Nikodemus tampil dalam Injil Yohanes sebagai sosok yang mapan secara religius namun gelisah secara rohani. Ia bukan orang sembarangan.
Alkitab mencatatnya sebagai seorang Farisi, pemimpin Yahudi, sekaligus anggota Sanhedrin, dewan tertinggi agama Yahudi yang memiliki otoritas besar dalam urusan hukum, ibadah, dan kehidupan umat.
Dengan latar seperti itu, Nikodemus berdiri sebagai penjaga identitas iman Yahudi, pelindung Taurat, dan teladan kesalehan formal. Namun di balik kehormatan itu, ada kekosongan yang tidak mampu diisi oleh hukum.
Ia menguasai Kitab Suci, mematuhi peraturan, dan memahami tradisi nenek moyang. Meski demikian, hatinya tetap bertanya: Apakah semua ini cukup untuk hidup kekal? Kegelisahan inilah yang mendorongnya mengambil langkah berani datang kepada Yesus, diam-diam pada waktu malam.
Arti Nama dan Makna Pencarian
Nama Nikodemus berasal dari bahasa Yunani Nikodēmos, yang berarti “pemenang bagi rakyat” atau “kemenangan umat.” Nama itu mencerminkan status dan harapan besar yang melekat padanya. Sebagai pemimpin agama, ia diharapkan menjadi penjaga kebenaran dan penuntun umat. Ironisnya, justru ia sendiri sedang mencari kemenangan yang lebih dalam, bukan kemenangan hukum melainkan kepastian keselamatan.
Malam yang menjadi latar pertemuan itu bukan sekadar penanda waktu. Kegelapan melukiskan kondisi batin Nikodemus: penuh pengetahuan, tetapi belum menemukan terang sejati. Meski begitu, malam juga menghadirkan ruang aman bagi kejujuran. Dalam sunyi itulah dialog paling penting dalam sejarah iman Kristen berlangsung.
Baca juga: Tawaran Terakhir Abraham: Makna di Balik Sepuluh Orang Benar
Percakapan Antara Hukum dan Kasih Karunia
Nikodemus memulai percakapan dengan penuh hormat: “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah” (Yohanes 3:2). Ia tidak datang untuk menjebak, melainkan untuk memahami. Pengakuannya menunjukkan keterbukaan hati, walau masih terikat gengsi jabatan dan reputasi.
Yesus, sebaliknya, langsung menembus inti persoalan. Ia tidak membahas tanda atau mukjizat, melainkan kebutuhan terdalam manusia: “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Pernyataan ini mengguncang dunia teologi Nikodemus. Sebagai guru Israel, ia terbiasa berpikir dalam kerangka hukum, usaha, dan ketaatan. Konsep kelahiran kembali melampaui semua itu.
Dialog ini mempertemukan dua dunia: hukum yang mengatur dari luar dan kasih karunia yang mengubah dari dalam. Yesus menegaskan bahwa keselamatan tidak lahir dari status, silsilah, atau prestasi rohani, melainkan dari karya Roh. Di sinilah lahir salah satu doktrin terbesar Kekristenan: keselamatan oleh kasih karunia, diterima melalui iman, dan dimulai lewat kelahiran baru.
Pengetahuan Tanpa Kehidupan
Nikodemus memiliki pengetahuan agama, tetapi Yesus menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup. Hukum dapat membentuk perilaku, namun tidak mampu melahirkan hidup baru. Taurat bisa menuntun manusia pada kesadaran akan dosa, tetapi hanya kasih karunia yang sanggup membebaskan.
Yesus bahkan menegur dengan halus: “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal ini?” Teguran ini tidak merendahkan, melainkan mengundang refleksi. Banyak orang mengenal kebenaran secara intelektual, tetapi belum mengalaminya secara eksistensial. Nikodemus mewakili setiap pencari Tuhan yang sadar bahwa ritual tanpa transformasi hanya menyentuh permukaan.
Baca juga: Lidya: Keramahtamahan, Ketulusan, dan Warisan Iman
Keberanian Moral yang Bertumbuh
Perjalanan Nikodemus tidak berhenti di malam itu. Injil Yohanes mencatat kemunculannya kembali ketika para pemimpin Yahudi berusaha menangkap dan menghukum Yesus tanpa proses yang adil. Dalam sidang yang penuh emosi, Nikodemus bersuara: “Apakah hukum kita menghukum seseorang sebelum ia didengar dan diketahui perbuatannya?” (Yohanes 7:51).
Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi konteksnya sangat berisiko. Ia menantang arus mayoritas, meski dengan bahasa hukum yang hati-hati. Suaranya memang tenggelam, namun keberanian moralnya mulai muncul. Ia belum bersaksi terang-terangan tentang imannya, tetapi nuraninya tidak lagi diam.
Dari Malam Menuju Terang
Puncak transformasi Nikodemus terlihat setelah penyaliban Yesus. Ketika para murid tercerai-berai karena takut, Nikodemus justru tampil bersama Yusuf dari Arimatea. Ia membawa campuran mur dan gaharu dalam jumlah besar untuk meminyaki jenazah Yesus. Sebuah tindakan publik, mahal, dan penuh risiko.
Langkah ini menandai pergeseran besar. Nikodemus tidak lagi bersembunyi di balik malam. Ia berdiri di terang, mengidentifikasikan dirinya dengan Yesus yang disalibkan. Dari seorang pencari kebenaran yang ragu, ia berubah menjadi murid yang berani, meski tanpa kata-kata panjang.
Iman yang Melepaskan Gengsi
Kisah Nikodemus menegaskan satu kebenaran penting: pengetahuan agama tanpa kelahiran rohani hanyalah kulit tanpa jiwa. Iman sejati tidak dimulai ketika seseorang tahu banyak tentang Tuhan, melainkan ketika ia rela melepaskan gengsi, status, dan rasa aman yang palsu.
Nikodemus harus belajar bahwa keselamatan bukan hasil pencapaian, melainkan anugerah. Ia juga harus menerima bahwa kelahiran baru menuntut kerendahan hati, kesediaan untuk menjadi “bayi rohani” yang bergantung sepenuhnya pada Allah.
Harapan di Tengah Kegelapan
Akhirnya, kisah Nikodemus membawa pengharapan besar. Tidak ada kegelapan hati yang terlalu pekat bagi terang kasih karunia. Bahkan mereka yang lama hidup dalam struktur agama bisa mengalami pembaruan sejati. Allah tidak menolak pencari kebenaran yang datang dengan jujur, meski langkahnya masih tertatih.
Dalam setiap malam iman, selalu ada kesempatan untuk lahir kembali. Nikodemus membuktikan bahwa perjalanan menuju terang sering dimulai dengan pertanyaan sederhana dan hati yang mau diajar. Dari bayang-bayang hukum, ia melangkah menuju terang kehidupan dan kisahnya terus berbicara kepada setiap generasi pencari Tuhan.
Baca juga: Doa Yabes: Dilahirkan dalam Sakit, Hidup dalam Berkat
Baca juga: Kebun Anggur Nabot: Bahaya Keserakahan, Kebohongan, dan Penyalahgunaan Kuasa
Baca juga: Hikmat Salomo: Doa yang Membuat Tuhan Berkenan
Tidak ada komentar