A senior woman peers, anxious and disapproving, through a blind. Melihat wajah Tuhan adalah keinginan yang tertanam dalam di jiwa manusia.
Budaya dan agama mencoba mengungkapkan keinginan ini dengan berbagai cara, berupaya menjembatani kesenjangan antara yang fana dan yang Ilahi sebagai pencarian universal.
Dalam tradisi agama, melihat Tuhan melambangkan kepuasan dan pencerahan tertinggi. Umat Kristiani sangat menantikan sorga karena di sanalah mereka akan memandang Tuhan dalam segala kemuliaan-Nya.
Pertanyaannya, tanpa harus menantikan sorga yang indah itu, dapatkah kita melihat wajah Tuhan saat ini? di mana dan bagaimana kita menemukan-Nya?
Musa pernah memohon agar Tuhan memperlihatkan kemuliaan-Nya, untuk hal itu Tuhan katakan “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu, namun engkau tidak dapat melihat wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.”
Meskipun ada ketetapan ilahi bahwa melihat wajah Tuhan adalah sesuatu yang melampaui kemampuan fana, tentu pencarian kita tidak berhenti sampai di sini
Kerinduan ini seolah menjadi bahan bakar praktik spiritual, ritual, dan doa setiap orang, semuanya berusaha untuk menangkap sekilas kemuliaan ilahi yang dicari Musa.
Di dalam Alkitab terdapat kisah lain yang dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan di mana dan bagaimana kita dapat melihat melihat wajah Tuhan, yakni kisah hidup Yakub.
Perjalanan hidup Yakub hadir jauh sebelum Musa. Musa adalah generasi ke empat dari Yakub. Yakub (Lea) memperanakkan Lewi, Lewi memperanakkan Kehat, Kehat memperanakkan Amram, dan kemudian Amram (Yokhebed) memperanakkan Musa.
Dalam sebuah pernyataan, Yakub mengungkapkan bahwa melihat wajah Esau (kakaknya) seperti melihat wajah Tuhan. Tampaknya dari kisah Yakub ini kita akan mendapat petunjuk untuk menjawab pertanyaan di atas.
Di dalam Kejadian 27 Ribka mendengar bahwa Ishak menyuruh Esau untuk berburu dan kemudian memasak makanan kesukaannya kemudian ia akan memberkati Esau.
Mendengar hal itu, Ribka yang tampaknya lebih menyayangi Yakub segera menyuruhnya melakukan seperti yang diminta Ishak dan berpura pura menjadi Esau. Rencana berhasil, Yakub akhirnya mendapat berkat dari Ishak dengan tipu muslihat.
Mengetahui apa yang terjadi, Esau menjadi marah dan dendam kepada Yakub, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri:
“Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh.”
Mengetahui hal itu Ribka menyuruh Yakub melarikan diri ke rumah pamannya Laban untuk menghindari amarah Esau. Empat belas tahun ia bekerja untuk Laban dan ia mendapatkan Rahel dan Lea.
Perjalanan hidup Esau dan Yakub terus berjalan di tempat yang berbeda, hingga akhirnya mereka akan bertemu dan ditulis dalam Kejadian 33.
Baca juga: Ketika Tuhan Tertawa, Sebuah Studi Alkitabiah
Ketika Tuhan Sembunyi dari Umat-Nya, Sebuah Studi Alkitabiah
Orang Kaya Masuk Surga atau Unta Masuk Lubang Jarum
Mengungkap Fakta Perubahan Hari Ibadah dari Sabtu ke Minggu.
Gambar Tuhan dalam Perumpamaan Anak yang Hilang
Kurang lebih ada waktu selama dua puluh tahun kedua bersaudara ini berpisah, dan selama itu pula Esau terus menyimpan dendam untuk membunuh Yakub.
Pada akhirnya Yakub memutuskan untuk pulang ke kampung halamnnya. Suka atau tidak ia akan bertemu dengan kakaknya Esau yang pernah berencana untuk membunuhnya.
Malam terakhir sebelum pertemuan dengan Esau, Yakub sangat takut dan ia berdoa agar Tuhan melepaskannya dari amarah Esau, karena pikirnya tentu Esau akan membunuhnya karena perstiwa kurang lebih 20 tahun yang lalu.
Pada malam itu di tepi sungai Yabok, Yakub bergulat dengan seorang laki laki dan Ia menyebutkan namamu akan disebut Israel karena engkau bergumul melawan Allah dan manusia dan engkau menang.
Malam pergumulan itupun berlalu. Malam tidak dapat dihentikan, hari berganti menjadi siang dan tiba waktunya ia bertemu dengan kakaknya Esau.
Pada saat mereka bertemu, apa yang ditakutkan oleh Yakub tidak terjadi, bahkan sedikitpun Esau tidak menyakiti Yakub, ia justru mendekapnya. Dipeluk dan diciumnya lehernya dan mereka bertangis tangisan.
Dalam suasana yang bahagia ini, Yakub mengatakan kepada Esau bahwa melihat mukamu seperti melihat wajah Allah (Kej 33:10).
Jangan lupa, malam sebelumnya Yakub bergumul dengan Allah, dan kali ini ia mengatakan bahwa wajah Esau seperti wajah Allah. Apa yang membuatnya demikian?
Esau sudah berhasil mengalahkan dendamnya terhadap Yakub, orang yang ingin dia bunuh karena amarahnya, terbukti pada hari pertemuan itu ia tidak melakukannya.
Esau dapat memaafkan adiknya dan mengalahkan amarah dan dendam yang sudah ia simpan selama kurang lebih dua puluh tahun.
Wajah yang menerima dengan penuh kasih dan yang telah memaafkan nya itu yang disebut oleh Yakub seperti melihat wajah Allah.
Perlu dipahami bahwa ketika Yakub menyebutkan wajah Allah, bisa saja Yakub merujuk kepada karakter Allah yang maha pengampun, dan karakter itu dirasakan nya juga dalam diri Esau.
Tindakan belas kasih, keadilan, sifat memaafkan dan cinta mencerminkan kehidupan yang sesuai dengan prinsip-prinsip ilahi.
Melalui melayani sesama dan memupuk perdamaian, manusia berusaha untuk mewujudkan sifat-sifat ilahi, membuat kehadiran wajah Tuhan diketahui dengan cara yang nyata dalam tindakan kita.
Anda ingin agar wajah Anda terlihat seperti Wajah Allah? Jadilah orang yang selalu menyukai dan mengupayakan kedamaian dan memberikan maaf.
Tidak ada komentar