x

Mencapai Kualitas Hidup Tertinggi Melalui Ketaatan pada 10 Perintah

waktu baca 7 menit
Jumat, 9 Agu 2024 23:00 874 Jandri Tumangger

Pada suatu waktu, ada seorang pemilik kebun jeruk mengatakan bahwa kebun miliknya ditanami dengan bibit yang sangat unggul dan buahnya paling manis di Israel.

Suatu kali teman pemilik kebun itu kebetulan lewat di kebun jeruk itu dan ia mengingat perkataannya.

Karena ia mengira bahwa itu adalah milik temannya, lalu dia petik dan makan, betapa terkejutnya dia ketika mencicipi jeruk itu dan bagi dia itu adalah jeruk paling pahit (karena terlalu asem) yang pernah dia makan sampai bikin sakit kepala.

Beberapa hari kemudian ia bertemu dengan pemilik kebun itu, dan pemilik kebun itu kembali bercerita bahwa jeruknya paling manis dan ia mengajaknya untuk mencobanya.

Karena sudah mencicipi jeruk tersebut maka temannya ini menolak, akan tetapi karena terus didesak untuk ikut maka ia menurutinya.

Sesampainya di sana ia disuruh mencoba namun ia berusaha menolak, walau pada akhirnya dia memakannya dan betapa terkejutnya ia karena jeruk itu ternyata manis.

Dia katakan, kemarin ketika saya lewat kebun mu saya mengambil buah jeruk dan mencicipinya mengapa rasanya pahit?

Jawab pemilik kebun itu, jeruk ini adalah jeruk paling manis diseluruh Israel, resikonya adalah jeruk ini bisa habis dicuri.

Untuk mengantisipasi kehilangan itu, maka disekeliling kebun jeruk ini, di bagian tepi pagar saya sengaja menanam jeruk yang paling asem buahnya, supaya jika ada yang mencurinya, mereka akan menemukan jeruk yang pahit.

Cerita ini umunya digunakan oleh para rabi untuk menyindir mereka yang mengejek para pemelihara sepuluh hukum.

Para rabi berpendapat bahwa mereka yang menolak 10 hukum adalah mereka yang tidak dapat merasakan rasa manis dari hukum itu karena mereka datang kepada 10 hukum tidak melalui jalan yang benar.

Itu sebabnya mereka katakan hukum itu tidak enak itu adalah kutuk. Seandainya saja mereka datang melalui jalan benar maka mereka akan melihat hukum itu sebagai berkat dan bukan kutuk atau beban.

Umumnya sebuah bangsa memiliki budaya masing masing. Salah satunya tercermin dari angka yang mereka gunakan.

Contohnya Mesir identiknya dengan angka lima (5) nya, Babilon angka enam (6), dan Israel dengan angka tujuh (7).

Terlihat ketika Yusuf jadi perdana menteri di Mesir, pada saat ia menjamu saudaranya yang datang ke Mesir untuk membeli makanan, kepada Benyamin dia beri makan lima kali lebih banyak dari yang lain.

Mungkin saja bukan artinya dia akan makan sampai lima kali ipat, tapi itulah cara Yusuf menunjukkan kebahagiannya dengan memberinya jumlah hidangan yang terbaik.

Kepada masing masing saudaranya Yusuf memberi sepotong pakaian, tetapi kepada Benyamin diberikannya 300 uang perak dan lima potong pakaian.

Akan tetapi ketika ia mengingat Yakub ayahnya, kepadanya  diberikan sepuluh ekor keledai (dua kali lipat).

Kemudian, pada waktu Yusuf menghadap Firaun untuk memberitahukan kedatangan ayahnya ke Mesir bersama dengan semua hartanya, ia membawa lima orang menghadap Firaun.

Jika penerapan yang sama diberlakukan terhadap Musa (besar dan dididik di Mesir) mungkin sekarang kita bisa sedikit memahami mengapa kitab Musa berjumlah lima.

Jika paham yang sama digunakan untuk melihat hukum taurat, maka kita mulai mengerti mengapa perintah Tuhan itu berjumlah sepuluh (10).

Itu adalah pemberian ganda, lima adalah jumlah yang terbaik lalu ditambah lagi lima. Akan tetapi sebelum Tuhan memberi sepuluh berkat kepada orang Israel, Ia terlebih dahulu mendatangkan sepuluh tulah kepada orang Mesir.

Di dalam Keluaran 7, ada sepuluh malapetaka yang bisa disebut kutuk ganda, di dalam  Keluaran 20 ada sepuluh perintah yang bisa disebut berkat ganda.

Mengomentari Keluaran 20 seorang  peneliti buku Keluaran yg paling ternama, Umberto Casuto berkomentar sebagai berikut:

“Sekarang kita mencapai klimaks dari seluruh buku Keluaran, pusat dan paling ditinggikan tema nya, apa yang terjadi sebelumnya hanya sekedar pengantar, Keluaran 21 dan seterusnya hanya sekedar akibat dari apa yang diberikan sebelumnya. Keluaran 20 adalah pusat dari dari semuanya.”

Prinsip sepuluh hukum adalah kasih, kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia. Jika kita perhatikan lebih teliti sepuluh hukum memiliki proses pergerakan kepada siapa itu diberikan.

Hukum 1-3 itu diberikan kepada Tuhan, ke 4 terlihat memiliki campuran antara kepada manusia dan kepada Tuhan.

Bagian hukum berikutnya ditujukan untuk mengasihi sesama manusia, dan hukum mengasihi sesama manusia dimulai dengan yang paling tinggi yaitu mengasihi orang tua kita sendiri ( ke-5), lalu kemudian mengasihi orang lain (6-9).

Sangat sukar bagi seseorang untuk menghormati orang lain jika ia tidak menghormati orang tuanya. Bayangkan jika seseorang tidak bisa mengasihi orang yang melahirkannya, bagaimana ia bisa mengasihi orang yang ia tidak kenal.

Tidak behenti disitu, ke-10 tidak berhubungan dengan Tuhan, tidak berhubungan dengan orang lain, tapi berhubungan dengan hati sendiri. “jangan ingin”.

Sepuluh hukum diawali dengan Tuhan (hukum ke-1) dan diakhiri dengan hati (hukum ke-10), sama sama tidak terlihat.

Hubungan kita dengan Tuhan tidak ada yang dapat melihatnya, isi hati kita juga tidak ada yang  dapat melihatnya, tetapi cara kita memperlakukan sesama manusia mencerminkan apakah hubungan kita dengan Tuhan damai atau tidak.

Kasih kita kepada Tuhan diukur dengan cara kita mengasihi sesama, pada saat yang sama, kasih kita kepada seseorang harus dikendalikan oleh hubungan kita dengan Tuhan.

Baca juga: Alasan Para Murid Yesus Berani Martir (bag 1)

Keyakinan yang Mengubah: Alasan Mengapa Kita Harus Memercayai Tuhan

5 Pengalaman Abraham Menunjuk Kepada Yesus

Hal Baik dari Kematian?

Antara Nafas dan Keheningan Maut: Kehidupan yang Tertahan

Bahaya dan Cara Mengatasi Ketamakan

Pelajaran Penting dari Garam Menjadi Tawar

Pelajaran dari Simon Orang Kirene, Seorang Pelayan yang Dipaksa

Prinsip Berpasangan

Jika diuraikan prinsip dalam sepuluh hukum itu berpasang pasangan, artinya apa yg kita lakukan kepada Tuhan akan tercermin kepada sesama.

Prinsip pertama menghormati Tuhan, jangan ada padamu Allah lain. Prinsip ini senada dengan, hormatilah orang tuamu (5). Tuhan adalah sumber kehidupan melalui penciptaan, orang tua adalah sumber kehidupan melalui proses melahirkan.

Prinsip kedua mengenai mahal dan kudusnya hidup. Jangan kamu membuat patung untuk disembah, ini senada dengan jangan membunuh. Tuhan yang harus disembah ialah Tuhan yang hidup, namun praktek yang terjadi tuhan yang disembah adalah benda mati (patung).

Dalam praktek seperti ini, seolah kita membuat Tuhan menjadi benda mati. Hidup itu mahal, Tuhan menghargai kehidupan setiap orang, dengan demikian kita juga harus menghargai kehidupan orang yang berada disekitar kita.

Prinisp ketiga mengenai kesetiaan. Jangan engkau menyembah illah lain dan beribadah kepadanya. Ini senada dengan jangan berzinah. Tuhan adalah Allah kita tetapi kita menyembah illah lain, ini artinya tidak setia. Wanita yang kita nikahi adalah istri kita, namun kita kejar perempuan lain, tidak setia.

Maka perintah jangan menyembah illah lain identik dengan jangan berzinah, itu sebabnya tindakan menyembah berhala oleh Israel seringkali disebut sebagai perzinahan rohani.

Prinsip keempat, kejujuran. Jangan menyebut nama Tuhan dengan sia-sia. Ini senada dengan hukum ke-9 jangan bersaksi dusta. Umumnya jika seseorang berdusta, maka untuk meyakinkan orang lain mereka akan melibatkan nama Tuhan, dan semakin besar dustanya, semakin yakin dan semakin sering pula nama Tuhan dilibatkan (demi Tuhan).

Prinsip kelima, respek, hormat. Ingat dan kuduskan/hormati hari sabat. Ini senada dengan jangan mencuri. Seperti menghormati sesama manusia dengan tidak mencuri harta mereka, demikian dengan Sabat, itu milik Tuhan, harus dihormati, itu harus dijaga dengan baik.

Kemudian hukum ke-10, ini menarik mengapa dikatakan jangan mengingi lembu dan keledai, lembu adalah binatang yang digunakan untuk bekerja menari bajak atau pedati, artinya jagan ingin pekerjaan orang lain sehingga terfikir untuk berbuat jahat untuk asalkan memperoleh pekerjaan itu.

Sementara keledai adalah kendaraan pribadi waktu itu, jangan ingin motor orang lain, mobil orang lain dan berfikir untuk melakukan hal jahat agar memperolehnya.

Mengenai hukum ke-10 ini, kembali Kasuto mengatakan:

“Seluruh bangsa mengatakan, tidak boleh berzinah, tidak boleh mencuri, tetapi yang membuat 10 hukum jauh lebih istimewa dari yang lain adalah, hukum ini menunjuk kepada yg lebih jauh yaitu, hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Yang diatur bukan lagi tingkah laku tetapi isi hati, artinya tidak cukup saya tidak menyembah illah lain, tapi saya harus “tidak ingin” menyembah illah lain, tidak cukup bagi saya tidak berdusta, tetapi target yg harus dicapai adalah, bahkan untuk berdusta pun saya “tidak ingin”, tidak cukup saya tidak membunuh tetapi saya harus sampai pada level “tidak ingin” membunuh, tidak cukup bagi saya tidak berzinah, tetapi saya harus sampai pada level, “tidak ingin” berzinah.”

Hukum ke 10 adalah kualitas hidup tertinggi yg harus dicapai manusia, bukan karena tidak memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan, tetapi untuk melakukan kejahatan, ingin pun tidak.

Karena boleh saja seseorang sikap nya tidak pernah jahat, tidak pernah salah, tapi memiliki niat buruk untuk membalas dendam, hanya saja seseorang itu tidak berani atau tidak memiliki kesempatan untuk melakukan nya.

Alangkah indahnya jika kita bisa hidup dalam level ‘tidak ingin’. Itu sebabnya 10 hukum itu bukan kutuk, melainkan berkat bahkan berkat ganda, karena apa? Karena di dalamnya mengajak kita untuk memiliki kualitas hidup yang sangat tinggi.

Mudah mudahan kita bisa melihat 10 hukum itu sebagai berkat untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik, bukan hukuman (beban).

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikuti Saya

Vlog

LAINNYA
x