Naftali muncul dalam kisah keluarga Yakub sebagai putra kedua Bilha, budak Rahel (Kejadian 30:7–8). Kehadirannya tidak dapat dilepaskan dari konflik batin Rahel yang lama bergumul dengan kemandulan, kecemburuan terhadap Lea, dan kerinduan mendalam akan pengakuan.
Melalui Bilha, Rahel berjuang di hadapan Allah, bukan sekadar untuk memiliki anak, melainkan untuk menemukan tempatnya dalam rencana ilahi. Dengan demikian, kelahiran Naftali mencerminkan iman yang ditempa dalam proses panjang, bukan iman yang lahir secara instan.
Situasi ini menunjukkan bahwa Allah kerap bekerja melalui jalan yang berliku. Ia tidak selalu menjawab doa dengan segera, namun membentuk hati manusia lewat penantian dan pergulatan. Dari rahim pergumulan itu, Naftali dilahirkan sebagai tanda bahwa iman sejati bertumbuh ketika seseorang tetap berseru meski hati terluka.
Rahel menamai anak itu “Naftali”, dari kata Ibrani naftal yang berarti “pergumulan” atau “perjuangan yang sengit”. Rahel sendiri berkata, “Aku telah berjuang dengan pergumulan yang hebat dengan kakakku dan aku menang” (Kej. 30:8). Nama ini tidak sekadar label, melainkan kesaksian iman: kemenangan rohani lahir setelah pergulatan panjang di hadapan Tuhan.
Melalui nama ini, Alkitab mengajarkan bahwa iman tidak selalu muncul dari kenyamanan. Sebaliknya, iman sering dibentuk oleh konflik batin, doa yang disertai air mata, dan harapan yang hampir padam. Naftali menjadi simbol bahwa pergumulan tidak sia-sia bila diarahkan kepada Allah.
Ketika Israel memasuki Tanah Perjanjian, suku Naftali menerima wilayah di bagian utara Kanaan (Yosua 19:32–39). Daerah ini terkenal subur, kaya air, dan cocok untuk pertanian. Pegunungan yang hijau, lembah yang luas, serta kedekatan dengan Danau Galilea menjadikan tanah Naftali lambang kelimpahan dan berkat nyata.
Keberlimpahan ini bukan kebetulan geografis semata. Melalui warisan tersebut, Allah menunjukkan bahwa Ia memulihkan mereka yang pernah bergumul. Tanah yang subur mencerminkan jiwa yang dipulihkan. Dengan kata lain, Tuhan tidak hanya memberikan kemenangan rohani, tetapi juga berkat yang dapat dinikmati dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Hakim-Hakim 5, suku Naftali disebut dalam nyanyian Debora sebagai suku yang mempertaruhkan nyawa demi pembebasan Israel. Bersama Zebulon, Naftali tampil sebagai suku yang berani menghadapi ancaman Sisera. Tindakan ini memperlihatkan karakter yang terbentuk dari sejarah panjang pergumulan.
Keberanian tersebut tidak muncul dari kekuatan militer semata, melainkan dari iman yang telah ditempa. Suku yang namanya berarti “pergumulan” justru tampil sebagai pembela umat Allah. Melalui kisah ini, Alkitab menegaskan bahwa mereka yang setia dalam proses sering kali dipakai Tuhan secara luar biasa pada waktunya.
Menjelang akhir hidupnya, Yakub memberkati anak-anaknya. Tentang Naftali, ia berkata, “Naftali adalah rusa yang dilepaskan; ia menyampaikan perkataan-perkataan yang indah” (Kej. 49:21). Gambaran rusa menekankan kecepatan, kelincahan, dan kebebasan. Selain itu, ungkapan “perkataan yang indah” menunjuk pada kemampuan membawa pesan yang menyejukkan.
Berkat ini mengandung makna profetis. Kecepatan rusa melambangkan kesiapan melayani, sedangkan kata-kata yang indah mencerminkan panggilan sebagai pembawa damai. Dari pergumulan lahirlah kelembutan, dan dari luka lahirlah penghiburan bagi banyak orang.
Yesaya menubuatkan bahwa “tanah Zebulon dan tanah Naftali” yang berjalan dalam kegelapan akan melihat terang yang besar (Yes. 9:1–2). Nubuat ini menemukan penggenapannya ketika Yesus memulai pelayanan-Nya di wilayah Galilea, khususnya di daerah Naftali. Injil Matius mencatat bahwa dari wilayah inilah Yesus memanggil murid-murid pertama-Nya (Mat. 4:12–22).
Makna rohaninya sangat mendalam. Tanah yang pernah bergumul, berperang, dan berjalan dalam bayang-bayang akhirnya menjadi tempat pertama cahaya Mesias bersinar. Allah memilih wilayah Naftali sebagai panggung awal Injil, seolah menegaskan bahwa terang-Nya paling jelas bersinar di tengah kegelapan terdalam.
Baca juga: Pengampunan dari Atas: Penyesalan dan Penebusan Tuhan
Benang merah kisah Naftali mengarah pada satu kebenaran: dari pergulatan iman lahir pembawa damai. Nama yang lahir dari konflik justru menghasilkan warisan kelimpahan, keberanian, dan terang. Orang yang dahulu bergulat kini menemukan kedamaian sejati di hadapan Tuhan.
Pola ini relevan bagi kehidupan iman masa kini. Pergumulan tidak perlu ditakuti, sebab Tuhan sering memakai proses tersebut untuk membentuk karakter, memperdalam iman, dan mempersiapkan seseorang menjadi saluran berkat. Seperti Naftali, mereka yang setia dalam pergumulan akhirnya mengalami kebebasan seperti rusa yang dilepaskan dan membawa perkataan yang menghidupkan.
Kisah Naftali mengajarkan bahwa iman bukan sekadar hasil pengakuan lisan, melainkan buah dari perjalanan panjang bersama Allah. Tuhan tidak membuang cerita yang rumit, keluarga yang tidak ideal, atau masa lalu yang penuh luka. Sebaliknya, Ia menenun semuanya menjadi kesaksian yang indah.
Melalui Naftali, Alkitab mengundang setiap orang percaya untuk memandang pergumulan sebagai ladang pembentukan. Dari sana, Tuhan memunculkan terang, damai, dan panggilan ilahi. Pada akhirnya, mereka yang bertahan dalam iman akan menemukan bahwa kedamaian sejati hanya dapat ditemukan di hadapan Tuhan, Sang Sumber terang dan kehidupan.
Baca juga: Tawa dan Keseriusan dalam Misteri Ilahi: Sebuah Studi Alkitabiah
Baca juga: duduk di sebelah kanan allah
Baca juga: Apa Artinya Kasihilah Musuhmu dan Berdoalah Bagi Mereka yang Menganiaya Kamu? Dalam Matius 5:44
Baca juga: Ketika Tuhan Teringat: The Everlasting Mind of God
Tidak ada komentar