu keberadaan Anda akan selalu dinanti, dan kepergian Anda akan meninggalkan teladan rohani bagi orang lain.

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikuti Saya

Vlog

LAINNYA
x