x

Pertanyaan yang Tak Pernah Terucap dari Daud

waktu baca 6 menit
Selasa, 25 Nov 2025 06:56 248 Jandri Tumangger

Kisah Raja Daud selalu memberikan banyak pelajaran tentang kepemimpinan, keluarga, dan kerohanian.

Salah satu bagian yang sering luput dari perhatian muncul dalam 1 Raja-raja 1:6, ketika Alkitab menjelaskan bahwa Daud “tidak pernah menegur anaknya itu dengan mengatakan: “Mengapa engkau berbuat demikian?”

Ayat ini menyoroti satu fakta penting: Daud tidak menegur Adonia sejak muda, dan kelonggaran itu akhirnya memberi ruang bagi semangat pemberontakan. Dari sini kita melihat bahwa kasih tanpa teguran tidak menumbuhkan kebaikan, tetapi membuka jalan bagi kehancuran.

Tulisan ini membahas bagaimana ketidaktegasan Daud berdampak pada keluarganya, mengapa teguran dibutuhkan dalam kasih sejati, dan bagaimana prinsip tersebut relevan bagi kehidupan masa kini.

Ketidaktegasan Daud dan Latar Belakang Pemberontakan Adonia

Adonia tumbuh sebagai anak raja dengan segala fasilitas, perhatian, dan penghormatan. Namun, ia tumbuh tanpa satu hal penting dalam pendewasaan karakter: teguran yang membentuk hati.

Daud mencintai anak-anaknya, tetapi ia sering menunjukkan kelemahan dalam mengarahkan dan menegur perilaku mereka. Ketika Adonia menunjukkan sikap ambisius dan manipulatif, Daud memilih diam. Sikap diam ini menciptakan ruang bagi Adonia untuk mengembangkan rasa percaya diri yang berlebihan dan mulai merasa memiliki hak pemerintahan atas takhta Israel.

Baca juga: Bahaya Masa Kini: Langkah Terhenti di Tengah Jalan Keselamatan

Ketika Daud sudah menjadi tua dan lemah, Adonia berusaha merebut takhta dengan memproklamasikan dirinya sebagai raja tanpa izin Daud. Ia mengumpulkan pengikut, termasuk beberapa pejabat penting, dan mengadakan upacara penobatan sendiri (1 Raja-raja 1:1–10). Semua tindakan itu tumbuh dari benih kecil yaitu kurangnya disiplin dan teguran sejak awal.

Kasih yang Daud berikan kepada anak-anaknya memang tulus, tetapi kasih yang tidak diimbangi dengan disiplin menghasilkan karakter yang tidak stabil. Adonia tidak memiliki batasan moral yang kuat karena ayahnya tidak pernah menyuarakan kata sederhana namun sangat penting: “Mengapa engkau berbuat demikian?”

Kasih Tanpa Teguran Membuka Ruang untuk Pemberontakan

Kasih yang hanya mengutamakan kenyamanan akan menggagalkan pertumbuhan seseorang. Banyak orang menafsirkan kasih sebagai perilaku lembut tanpa konfrontasi. Namun, Alkitab menunjukkan bahwa kasih sejati justru menunjukkan keberanian untuk menegur ketika seseorang berjalan ke arah yang salah.

Ketika seseorang tidak dapat menerima teguran, ia kehilangan kompas untuk mengukur benar dan salah. Itulah yang terjadi pada Adonia, Ia tidak belajar menghormati dan tunduk pada otoritas. Ia tidak belajar menimbang konsekuensi. Hati yang tidak pernah diproses oleh koreksi akan cenderung menentang, melanggar batas, dan mengejar keinginan pribadi tanpa memperhitungkan kehendak Tuhan.

Baca juga: Doa Yabes: Dilahirkan dalam Sakit, Hidup dalam Berkat

Adonia tidak merasa bersalah ketika ia mencoba merebut takhta, karena ia tidak pernah mengenal batasan. Ia mengira bahwa semua yang ia lakukan selalu benar. Pada akhirnya, pemberontakan lahir bukan dari kebencian, tetapi dari ketidakhadiran disiplin dalam kasih.

Cinta Sejati Selalu Disertai Disiplin dan Kebenaran

Banyak orang menginginkan hubungan yang penuh kasih, tetapi tidak semua bersedia memberikan teguran. Dalam keluarga, orang tua lebih memilih diam daripada menegur karena takut hubungan retak. Namun, diam yang terus berulang justru merusak hubungan. Anak yang tidak pernah menerima disiplin akan kehilangan arah hidup.

Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan sendiri mendidik umat-Nya melalui teguran. Jika disiplin merupakan bagian dari kasih Tuhan, berarti setiap bentuk kasih manusia pun perlu menunjukkan prinsip yang sama. Kasih sejati tidak membiarkan seseorang berjalan dalam kesalahan, tidak membiarkan keputusan buruk merusak masa depan seseorang namun mengusahakan pemulihan dan perubahan.

Baca juga: Jejak Sunyi Yoseba: Nama Kecil dalam Rencana Besar Tuhan

Ketika orang tua menegur dengan cinta, anak belajar bertanggung jawab, bilamana pemimpin menegur dengan tegas, komunitas berjalan sehat, dan saat sahabat menegur sahabatnya, hubungan itu tumbuh lebih kuat dan lebih jujur. Tanpa teguran, kasih hanya berubah menjadi kelembutan tanpa arah dan kenyamanan yang meninabobokan.

Mengapa Banyak Orang Sulit Memberikan Teguran?

Kasus Daud menunjukkan bahwa bahkan orang besar pun dapat gagal menegur orang yang ia cintai. Banyak faktor bisa menjadi alasan. Pertama, rasa bersalah di masa lalu. Daud mungkin merasa tidak layak menegur anak-anaknya karena masa lalunya yang kelam. Namun, menghindari teguran karena rasa bersalah justru membuka ruang bagi masalah yang lebih besar.

Kedua, Takut kehilangan kasih anak. Orang tua sering takut bahwa teguran akan menciptakan jarak. Padahal, teguran yang benar justru menjaga hubungan tetap sehat. Ketiga, rasa nyaman dalam diam. Diam terasa lebih mudah daripada berbicara jujur. Tetapi keheningan seperti itu menyimpan bahaya besar.

Baca juga: Mencapai Kualitas Hidup Tertinggi Melalui Ketaatan pada 10 Perintah

Yang terakhir, anggapan bahwa seseorang itu akan berubah sendiri. Namun, perubahan tidak terjadi secara otomatis. Karakter membutuhkan pembentukan, pembentukan membutuhkan disiplin dan teguran menjadi bagian di dalamnya.

Pelajaran Penting dari Kisah Adonia

Kisah Adonia menjadi teguran bagi generasi masa kini agar tidak mengabaikan disiplin dalam keluarga dan komunitas. Orang tua harus berani menanamkan nilai dan Batasan. Anak membutuhkan kasih, tetapi mereka juga membutuhkan arah yang jelas. Disiplin memberi mereka dasar untuk membedakan benar dan salah.

Pemimpin harus berani menegur demi kebaikan kelompok. Ketika pemimpin menghindari konfrontasi, kekacauan mulai tumbuh. Teguran menjaga arah sebuah organisasi tetap tidak melenceng. Setiap orang perlu menerima teguran sebagai bagian dari pertumbuhan bukan menganggapnya sebagai penghukuman.

Baca juga: Tawa dan Keseriusan dalam Misteri Ilahi: Sebuah Studi Alkitabiah

Teguran adalah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan menjadi lebih dewasa, kasih yang tidak disertai kebenaran akan berubah menjadi kelemahan dan karenanya kasih kehilangan makna.

Relevansi bagi Kehidupan Pribadi dan Relasi Modern

Di zaman modern, banyak orang menganggap teguran sebagai tindakan tidak ramah atau tidak toleran. Budaya saat ini sering menekankan kenyamanan, bukan kebenaran. Namun, hubungan yang hanya berisi kenyamanan tidak akan bertahan lama. Hubungan yang sehat membutuhkan ruang untuk berbicara jujur.

Baca juga: Memahami Pengertian Dalihan Na Tolu Berdasarkan Roma 12:10,18

Dalam keluarga, disiplin mencetak karakter, dalam pernikahan, keterbukaan mencegah konflik tersembunyi, dalam pelayanan, teguran menjaga integritas dan dalam pekerjaan, koreksi memperbaiki kinerja. Setiap bidang kehidupan membutuhkan keberanian untuk berkata, “Ada hal yang harus kita perbaiki.”

Kasih Sejati Tidak Pernah Terpisah dari Teguran

Ketidaktegasan Daud dalam menegur Adonia menunjukkan bahwa kasih tanpa kebenaran menghasilkan bencana. Cinta sejati membutuhkan keberanian untuk menetapkan batasan, itu akan mengarahkan seseorang menuju kehidupan yang lebih baik, bukan membiarkannya berjalan menuju kehancuran.

Baca juga: Arti Berbahagialah Orang Yang Membawa Damai dalam Matius 5:9

Ketika kita belajar dari kisah ini, kita memahami bahwa teguran bukan musuh dari kasih, tetapi bagian penting dari kasih itu sendiri. Kasih yang sejati tumbuh bersama disiplin, kejujuran, dan kebenaran. Dengan mempraktikkan prinsip itu, kita dapat membangun keluarga yang kokoh, hubungan yang sehat, dan kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikuti Saya

Vlog

LAINNYA
x