Dalam kehidupan beriman, tidak jarang kita menemukan orang yang fasih berbicara tentang Tuhan. Mereka mampu menjelaskan siapa Tuhan, menceritakan kisah-kisah Alkitab dengan lancar, bahkan memberikan nasihat rohani kepada orang lain.
Namun, adakah yang lebih penting daripada hanya sekadar berbicara tentang Tuhan? Ya, yaitu berbicara kepada Tuhan. Inilah inti dari relasi yang sejati dengan Sang Pencipta, sebuah relasi yang hidup, aktif, dan bersifat dua arah.
Kisah Abraham dan Sara adalah contoh klasik tentang perbedaan antara berbicara tentang Tuhan dan berbicara kepada Tuhan. Dalam Kejadian 16, setelah bertahun-tahun menantikan janji Allah mengenai keturunan, Sara mulai ragu apakah janji itu benar-benar akan digenapi melalui dirinya.
Maka ia pun berkata kepada Abraham:
“Sesungguhnya TUHAN telah menahan aku melahirkan anak; baiklah hampirilah hambaku itu; mungkin oleh dialah aku akan memperoleh anak.” (Kejadian 16:2)
Perhatikan kalimat itu: “Tuhan telah menahan aku.” Sara sedang berbicara tentang Tuhan. Ia menyebut nama Tuhan, mengaitkan situasi mereka dengan tindakan Tuhan, tetapi tidak ada indikasi bahwa ia berbicara kepada Tuhan mengenai pergumulannya. Tidak ada catatan bahwa Sara atau Abraham mencari kehendak Tuhan dalam doa sebelum mengambil keputusan untuk memakai Hagar sebagai alat pemenuhan janji itu.
Baca juga: Tawaran Terakhir Abraham: Makna di Balik Sepuluh Orang Benar
Cerita Cinta di Tengah Permainan Politik dan Kekuasaan
Dan seperti yang kita ketahui, keputusan mereka membawa akibat jangka panjang yang serius. Hagar mengandung, lalu muncul kecemburuan, konflik dalam rumah tangga, pengusiran, bahkan permusuhan antara keturunan yang lahir dari keputusan ini—Ismael dan Ishak—yang sampai hari ini mencerminkan konflik besar antara dua bangsa besar di dunia. Mengapa ini bisa terjadi? Karena mereka berbicara tentang namun tidak berbicara kepada Tuhan.
Ketika iman hanya dibangun di atas pemahaman intelektual dan diskusi tentang Tuhan, kita rentan terhadap kesalahan arah. Kita bisa dengan mudah merasa tahu apa yang Tuhan inginkan hanya berdasarkan akal sehat atau logika pribadi. Kita mencoba “mewakili” kehendak Tuhan tanpa benar-benar meminta petunjuk-Nya secara langsung. Inilah bentuk kesombongan rohani yang halus, kita merasa cukup mengenal Tuhan untuk memutuskan tanpa perlu berdiskusi dengan-Nya.
Kita sering kali merasa bahwa karena kita tahu firman-Nya, kita juga tahu cara-Nya bekerja. Tapi Tuhan bukan sekadar konsep atau prinsip moral yang bisa dianalisis. Dia adalah Pribadi yang menghendaki hubungan, komunikasi, dan ketergantungan dari anak-anak-Nya.
Baca juga: 5 Pelajaran dari Dua Penjahat yang Disalibkan Bersama Yesus
Ksatria yang terlupakan, Tuhan yang Menang
Doa adalah tanda ketergantungan. Ketika seseorang berdoa, ia mengakui keterbatasannya dan menyerahkan kehendaknya kepada kehendak yang lebih tinggi. Tidak heran Yesus sendiri mengajarkan agar kita berdoa, “Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga.” (Matius 6:10). Ini bukan sekadar ritual. Ini adalah latihan iman, pengakuan bahwa kita tidak tahu jalan yang terbaik kecuali Tuhan yang menunjukkan.
Coba bayangkan jika Abraham dan Sara sebelum mengambil Hagar, berlutut bersama dan bertanya, “Tuhan, apakah ini jalan-Mu? Apakah ini yang Engkau kehendaki?” Kemungkinan besar Tuhan akan memberi jawaban, atau menahan mereka agar tetap dengan sabar menanti janji-Nya.
Tuhan tidak pernah mengecewakan orang yang menanti dengan setia. Namun menanti membutuhkan kekuatan, dan kekuatan itu hanya datang jika kita terus berbicara kepada Tuhan, bukan hanya berbicara tentang-Nya.
Baca juga: Tawa dan Keseriusan dalam Misteri Ilahi: Sebuah Studi Alkitabiah
Pelajaran dari Simon Orang Kirene, Seorang Pelayan yang Dipaksa
Hidup rohani yang sehat bukan ditandai dengan seberapa banyak kita tahu tentang Tuhan, tapi seberapa dalam kita berjalan bersama Tuhan. Seberapa sering kita berbicara kepada-Nya dalam segala hal, baik hal kecil maupun besar.
Ada banyak orang Kristen yang membaca Alkitab, mendengar khotbah, berdiskusi dalam kelompok kecil, bahkan mengajar orang lain, tetapi sangat jarang berbicara langsung kepada Tuhan dalam doa yang sungguh-sungguh. Mungkin karena kita terlalu sibuk, atau karena kita merasa Tuhan “sudah tahu” isi hati kita, atau karena kita lebih percaya pada akal dan kemampuan kita sendiri.
Namun tanpa komunikasi yang aktif kepada Tuhan, iman menjadi kering, kehilangan kepekaan, dan pada akhirnya mengandalkan daging, bukan Roh.
Kita harus berbicara kepada Tuhan sebelum mengambil keputusan. Doa bukan formalitas, tapi kebutuhan. Kita butuh Tuhan di tengah keputusan-keputusan hidup kita: dalam pernikahan, pekerjaan, pelayanan, keuangan, pendidikan anak, dan segala hal lainnya.
Baca juga: Makna Yesus Duduk di Sebelah Kanan Allah dalam Markus 16:19
JOURNEY INTO THE UNKNOWN: Panggilan Nyaring Dalam Kejadian 17:1
Belajarlah dari kesalahan Abraham dan Sara: jangan hanya berbicara tentang Tuhan, bicaralah kepada Tuhan. Ketika kita menyebut nama-Nya, pastikan itu bukan hanya di bibir atau diskusi, tetapi juga dalam hubungan yang intim dan pribadi melalui doa dan penyembahan. Karena satu keputusan yang dibuat tanpa suara Tuhan bisa berakibat panjang dan menyakitkan.
Tuhan tidak ingin hanya dikenal, Dia ingin dijadikan sahabat. Sebagaimana Abraham akhirnya disebut “sahabat Allah”, mari kita pun belajar menjadi sahabat Tuhan yang tidak hanya membicarakan Dia, tetapi mendengarkan suara-Nya, mencurahkan isi hati kita kepada-Nya, dan menanti petunjuk-Nya dalam segala perkara.
Sebab berbicara tentang Tuhan hanya menyentuh pengetahuan, tetapi berbicara kepada Tuhan menyentuh hati-Nya dan mengubah hidup kita.
7 bulan lalu
Saya pengen ikut retreat bersama
7 bulan lalu
silahkan