Alkitab memperkenalkan Apolos sebagai sosok muda yang memikat. Kisah Para Rasul 18:24 menyebutnya sebagai seorang Yahudi dari Aleksandria, fasih berbicara dan mahir dalam Kitab Suci.
Gambaran ini langsung menempatkan Apolos di jajaran pemikir unggul pada zamannya. Ia datang dari pusat intelektual dunia kuno, sebuah kota yang terkenal dengan filsafat, retorika, dan pendidikan tingkat tinggi. Namun, yang membuat Apolos istimewa bukan hanya kecerdasannya, melainkan sikap hatinya yang lembut dan terbuka untuk dibentuk.
Aleksandria bukan kota biasa. Kota ini berdiri sebagai pusat filsafat, ilmu pengetahuan, dan dialog lintas budaya. Perpustakaan Aleksandria menjadi simbol pencarian kebenaran melalui rasio dan logika. Dari lingkungan seperti inilah Apolos dibentuk. Apolos menguasai seni berbicara, memahami teks Kitab Suci dengan mendalam, dan mampu menjelaskan kebenaran dengan daya tarik intelektual yang kuat.
Karena latar belakang tersebut, Apolos tampil sebagai komunikator ulung. Ia tidak sekadar berbicara, tetapi memikat pendengarnya. Pemikirannya runtut, argumentasinya tajam, dan penyampaiannya penuh keyakinan. Banyak orang muda pada masa kini mungkin melihat dirinya sendiri dalam sosok Apolos: terdidik, percaya diri, dan cepat mendapat perhatian.
Meskipun demikian, Alkitab dengan jujur menyatakan keterbatasan Apolos. Ia hanya mengenal baptisan Yohanes. Artinya, pemahamannya tentang keselamatan belum utuh. Ia memahami pertobatan dan seruan moral Yohanes Pembaptis, tetapi belum sepenuhnya mengerti karya Kristus yang lengkap: salib, kebangkitan, dan kepenuhan Injil.
Di titik inilah kisah Apolos menjadi sangat relevan. Banyak orang memiliki pengetahuan Alkitab yang luas, tetapi belum tentu memiliki pemahaman teologis yang menyeluruh. Kepandaian tidak selalu sejalan dengan kedewasaan rohani. Apolos berdiri di persimpangan penting: antara merasa cukup atau bersedia diajar.
Selanjutnya, Allah mempertemukan Apolos dengan pasangan yang luar biasa: Akwila dan Priskila. Mereka bukan rasul besar atau tokoh utama mimbar publik. Namun, mereka memiliki pemahaman yang benar tentang jalan Tuhan. Pasangan ini mendengar Apolos berbicara, mengenali kekuatannya, sekaligus melihat celah dalam ajarannya.
Alih-alih mempermalukan Apolos di depan umum, Akwila dan Priskila memilih pendekatan penuh hikmat. Mereka mengundang Apolos dan menjelaskan kepadanya jalan Tuhan dengan lebih teliti. Di sinilah karakter sejati Apolos tersingkap.
Banyak orang pintar tersandung pada tahap ini. Koreksi sering dianggap ancaman. Teguran sering dipandang sebagai serangan pribadi. Namun, Apolos menempuh jalan yang berbeda. Ia tidak membela diri, tidak tersinggung. Ia tidak merasa wibawanya runtuh karena diajar oleh orang lain.
Sebaliknya, Apolos membuka hati. Ia mendengar, belajar, dan menerima kebenaran dengan kerendahan hati. Sikap inilah yang menjadi kunci pertumbuhannya. Pengetahuan yang luas menemukan pasangan sejatinya dalam hati yang mau dibentuk.
Setelah menerima pengajaran yang lebih lengkap, pelayanan Apolos justru semakin kuat. Ia tidak kehilangan pengaruh, tidak kehilangan pengikut, tidak kehilangan otoritas. Sebaliknya, pelayanannya naik ke level baru. Injil yang disampaikannya menjadi lebih utuh, lebih dalam, dan lebih berdampak.
Kemudian, Paulus sendiri mengakui peran besar Apolos dalam jemaat mula-mula. Dalam 1 Korintus 3:6, Paulus berkata, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Apolos bukan figur pinggiran. Ia berdiri sebagai rekan pelayanan yang sejajar, memiliki kontribusi nyata dalam membangun iman jemaat.
Baca juga: Mencapai Kualitas Hidup Tertinggi Melalui Ketaatan pada 10 Perintah
Di titik ini, sebuah kebenaran penting muncul. Kerendahan hati tidak pernah mengurangi pengaruh seseorang. Justru sebaliknya, sikap rendah hati memperluas jangkauan pelayanan. Apolos tidak kehilangan wibawa karena menerima teguran. Ia bahkan mendapatkan kehormatan yang lebih besar.
Kitab Amsal 29:23 menegaskan, “Orang yang rendah hati akan memperoleh kehormatan.” Prinsip ini nyata dalam hidup Apolos. Ia membuktikan bahwa pemimpin sejati bukan orang yang selalu benar, melainkan orang yang selalu mau bertumbuh.
Kini, konteksnya berubah, tetapi tantangannya tetap sama. Dunia rohani masa kini dipenuhi oleh orang-orang muda yang cerdas, percaya diri, dan komunikatif. Media sosial mempercepat popularitas. Viral sering datang lebih cepat daripada kedewasaan tetapi tidak memiliki fondasi yang kokoh.
Ironisnya, tidak sedikit dari mereka yang sulit menerima koreksi. Banyak yang lebih nyaman dikelilingi pengagum daripada pembimbing. Pujian terasa lebih aman daripada teguran. Padahal, tanpa kerendahan hati, potensi besar justru berubah menjadi jebakan.
Baca juga: Apakah Yesus Pernah Berkata, “Aku adalah Tuhan, Sembahlah Aku”?
Amsal 9:9 berkata, “Berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak.” Ayat ini menggambarkan sikap Apolos dengan tepat. Orang bijak tidak alergi terhadap koreksi. Sebaliknya, ia melihat teguran sebagai sarana pertumbuhan.
Dunia tidak kekurangan suara keras. Platform digital dipenuhi opini lantang. Namun, dunia kekurangan orang cerdas yang mau ditegur. Kekristenan membutuhkan lebih banyak pemimpin seperti Apolos: tajam dalam pikiran, lembut dalam hati, dan setia dalam pertumbuhan.
Akhirnya, kisah Apolos mengajak setiap pembaca untuk bercermin. Kepintaran bukan masalah. Kepercayaan diri juga bukan dosa. Namun, tanpa kerendahan hati, semua itu kehilangan arah. Apolos menunjukkan bahwa belajar tidak pernah merendahkan martabat seseorang. Justru melalui sikap mau diajar, Tuhan memperluas dampak hidupnya.
Karena itu, jadilah seperti Apolos. Kejarlah kebenaran dengan akal yang tajam. Bangun karakter dengan hati yang tunduk. Sambut koreksi sebagai anugerah. Dengan jalan itu, pertumbuhan tidak berhenti, dan pengaruh akan bertahan jauh melampaui sorak-sorai sesaat.
Baca juga: Mengungkap Konteks Sejarah Pakaian dan Perhiasan dalam Kekristenan
Baca juga: Mengungkap Fakta Perubahan Hari Ibadah dari Sabtu ke Minggu
Baca juga: 3 Pelajaran perjalanan Yakub, dari Betel ke Betel
Baca juga: 40 Penulis Alkitab dan Tahun Penulisan
1 minggu lalu
[…] Illahi 4 hari lalu Pesan dari Gehazi: Ketamakan Menghancurkan Pelayanan 5 hari lalu Pintar Saja Tidak Cukup: Pelajaran Penting dari Apolos 1 minggu lalu Gereja: Panggilan Bersatu di Tengah Ketidaknyamanan 1 minggu lalu […]